Negara Yang Dikutuk Tuhan: Israel dalam Kitab-kitab Samawi (PART 1)

"Ahab, Jezebel and Elijah" (christianimagesource.com)

Oleh Habib Syahdu, Penulis Buku “Perjumpaan dengan Iblis” dan “Misteri Al-Kahfi & Khidir

Alkisah, sekitar 3000 tahun lalu, ada sebuah negara yang dipimpin oleh seorang raja dzalim yang telah murtad dari agama leluhurnya dan beralih menyembah berhala.  Dia menikah dengan seorang wanita penyihir jahat dari kerajaan lain yang anti terhadap kitab suci dan kebudayaan kaum beriman. Namanya adalah Izabel dan dia punya pengaruh besar terhadap pemerintahan suaminya yang dikenal dengan nama Ahab. 

“Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata Tuhan lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya. Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat (raja pertama kerajaan Israel utara), maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Ba’al dan sujud menyembah kepadanya. (Al-Kitab, Raja-raja 16:30-31).

Dalam Al-Qur’an juga dikisahkan saat Nabi Ilyas menegur mereka: “Patutkah kalian menyembah Ba’al dan meninggalkan Allah sebaik-baik Pencipta? Allah adalah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu. (QS. Ash-Shaffaat:125-126).

Kedatangan Izabel dan rombongan kaumnya yang menyembah setan lambat laun tambah mewabah dan mulai mengendalikan kekuasaan. Mereka diberi kedudukan-kedudukan penting dalam pemerintahan Ahab sehingga dalam waktu singkat mereka melakukan konspirasi pembunuhan pada tokoh-tokoh oposisi. Tiap agamawan Bani Israil yang berpegang teguh pada ajaran Taurat pun mereka bantai. Destruksi agama dan budaya moral yang dilakukannya cukup berhasil merusak generasi anak muda Samaria. Dalam kurun waktu puluhan tahun saja, mereka berhasil menundukkan agama luhur dan mengubah budaya sehingga suku-suku yang terkumpul dalam kerajaan Israel utara menjadi generasi campuran aneka ras di luar pernikahan yang tak jelas garis keturunannya akibat maraknya kebebasan seksual. 

Rezim pemerintahan Ahab itu telah merampas tanah luas milik Nabot, sebuah negara yang kaya dengan hasil pertanian dan tanahnya yang begitu subur, dipenuhi kebun anggur yang dikelilingi pepohonan kurma dan air sungai yang memadai.

Kami beri dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara keduanya (kebun itu) Kami buatkan ladang. (QS. Al-Kahfi: 32).

Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air. (QS. Yasiin: 34)

Walau demikian, mereka tidak bersyukur dan bahkan menindas kaum buruh. Para pejabatnya berlaku semena-mena dan tidak mau memberi hak kaum miskin. Keserakahan dan sifat kikir sampai melekat menjadi watak mereka. 

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasiin: 47)

Mereka memberlakukan sistem Apartheid yang memerintah dengan kekuatan dan menanam rasa takut pada rakyat. Khususnya terhadap warga asli yang tidak sepaham dengan mereka.

Diutuslah Nabi Elia (Ilyas) untuk memberi peringatan terakhir atas Raja Ahab, namun ia malah sombong dengan segala kelebihan yang dimilikinya dan merendahkan sang Nabi. Dia berkata “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikutku juga lebih kuat.” (Al-Kahfi: 34).

—bersambung—

Komentar Facebook

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Negara Yang Dikutuk Tuhan: Israel dalam Kitab-kitab Samawi (PART 2) – KUPAS MERDEKA
  2. Negara Yang Dikutuk Tuhan: Israel dalam Kitab-kitab Samawi (PART 3) – KUPAS MERDEKA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*