Ketika Hati Tertutup Kebencian Dan Kejahatan Dapat Membutakan Cahaya Iman
Kolom Oleh. Hero Akbar/Moses
Hati manusia pada dasarnya memiliki ruang untuk menerima kebenaran, kasih sayang, dan kebaikan. Namun, ketika hati terus menerus dipenuhi kebencian, iri dengki, kesombongan, serta niat berbuat jahat, perlahan-lahan hati nurani bisa kehilangan kepekaannya.
Bukan berarti Allah SWT menutup pintu hidayah bagi hamba-Nya tanpa alasan. Namun, manusia yang terus memelihara keburukan, menolak nasihat, dan membenarkan kejahatannya sendiri dapat semakin jauh dari petunjuk Allah.
Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 10 bahwa di dalam hati orang-orang yang memiliki penyakit terdapat penyakit, dan Allah menambah penyakitnya karena keburukan yang terus mereka lakukan.
Inilah pelajaran penting bagi kehidupan: hati yang dipenuhi kebencian akan sulit melihat kebaikan, sementara hati yang dikuasai kesombongan akan sulit menerima kebenaran.
Kebencian tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menggerogoti ketenangan batin. Orang yang terus mencari kesalahan orang lain sering kali lupa memperbaiki dirinya sendiri. Ia lebih sibuk menghakimi daripada melakukan introspeksi.
Padahal, agama mengajarkan bahwa sebelum menunjuk keburukan orang lain, setiap manusia perlu memeriksa keadaan hatinya sendiri.
Jangan sampai lisan rajin berbicara tentang agama, tetapi perilaku justru menyakiti sesama. Jangan sampai terlihat saleh di hadapan manusia, tetapi menyimpan dendam, fitnah, iri hati, dan kezaliman di dalam dada.
Namun, selama manusia masih hidup, pintu taubat dan kesempatan memperbaiki diri tetap terbuka. Tidak ada manusia yang dapat memastikan seseorang telah kehilangan hidayah Allah.
Oleh karena itu, pendidikan hati jauh lebih penting daripada sekadar memperindah penampilan. Kekayaan, jabatan, dan kecerdasan tidak akan berarti banyak bila tidak disertai akhlak dan kerendahan hati.
Ingat, bukan banyaknya ilmu yang membuat manusia mulia, melainkan bagaimana ilmu itu melahirkan akhlak. Bukan kerasnya suara ketika mengingatkan orang lain, melainkan ketulusan hati dalam memperbaiki diri.
Mari jaga hati dari kebencian, jauhkan diri dari kejahatan, dan jangan pernah lelah memohon petunjuk Allah SWT.
Sebab hati yang bersih akan lebih mudah menerima kebenaran, dan manusia yang dekat dengan Allah akan berusaha menghadirkan manfaat, bukan menyebarkan kebencian.
Ya Allah, jangan biarkan hati kami diperbaiki setelah Engkau memberikan petunjuk. Bersihkan hati kami dari kebencian, kebencian, iri dengki, dan segala perbuatan yang Engkau murkai.
Wallahu a’lam bishawab
*) Pendiri media kupas merdeka
Leave a comment