Politisi Hanura Ini Ragu Presiden Mendatang Bisa Turunkan Angka Kemiskinan RI: Omong Kosong!

Politisi Partai Hanura. , Inaz Zubir

JAKARTA (KM)- Politikus senior Partai Hanura Inas N Zubir menilai target tiga pasangan capres-cawapres untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia hanya omong kosong belaka. Inas sapaanya mengaku ragu Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Prabowo-Gibran hingga Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar alias Cak Imin (AMIN) bakal menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.

 

Pasalnya, kemiskinan sendiri disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain upah minimum yang tidak memadai, rendahnya etos kerja masyarakat itu dan meningkatnya angka pengangguran setiap tahun. “Yang artinya bahwa kemiskinan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan hanya oleh negara saja, tapi juga tergantung dari kemampuan perusahaan dalam mengupah buruh, seberapa besar etos kerja masyarakat dan tingginya PHK akibat perusahaan bangkrut. Apakah ketiga pasangan Capres tersebut bisa mengendalikan itu semua? Omong kosong,” tegas Inas, Sabtu,(25/11/2023).

 

Inas menyarankan, agar para capres-cawapres dapat menjadikanpertumbuhan sektor riil sebagai target. Misalnya, kata Inas, berapa target investasi dalam 5 tahun kekuasaan mereka untuk menciptakan berapa banyak lapangan kerja.

 

“Atau seperti apa peningkatan kualitas sumber daya manusia agar dapat mengoptimalkan pendidikan dan pelatihan untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan inovatif, sehingga tidak perlu lagi import TKA,” papar Inas dikutip dari kedaipena.com. Inas lantas mempertanyakan apakah ketiga capres tersebut memiliki program-program untuk menunjang hal tersebut. Menurut Inas jika memiliki program-program tersebut maka kemiskinan akan menurun dengan sendirinya.

 

“Apakah ada program dari ketiga capres tersebut yang memiliki target diatas? padahal kalau target tersebut bisa dicapai, maka kemiskinan akan turun dengan sendirinya,” beber Inas.

 

Inas menambahkan, tren penurunan angka kemiskinan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya mampu menurunkan 2.51% saja dari tahun 2004 hingga tahun 2009.  Hal serupa, lanjut Inas, juga berlaku untuk di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang hanya mampu menurunkan angka kemiskinan sebesar 2.03% dari tahun 2014 hingga tahun 2019.

 

“Artinya bahwa tren tersebut dalam 5 tahun, paling tinggi hanya 2.5 persen saja, sedangkan tren penurunan dari tahun 2019 sebesar 9.41% hingga 2023 sebesar 9.36% yang justru tren-nya semakin mengecil hanya 0.5% saja! Sehingga angka kemiskinan yang ditagetkan oleh ketiga capres tersebut diatas terlalu absurd karena tidak membaca dan menganalisa data,” jelas Inas.

 

Diketahui, tiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pilpres 2024 telah menargetkan bisa mengurangi angka kemiskinan secara signifikan hingga di bawah 9% pada akhir masa kepemimpinannya pada 2029.

 

Pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar misalnya menargetkan mampu menurunkan angka kemiskinan ke level 4%-5% hingga 2029, Ganjar Pranowo-Mahfud MD di level 2,5% pada 2029, dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di level 6% pada akhir 2029.

 

rep: rso

Editor: red

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*