Jabatan Bukan Alat untuk Berkuasa: Ketika Amanah Berubah Menjadi Kesombongan

Hero Akbar/ Moses - Pendiri kupasmerdeka.com

Kolom oleh Hero Akbar/ Moses

Apa yang sebenarnya harus kita sombongkan dalam hidup?

Jabatan? Kekuasaan? Harta? Atau kemampuan membuat orang lain takut kepada kita?

Pertanyaan ini penting bagi siapa pun yang sedang memegang kekuasaan. Sebab jabatan bukan mahkota, melainkan amanah. Kekuasaan bukan milik pribadi, melainkan tanggung jawab.

Celakalah ketika seseorang mulai menganggap jabatan sebagai hak istimewa untuk dilayani, bukan kewajiban untuk melayani.

Lebih berbahaya lagi ketika kekuasaan digunakan untuk menekan, mengintimidasi, menguntungkan kelompok sendiri, menutup kritik, atau memperlakukan rakyat seolah-olah mereka tidak memiliki hak untuk bertanya.

Di situlah amanah mulai kehilangan maknanya.

Seorang pejabat boleh memiliki kewenangan, tetapi kewenangan bukan berarti bebas melakukan apa saja. Ada aturan yang harus dihormati, ada rakyat yang harus dilayani, ada hati nurani yang harus dijaga, dan dalam keyakinan agama, ada pertanggungjawaban kepada Allah SWT.

Jangan sampai kursi kekuasaan membuat seseorang lupa bahwa sebelum menjadi pejabat, ia adalah manusia biasa. Dan setelah tidak lagi menjabat, ia pun kembali menjadi manusia biasa.

Hari ini bisa dipanggil “Yang Terhormat”. Besok bisa saja tidak ada lagi yang memanggil dengan gelar itu.

Hari ini bisa memberikan perintah. Suatu hari nanti kita sendiri yang tidak berdaya memberikan perintah apa pun.

Karena itu, jangan gunakan jabatan untuk membangun ketakutan. Gunakan jabatan untuk membangun keadilan.

Jangan gunakan kekuasaan untuk membungkam kritik. Gunakan kekuasaan untuk memperbaiki kekurangan.

Jangan manfaatkan rakyat demi kepentingan pribadi. Sebaliknya, manfaatkan kesempatan yang diberikan rakyat untuk menghadirkan kemaslahatan.

Kritik terhadap penyalahgunaan jabatan bukanlah kebencian kepada pejabat. Kritik justru dapat menjadi pengingat bahwa kekuasaan memiliki batas dan setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Sebab kekuasaan yang tidak mau dikritik berisiko kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.

Dalam perspektif moral dan agama, yang harus ditakuti bukan kehilangan jabatan, melainkan kehilangan amanah.

Jabatan bisa dicari. Kekuasaan bisa diperoleh. Harta bisa dikumpulkan.

Tetapi ketika kepercayaan manusia dan ridha Allah hilang, apa yang sebenarnya tersisa?

Pada akhirnya, seluruh manusia akan menghadapi kematian.

Hidup adalah anugerah. Mati adalah takdir. Jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah ujian.

Maka jangan bangga karena mampu memerintah banyak orang.

Banggalah jika selama diberi kewenangan, kita mampu melindungi yang lemah, berlaku adil, menolak penyalahgunaan kekuasaan, mendengar kritik, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Sebab ukuran kebesaran manusia bukan seberapa banyak orang yang takut kepadanya.

Ukuran kebesaran adalah seberapa banyak orang yang merasa aman, terbantu, dan mendapatkan keadilan karena keberadaannya.

Jangan sampai ketika jabatan berakhir, yang tersisa bukan kenangan tentang kebaikan, melainkan daftar panjang orang-orang yang pernah merasa dizalimi.

Karena pada akhirnya, semua jabatan akan selesai.

Semua kekuasaan akan berakhir.

Semua manusia akan kembali kepada-Nya.

Maka selagi masih hidup, jangan gunakan jabatan untuk memanfaatkan manusia. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Itulah kekuasaan yang memiliki nilai.

Dan itulah amanah yang layak dipertanggungjawabkan.

*)-Pendiri Media Kupas Merdeka

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.