Lawan Perkembangan Intoleransi, Tokoh-Tokoh Kota Bogor Deklarasikan ANAS-GETOL

Deklarasi ANAS-GETOL
Perwakilan Tokoh Masyarakat Kota Bogor yang mendeklarasikan Aliansi Nasionalis Gerakan Toleransi (ANAS-GETOL) pada Jumat siang (20/11)

Kota Bogor, 20/11/2015 (KM) – Perkembangan kelompok intoleran dan insiden-insiden intoleransi antarumat beragama dan keyakinan di kota Bogor yang semakin mengkhawatirkan mendorong sejumlah tokoh dan organisasi di Kota Bogor untuk menegakkan perlawanan dengan mendeklarasikan Aliansi Nasionalis Gerakan Toleransi, disingkat ANAS-GETOL, di Taman Topi, Jalan Kapten Muslihat, Bogor, siang tadi (20/11).

Dalam surat deklarasinya, diterangkan bahwa deklarasi tersebut tidak terlepas dari tindakan Walikota Bogor Bima Arya pada malam Asyura yang mengeluarkan surat Edaran yang melarang kegiatan tersebut yang diperingati oleh penganut Islam Syiah, yang kemudian surat tersebut dijadikan alat oleh kelompok intoleran yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) dalam menebar kebencian terhadap kelompok agama tertentu di Bogor.

Dalam hasil survey terhadap 94 kota di Indonesia tentang toleransi yang diumumkan oleh Setara Institute sebelumnya pada hari Senin 16/11, Kota Bogor menempati posisi terbawah, sebagai kota paling intoleran di Indonesia. Temuan ini juga menjadi salah satu faktor pendorong diadakannya deklarasi ANAS-GETOL ini.

Diantara tokoh dan organisasi yang membentuk Aliansi ini adalah GP Ansor, GMNI Bogor Raya, Kujang Lima, Jaringan Aktivis ProDEM, Persatuan Mahasiswa Kota Bogor, Himpunan Mahasiswa ISLAM (HMI), Forum Mahasiswa Bogor, Komunitas Pengurus Terminal Baranangsiang, Barisan Pemuda PAN, ALMISBAT, IPABI dan Koalisi Rakyat Menggugat.

Hadir memberikan orasi pada acara tersebut diantaranya Ketua GP Ansor Kota Bogor Rahmat Imron Hidayat, Pengurus PCNU Bogor Abdul Fatah, budayawan Kujang Lima dan Koordinator deklarasi Kemal Salim dan Ketua Yayasan IPABI Abdullah Assegaf.

“Surat Edaran yang semula hanya melarang perayaan Asyura pada hari itu telah mendorong sekelompok intoleran yang bergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah atau ANNAS untuk mendukung keputusan tersebut. Sikap intoleran tampaknya semakin kuat di kota Bogor, karena pasca surat Edaran, pada tanggal 22 November 2015 akan dideklarasikan ANNAS di kota Bogor. Pemerintah kota Bogor yang seharusnya menjadi representasi negara untuk melindungi semua kelompok agama ternyata dinodai dengan sikap Walikota yang tidak berdiri di atas konstitusi… Malah sebaliknya walikota telah berpihak kepada kelompok anti toleransi,” ujar Kemal Salim dalam orasinya.

Menyikapi deklarasi kelompok intoleran ANNAS, pengurus PCNU Abdul Fatah meluapkan amarahnya, “kami tidak terima kota Bogor disebut kota intoleran… Kalau pemerintah kota Bogor tidak membubarkan deklarasi ANNAS, maka kami yang akan membubarkannya!”

Dari Deklarasi ke DPRD

Anas Getol temui DPRD kota bogor (2)

Tokoh-tokoh ANAS-GETOL beraudiensi dengan anggota DPRD kota Bogor pada Jum’at 20/11 (dok. KM)

Setelah deklarasi, partisipan deklarasi ANAS-GETOL mendatangi gedung DPRD Kota Bogor dan bertemu dengan beberapa anggota DPRD di ruang rapat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Dalam pertemuan itu, ANAS-GETOL meminta agar DPRD dan Pemerintah lebih waspada terhadap gerakan kelompok intoleran yang berniat membawa konflik Timur Tengah ke Indonesia, dan meminta agar DPRD mendesak Muspida kota Bogor tidak mengizinkan ANNAS untuk melakukan aktivitas di kota Bogor, karena dianggap sangat berbahaya.

“Kalau negara tidak hadir, BANSER NU akan hadir,” tukas Ketua GP Ansor Kang Romi.

Menanggapi itu, perwakilan dari anggota DPRD berjanji akan menyampaikan surat deklarasi ANAS-GETOL kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti dalam waktu yang singkat karena acara ANNAS akan diadakan pada hari Minggu 22/11.

 

 

 

1 Trackback / Pingback

  1. Yayasan Satu Keadilan Gugat Presiden dan Walikota Soal Larangan Asyura | KUPAS MERDEKA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*