Jejak Atlantis di Nusantara: Membaca Hipotesis Sundaland dan Misteri Lapisan Budaya Gunung Padang
CIANJUR (KM) – Diskusi mengenai misteri keberadaan benua hilang Atlantis kini kembali menghangat dan menarik perhatian luas di ruang publik. Salah satu hipotesis yang paling menyita perhatian adalah adanya keterkaitan geografis yang erat antara gambaran kota legendaris versi filsuf Yunani kuno, Plato, dengan kawasan daratan purba Nusantara yang dikenal sebagai Sundaland, serta hubungannya dengan perkembangan riset Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat.
Pakar geoarkeologi terkemuka dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Danny Hilman Natawidjaja, secara konsisten mengemukakan adanya kecocokan signifikan dalam aspek geologis.
Catatan sejarah yang ditulis Plato dalam dialog Timaeus dan Critias dinilai memiliki kemiripan yang sulit diabaikan jika disandingkan dengan karakteristik fisik wilayah Sundaland pada masa lampau, yang didukung oleh bukti-bukti struktur bawah permukaan.
Berdasarkan kajian keilmuan, Sundaland merupakan sebuah daratan raksasa yang pernah menyatukan Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Semenanjung Malaya pada masa akhir Zaman Es.
Wilayah yang luas dan subur ini menjadi pusat ekosistem yang hangat di belahan bumi selatan, sebelum akhirnya sebagian besar kawasannya tenggelam di bawah permukaan laut akibat pencairan es kutub secara masif dan cepat pada akhir periode glasial.
Menurut hipotesis yang dikembangkan Prof. Danny, deskripsi Plato mengenai Atlantis memiliki tingkat kemiripan hingga 90 persen dengan kondisi geologis Sundaland.
Ciri-ciri seperti wilayah yang beriklim tropis, kepemilikan dua musim, kekayaan mineral logam yang melimpah, hingga kepunahan peradaban yang dipicu oleh bencana katastrofi banjir besar, dinilai sangat selaras dengan lini masa sejarah tenggelamnya daratan purba Nusantara tersebut.
Dalam perkembangan riset terbarunya, Prof. Danny memaparkan bahwa Situs Gunung Padang tidak hanya terdiri atas satu periode melainkan memiliki tiga lapisan budaya terpisah.
Lapisan pertama di permukaan luar berupa punden berundak diperkirakan berumur 3.000 hingga 4.000 tahun. Lapisan kedua berada di bawahnya dengan estimasi usia 7.500 hingga 8.000 tahun, sedangkan lapisan ketiga merupakan struktur terdalam yang terkubur dan terindikasi menembus usia prasejarah belasan ribu tahun.
Lebih lanjut, tim peneliti menggunakan pemindaian tomografi seismik dan Electric Resistivity Tomography (ERT) untuk memetakan isi perut situs. Hasil analisis menunjukkan adanya anomali resistivitas tinggi yang selaras dengan anomali kecepatan rendah, yang mengindikasikan kuat eksistensi rongga atau ruang kamar tersembunyi buatan manusia (man-made cavities) di dalam bukit.
Indikasi ini diperkuat oleh terjadinya fenomena kehilangan volume air secara signifikan saat operasional pengeboran inti dilakukan. Namun, lompatan teori kebudayaan prasejarah ini memicu polemik tajam hingga berujung pada penarikan (retraction) makalah ilmiah tim lokal oleh penerbit jurnal internasional Archaeological Prospection pada tahun 2024.
Pihak jurnal menyatakan adanya kesalahan besar terkait penerapan penanggalan karbon pada sampel tanah yang dinilai belum bisa diasosiasikan secara sahih dengan artefak buatan manusia. Kendati demikian, wacana arkeologi konvensional ini tetap disikapi terbuka demi menjaga iklim akademis yang sehat.
Menanggapi keputusan sepihak tersebut, Prof. Danny secara tegas melayangkan hak jawab ilmiah dan menyatakan bahwa tidak ada manipulasi atau pemalsuan data dalam laporan riset mereka. Pihak peneliti menegaskan bahwa polemik ini murni dipicu oleh perbedaan sudut pandang interpretasi antara ahli geologi dan arkeolog arus utama.
Ke depan, tim riset merencanakan pengeboran visual khusus menggunakan kamera mikro ke dalam rongga bawah tanah guna memberikan bukti empiris mutlak yang transparan kepada komunitas sains global.
Reporter: Drajat
Leave a comment