Pedoman Standar Perilisan Berita KUPAS MERDEKA

Tujuan Pedoman Ini

Di Kupas Merdeka, kami ingin mengembangkan potensi wartawan kami dari tingkat “informan” atau pelapor informasi menjadi jurnalis sejati. Karena itu, penting bagi kami untuk membantu pengembangan diri dan skill jurnalistik bagi setiap wartawan. Salah satunya, dengan pembekalan keahlian menulis yang rapih dan terstruktur untuk pemberitaan.

Yang paling memahami berita yang disampaikan adalah wartawan itu sendiri. Karena itu, seorang redaktur atau editor hanya bisa memastikan kebenaran dalam penggunaan tata bahasa dalam artikel berita yang diterima di redaksi. Begitu pun, karena banyaknya artikel berita yang diterima, editor pun terbatas dalam waktu yang bisa diluangkan untuk melakukan proofread terhadap setiap berita. Maka tanggung jawab utama berada di pihak wartawan untuk menyusun artikel berita yang sebaik dan serapih mungkin, mengandung informasi yang sebenar dan selengkap mungkin.

Menjadi Wartawan KUPAS MERDEKA (KM)

“Informasi Akurat dan Transparan”. Demikianlah slogan dari Kupas Merdeka. Akurat berarti setiap berita KM bisa dipercaya kebenarannya dan bisa dijadikan otoritas atau sumber informasi yang pantas bagi semua kalangan, baik itu pembaca biasa atau jurnalis dan akademisi yang mengumpulkan informasi untuk makalah terbarunya. Transparan berarti setiap berita KM bisa dipertanggungjawabkan ke setiap narasumbernya dan tidak ada yang disembunyikan.

Dalam menyajikan berita KM, keakuratan informasi tidak boleh dikorbankan demi kecepatan atau demi menarik pembaca. Begitu banyak media, khususnya media online, yang awalnya populer, kemudian surut akibat menurunnya kualitas pemberitaan ketika wartawan mereka mengejar popularitas artikel dan kecepatan. Media tersebut terjerumus dalam sensasionalisme dan akhirnya ditinggalkan pembaca. Di masa kini, pembaca sudah pandai memilah mana media yang bisa dipercaya, dan mana media yang patut dipertanyakan.

Diantara informasi yang harus dipastikan dalam pemberitaan adalah nama-nama orang, tempat atau institusi (berikut ejaan yang benar untuk nama tersebut), angka-angka, statistik, tanggal dan sebagainya. Hati-hati dengan kesalahan ejaan untuk setiap kata. Keakuratan bukan saja berasal dari kebenaran fakta yang mendasari pemberitaan, tapi juga dari kebenaran dalam penyampaian kabar tersebut sehingga berita yang disajikan menjadi otoritas, sesuai dengan slogan KM.

Bagian 1: Struktur Berita

Tidak semua media memiliki standar yang sama dalam pemberitaan. Segmen pembaca yang ditargetkan menentukan bahasa yang digunakan dalam berita. Di Kupas Merdeka, sebagai media berita umum, maka standar bahasa yang digunakan adalah standar bahasa pemberitaan yang baku. Tidak ada penggunaan bahasa sensasional dan sebagainya.

Di zaman internet masa kini dengan luasnya penggunaan media sosial, semua media online berpeluang menjadi otoritas berita yang bisa disebarkan oleh pembaca melalui Facebook, Twitter dan sebagainya. Pola ini mendobrak sistem segmentasi pasar dan kini kompetisi berada pada penyampaian berita yang akurat dengan bahasa yang rapih, dengan cepat.

Judul

Judul yang benar, selain lebih menarik, juga membantu calon pembaca menemukan berita tersebut ketika mencari informasi di Google. Dalam penulisan judul, perhatikan peraturan-peraturan berikut:

  1. Jangan menggunakan huruf kapital (huruf besar) semua, tapi gunakan kapital sesuai penggunaan dalam judul, seperti contoh ini:
    SALAH: KOTA BOGOR RAYAKAN HARI ULANG TAHUN KE-1000
    BENAR: Kota Bogor Rayakan Hari Ulang Tahun ke-1000
    Catatan: Perhatikan bahwa huruf depan setiap kata dalam judul menggunakan kapital, kecuali kata-kata sambung seperti: di, ke, dengan, dan
  2. Berikan judul yang lebih merinci tentang peristiwa dan tempat kejadian, seperti contoh:
    SALAH: Seorang Bocah Jatuh ke Sumur
    BENAR: Orangtua Lengah, Bocah 3 Tahun Jatuh ke Sumur
    SALAH: Sebuah Truk Tangki Terguling
    BENAR: Rem Blong, Truk Tangki Pertamina Terguling di Galuga
  3. Kalau menyampaikan opini narasumber, cantumkan narasumber dalam judul, seperti contoh:
    SALAH: Walikota Bogor Sesat Konstitusi
    BENAR: Aktivis Mahasiswa: “Walikota Bogor Sesat Konstitusi”
    SALAH: Kinerja Pemkab Bogor Jauh di Bawah Harapan
    BENAR: Anggap Infrastruktur Masih Berantakan, FMBB Beri Rapor Merah Kinerja Pemkab Bogor

