Nama “Muhammad” Adalah Nama Mulia
Kolom oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki-
Beberapa hari terakhir, kita kembali dikejutkan bahkan terusik oleh pernyataan-pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dapat dimaknai sebagai penghinaan, bahkan kebencian terhadap kelompok tertentu. Dua pernyataannya yang paling menyita perhatian dan terasa menyebalkan adalah:
Pertama, ketika menyinggung serangan rudal Iran, ia dengan nada mengejek meneriakkan, “Allah is great, Allah is great” (Allahu Akbar, Allahu Akbar).
Kedua, ketika menyinggung calon Senator Muslim pertama, Abdul El-Sayed, dengan berkata, “Saya tidak mau memanggilnya Abdul, tapi Mohammed.” Pernyataan itu dilanjutkan dengan label “radikal, ekstrem, dan berbahaya bagi Amerika,” seraya mengulang-ulang kata “Muhammad” seolah mengolok dan mempermainkan. Jujur saja, ketika menonton pidato itu, saya sempat berpikir Presiden Amerika itu seperti sedang kemasukan jin jahat.
Saya pribadi sebenarnya hampir tidak lagi merasa terusik dengan apa yang disampaikan Donald Trump. Semua orang tahu, ketika lidahnya bergerak dan mulutnya bersuara, suara itu seringkali kehilangan nilai dan makna. Kicauan burung dan gonggongan anjing pun bisa jadi lebih bermakna. Berbagai kicauan dan gonggongan Trump justru hanya membuka aib bahkan menjadi aib bagi seorang Presiden dari sebuah negara yang mengklaim dirinya sebagai bangsa yang berperadaban tinggi.
Muhammad, Nama yang Mulia dan Dicintai
Beberapa waktu lalu, di Inggris dan Prancis, dilakukan jajak pendapat tentang nama yang paling populer. Hasilnya tidak mengejutkan: Muhammad menjadi nama yang terpopuler. Bahkan karena begitu banyaknya orang yang memakai nama Muhammad, mengidentifikasi seseorang dengan nama itu kerap menjadi rumit. Sebagai seseorang yang nama depannya Muhammad, saya sendiri seringkali harus menjelaskan, saya ini Muhammad yang mana.
Nama ini bermakna “dia yang sangat terpuji”. Dari kata “hamida – yahmadu – hamdan – mahmud wa Muhammadan”. Pemberian nama ini adalah sebuah harapan dan doa agar pemiliknya mulia dan terpuji dalam perilaku dan karakternya.
Kakek Rasulullah, Abdul Muthalib, secara khusus memilihkan nama ini untuk cucunya sebagai doa dan harapan agar kelak cucunya menjadi sangat terpuji di mata Tuhan dan manusia. Dan itu terbukti. Pujian itu tidak hanya datang dari para pengikutnya yang menjadikannya teladan, tetapi juga dari mereka yang tidak menerimanya sebagai Nabi dan Rasul. Michael Hart, misalnya, menempatkannya sebagai “Pemimpin terhebat sepanjang sejarah manusia”.
Karena itu, memperolok-olok dan menghina nama Muhammad tidak akan pernah mengurangi kemuliaan dan kehormatannya di mata manusia, apalagi di mata Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Olokan Presiden Trump tidak akan merendahkan secuil pun kehormatan Muhammad SAW, manusia terbaik dan termulia yang pernah hadir di muka bumi ini.
Ada beberapa kemungkinan mengapa seseorang seperti Donald Trump terobsesi mengolok-olok nama “Muhammad”. Mungkin karena kebencian, kebodohan, atau karena hilangnya rasa malu sehingga tidak lagi mampu membedakan mana yang baik dan bermoral dan mana yang salah dan amoral. Bisa juga karena ketamakan, sehingga kepentingan politik telah merusak moralitas pribadinya untuk bersikap sensitif dan menghormati orang lain.
Entah mengapa, ketika menyebut nama Abdul, ia mengoloknya dengan sebutan “Muhammad”. Namun ketika menyebut nama Pangeran Saudi, Muhammad bin Salman, ia justru memujinya setinggi langit. Mungkin di situlah Allah membukakan realita kerakusan duniawi dan kemunafikan seseorang.
Sebagai warga negara Amerika, seorang imigran seperti halnya imigran-imigran lainnya, termasuk mereka yang datang dari Eropa, saya merasa malu dan risih dengan Presiden kami sendiri yang telah kehilangan rasa malu dan kemuliaan. Sudah saatnya bangsa Amerika menatap ke depan dan mengoreksi kesalahan yang pernah terjadi dengan memilih seorang Presiden yang seringkali bersikap kekanak-kanakan dan tidak mencerminkan kepresidenan (unpresidential).
What an embarrassment!
Kampoeng, 19 Oktober 2026
Leave a comment