U-Ditch Rusak dan Nilai Kontrak Berbeda, Proyek Drainase Terminal Leuwiliang Jadi Sorotan

Papan kegiatan Perbaikan Saluran Drainase Terminal Tipe B Leuwiliang, Bogor, yang pertama terpasang. Dok Foto: Istimewa

LEUWILIANG (KM) – Proyek perbaikan saluran drainase di Terminal Tipe B Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menjadi sorotan publik setelah ditemukan kerusakan pada material U-Ditch yang baru terpasang dan adanya perbedaan nilai kontrak yang terpampang di lokasi proyek.

 

Pantauan wartawan di lapangan pada Senin (5/10) menampilkan sejumlah penutup U-Ditch yang berhasil keretakan. Bahkan terdapat satu bagian U-Ditch yang tampak terbelah menjadi dua.

 

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan dan material yang digunakan, mengingat proyek tersebut baru selesai dikerjakan dan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2026.

 

Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, pekerjaan tersebut bernama Perbaikan Saluran Drainase Terminal Tipe B Leuwiliang, terletak di Terminal Leuwiliang, Kecamatan Leuwiliang. Proyek dilaksanakan oleh CV Maya Sona dengan konsultan pengawas PT Prisma Karya Utama, dengan waktu pelaksanaan 70 hari kalender.

 

Kejanggalan lain muncul pada nilai kontrak. Pada papan proyek awal yang terpasang saat pekerjaan berlangsung, nilai kontrak tercantum sebesar Rp403.929.000. Namun saat wartawan melakukan konfirmasi lanjutan, muncul papan proyek baru dengan nilai berbeda yakni Rp356.643.000. Selisih sekitar Rp47,2 juta tersebut menimbulkan tanda tanya besar.

 

Papan Kegiatan Perbaikan Saluran Drainase dengan Nominal yang Berubah Pasca Selesai Pengerjaan dan Perbaikan U-Ditch yang Rusak. Dok Foto: Istimewa

 

Kepala UPTD Pengelola Prasarana Perhubungan LLAJ Wilayah I Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dadang Kosasih, mengaku kaget dengan perbedaan tersebut. Ia mencatat data yang dimilikinya mencatat nilai kontrak sebesar Rp356.643.000.

 

“Coba cek ke lokasi. Jujur saya kaget kok bisa begini. Saya akan memanggil pelaksananya,” ujar Dadang saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon WhatsApp, Rabu (7/10).

 

Sementara itu pelaksana pekerjaan, Ismet, memberikan klarifikasi terkait dua hal tersebut. Terkait perbedaan nilai kontrak, Ismet mengakui adanya kesalahan cetak pada papan proyek.

 

Awal di angka 403 juta dan kita udah diperbaiki, udah kita perbaiki sesuai budget yang ada ya, di angka 300 lebih,” ungkap Ismet kepada wartawan, Rabu (7/10).

 

Sebelumnya, terkait kerusakan U-Ditch, Ismet membantah jika hal itu disebabkan kualitas material yang buruk. Menurutnya, bagian yang pecah terjadi akibat proses pembongkaran yang dilakukan pekerja menggunakan linggis untuk mengatasi gorong-gorong yang mampet.

 

“Jadi itu kan ada mampet ya gorong-gorongnya, sama pekerja dibongkar pakai linggis jadi terbelah dua. Dan itu sudah diperbaiki,” ujar Ismet pada Selasa (6/10).

 

Ismet menyebutkan akan melakukan perbaikan kembali untuk bagian yang retak dan memastikan pekerjaan tersebut masih dalam masa garansi selama enam bulan. “Kalau yang retak-retak itu mungkin nanti ada perbaikan kembali, menunggu setengah bulan lah. Jadi enggak diperbaiki satu-satu, tapi sekalian,” katanya.

 

Di sisi lain, Kepala Terminal Leuwiliang, Wahyu Hidayat, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pelaksana terkait material yang retak dan terbelah. Menurutnya, perbaikan akan segera dilakukan dan sambil menunggu perbaikan, memasang penghalang di sekitar bagian yang rusak untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

 

“Untuk material yang retak dan terbelah, kami telah mengonfirmasi kepada pelaksana dan segera akan diperbaiki. Sementara menunggu proses perbaikan, bagian yang retak maupun terbelah akan kami beri penghalang terlebih dahulu,” ujar Wahyu.

 

Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu penjelasan transparan mengenai penyebab kerusakan U-Ditch yang baru disertakan dan izin administrasi terkait perbedaan nilai kontrak. Terlebih lagi proyek tersebut menggunakan anggaran pemerintah sehingga kualitas pekerjaan dan akuntabilitas anggaran menjadi hal yang wajib dipastikan sejak pembangunan hingga masa pemeliharaan.

 

Reporter: Septiawan

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA

Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.