Struktur Artikel

Setiap media online atau cetak memiliki ciri khas sendiri dalam membuka setiap artikel berita. Di Kupas Merdeka, standar untuk pembuka artikel berita adalah “KOTA (KM) –“ atau “KECAMATAN, KOTA (KM) – ” atau “KOTA, PROPINSI (KM) – ” atau “KOTA, NEGARA (KM) –”.

Contohnya, untuk peristiwa yang terjadi di kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, pembukanya adalah “JASINGA, BOGOR (KM) -” atau “BOGOR (KM) -”.

Dalam pembuka artikel di KM tidak menggunakan tanggal atau waktu.

Kalimat Pembuka

Kalimat pembuka untuk setiap artikel merupakan rangkuman secara keseluruhan tentang rincian peristiwa yang diberitakan. Format penulisan mirip seperti kalimat pembuka yang dibacakan oleh pewarta berita di televisi. Kalimat pembuka menambahkan sedikit rincian lebih terhadap judul.

Contoh judul: “Sadiq Khan Menjadi Walikota Muslim Pertama Kota London, Inggris”

LONDON, INGGRIS (KM) – Politisi Partai Buruh, Sadiq Khan telah memenangi pemilihan walikota di ibukota Inggris, London, dan dilantik menjadi walikota pada Sabtu 7/5. Anak dari seorang sopir truk, Sadiq Khan menjadi walikota pertama bagi kota besar di dunia Barat yang beragama Islam, dan berhasil mengatasi berbagai kontroversi yang dihembuskan tentang umat Islam di dunia Barat masa kini.

 

Contoh judul: “Kecelakaan Truk Tewaskan 2 di Galuga”

BOGOR (KM) – Sebuah truk tangki bermuatan BBM Premium jatuh ke dalam jurang dan menewaskan sang sopir dan kernet di Jalan Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pihak kepolisian menduga bahwa kecelakaan tersebut akibat rem blong sehinga sopir kehilangan kendali terhadap truk tersebut.

Foto Berita

Setiap berita KM harus disertai foto. Apabila tidak ada foto, maka boleh menggunakan ilustrasi, dengan mencantumkan nama sumber foto tersebut.

Foto juga harus disertai dengan keterangan mengenai apa dan siapa yang terlihat di foto itu, serta tanggal pengambilan foto.

Bagian 2: Kaidah Pengetikan

Penggunaan Huruf Kapital

Huruf kapital, atau huruf besar, hanya digunakan untuk huruf pertama kalimat, nama orang, nama tempat atau institusi, judul atau tema dari sebuah acara dan singkatan (seperti RT, RW, SMK, SMA dan sebagainya).

Huruf kapital tidak digunakan untuk mengawali angka-angka.

Dalam kata-kata akronim (seperti Polsek, Polda, Kapolsek, Kepsek, Kadiv humas dan sebagainya), cukup huruf pertama dijadikan kapital.

Penggunaan Spasi

Dalam mengetik berita, perhatikan standar dalam penggunaan spasi.

Gunakan spasi setelah tanda baca, seperti koma, titik, tanda kurung, tanda kutip (kecuali tanda kutip pembuka) dan titik dua.

Penggunaan Tanda Kutip

Tanda kutip harus selalu digunakan apabila mengutip pembicaraan atau Press Release. Gunakan tanda kutip pembuka dan penutup, dan tanda koma atau titik harus selalu berada sebelum tanda kutip penutup, seperti ini:

Kami akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Presiden juga mengatakan bahwa pihaknya akan “terus mengupayakan pelepasan sandera lainnya.”

Penggunaan Titik dan Koma

Salah penggunaan titik dan koma bisa berakibat fatal ketika apa yang difahami oleh pembaca  berbeda dengan apa yang dimaksud oleh wartawan. Maka gunakan titik dan koma sesuai penggunaan benarnya.

Perhatikan penggunaan titik di akhir kalimat, dan kalimat jangan terlalu panjang (lebih dari 3 baris).

Bagian 3: Kaidah Bahasa Indonesia dalam Artikel Pemberitaan

Penggunaan kata “di”

Kata “di” masih seringkali salah penggunaannya. Harus diingat bahwa “di” dan kata benda atau tempat selalu dipisah, dan “di” dengan kata kerja selalu disambung, contohnya:

Kata benda/tempat: di Bogor, di tempat, di rumahnya, di atas, di depan, di dalam.

Kata kerja: diingat, dijatuhkan, dibuka, ditutup, dirinci, dilantik.

Pencantuman Gelar dan Pangkat

Dalam pemberitaan standar, biasanya gelar pendidikan tidak dicantumkan, sedangkan pangkat polisi atau militer dicantumkan. Baik dicantumkan atau tidak, gelar atau pangkat tersebut hanya perlu dicantumkan pada penulisan pertama saja, dan tidak diulang lagi, contohnya:

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menaikkan pangkat 20 perwira tinggi kepolisian di Mabes Polri, Selasa 12/4.  Pada acara pelantikan tersebut, Kapolri menegaskan…

Kepala BNPT Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan pihaknya masih mengupayakan penangkapan gembong teroris Santoso. Tito juga menjelaskan bahwa saat ini kelompok Santoso sudah terisolasi.

Contoh lainnya: Presiden Joko Widodo (tidak perlu mencantumkan Ir. H. Joko Widodo), anggota DPR Ruhut Sitompul (tidak perlu mencantumkan gelar SH) dan sebagainya.

Ada kalanya gelar pendidikan dicantum, seperti dalam profil atau periklanan, untuk mengangkat nama seorang figur.

Penulisan angka

Tidak seperti dalam dokumen legal, penulisan angka cukup dengan karakter angkanya saja, jangan ditulis dalam huruf latin. Contohnya:

SALAH: Polisi menangkap 9 (sembilan) tersangka penyalahguna narkoba.
BENAR: Polisi menangkap 9 tersangka penyalahguna narkoba.

Dalam media online, penulisan angka dengan karakter angkanya dan bukan dengan huruf latin dianjurkan juga karena dianggap lebih efektif untuk meningkatkan popularitas sebuah artikel.

Penulisan waktu dan tanggal peristiwa

Dalam melaporkan peristiwa, biasanya cukup mencantumkan hari dan tanggalnya saja, tidak perlu mencantumkan waktu. Kecuali apabila pencantuman waktu itu penting sebagai detail peristiwa. Untuk penulisan tanggal, cukup mencantumkan tanggal dan bulannya, tanpa mencantumkan tahunnya.

Misalnya, kejadian kecelakaan atau perampokan perlu dicantumkan waktu kejadiannya. Sedangkan liputan sebuah acara tidak perlu mencantumkan waktunya. Bila dirasa perlu, cukup mencantumkan pagi/siang/malam, misalnya: Sabtu siang 7/5.

Mengutip Perkataan Narasumber

Dalam menyampaikan kutipan perkataan narasumber, anda dapat menggunakan kata-kata berikut ini untuk mengakhiri kutipan: terangnya, pungkasnya, tutupnya, tegasnya, bebernya, jelasnya, lanjutnya, tambahnya, paparnya, katanya, ujarnya, tuturnya, ucapnya.

Perkataan narasumber, selain dari ungkapan lisan, bisa juga dari status sosial media seperti Facebook dan Twitter. Khusus Twitter, akhiri kutipan dengan cuitnya. Sertakan pula status sosmed tersebut dalam berita menggunakan fitur “embed” atau “sematkan” di Twitter dan Facebook.

Mengutip Press Release

Seringkali kita menerima rilis pers atau “press release” yang bisa dikutip untuk pemberitaan. Press release tidak boleh dimuat secara mentah. Tujuan dari press release adalah untuk mengutip pernyataan sikap dari individu, institusi atau organisasi tertentu.

Dalam mengutip press release, gunakan teknik yang sama seperti mengutip pembicaraan narasumber. Namun jangan gunakan kata-kata “ujarnya” dan “ucapnya”, karena kata tersebut hanya digunakan untuk ungkapan secara lisan.

Mengutip Media Lain

Di KM, ada kalanya kita mendapatkan bahan berita yang mengutip media lain untuk mendapatkan detail tambahan atau kutipan.

Gunakan kata-kata “Seperti yang dilansir oleh Antaranews…”, atau “Dilaporkan oleh Kompas.com…”, atau “Menurut pemberitaan media Reuters…” di awal atau di akhir informasi tersebut.

Bagian 4: Pengiriman Berita

Apabila artikel anda sudah selesai, jangan lupa untuk mencantumkan nama pewarta dalam tanda kurung di akhir artikel.

Kirimkan artikel berita beserta foto dan keterangan fotonya melalui e-mail ke redaksi@kupasmerdeka.com atau langsung melalui WhatsApp ke redaktur atau grup Kupas Merdeka.