Wafat di Bogor, Terus Menggema di Purwakarta: Jejak Kanjeng Dalem Sholawat yang Menyatukan Sejarah Dua Kota

Keterangan foto: Perwakilan keluarga keturunan Kanjeng Dalem Sholawat diundang dalam acara Milangkala Kabupaten Purwakarta.(Dok:KM)

BOGOR (KM) — Sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan-bangunan megah atau pencapaian para pemimpin pada zamannya. Sejarah dibangun oleh orang-orang yang meletakkan fondasi pertama sebuah peradaban. Mereka mungkin telah lama wafat, tetapi gagasan, perjuangan, dan pengabdiannya terus hidup melintasi zaman.

Di antara tokoh yang memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Purwakarta adalah Kanjeng Dalem Sholawat.

Meski makamnya berada di Kota Bogor, jejak perjuangannya justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lahir dan tumbuhnya Purwakarta. Inilah mengapa masyarakat masih mengenangnya sebagai salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah daerah tersebut.

Beliau wafat di Bogor, namun sejarahnya terus hidup di Purwakarta.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan, melainkan refleksi bahwa jasa seorang tokoh tidak dibatasi oleh tempat ia dimakamkan. Pengabdian yang tulus akan selalu menemukan ruang hidup dalam ingatan masyarakat yang menghargai sejarahnya.

Momentum itu kembali terasa dalam Rapat Paripurna Hari Jadi Purwakarta. Dalam pidatonya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mengenang masa-masa awal kehidupannya ketika pertama kali menetap di Sindangkasih, sebelum kemudian berpindah ke Sukarata. Dari kawasan sederhana itulah perjalanan panjangnya dimulai hingga menjadi anggota DPRD, Wakil Bupati, Bupati Purwakarta selama dua periode, anggota DPR RI, dan kini dipercaya memimpin Provinsi Jawa Barat.

Penyebutan nama Sindangkasih menjadi menarik bukan semata karena alasan geografis. Dalam riwayat keluarga Kanjeng Dalem Sholawat serta berbagai tradisi lisan yang masih diwariskan, kawasan tersebut juga dikenal sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan beliau ketika merintis wilayah yang kemudian berkembang menjadi Purwakarta.

Tentu sejarah tidak dibangun di atas kebetulan. Namun menarik ketika dua tokoh dari dua abad yang berbeda sama-sama memiliki keterkaitan dengan ruang sejarah yang sama. Yang satu dikenang sebagai perintis yang meletakkan fondasi peradaban, sementara yang lain dikenal sebagai pemimpin yang membangun dan menghidupkan kembali identitas budaya Purwakarta.

Pertemuan dua narasi sejarah itu terasa semakin bermakna dengan hadirnya Raden Muhammad Padmanegara, perwakilan keluarga Kanjeng Dalem Sholawat dari Kota Bogor, yang didampingi Founder Bela Purwakarta, Aa Komara.

Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi menjadi simbol bahwa hubungan antara keluarga para pendiri Purwakarta dengan perjalanan daerah ini masih terus terjalin hingga hari ini.

Dalam kesempatan tersebut, keluarga menyampaikan rencana penyelenggaraan Haul ke-154 Kanjeng Dalem Sholawat yang akan dilaksanakan di Kota Bogor. Raden Muhammad Padmanegara juga menyampaikan undangan kepada Gubernur Jawa Barat untuk hadir sebagai tamu kehormatan.

Bagi keluarga besar, haul bukanlah sekadar tradisi tahunan atau rangkaian doa untuk mengenang seorang leluhur. Haul adalah upaya menghidupkan kembali memori kolektif sebuah bangsa terhadap para pendirinya.

Ia menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kepada generasi muda, siapa tokoh-tokoh yang telah membangun daerah ini, bagaimana mereka mengabdikan hidupnya bagi masyarakat, serta mengapa sejarah tidak boleh tercerabut dari akar budayanya.

Sebab kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari tingginya gedung, lebarnya jalan, atau megahnya infrastruktur. Kemajuan juga diukur dari kemampuannya menghormati para pendahulu yang telah meletakkan dasar peradaban.

Daerah yang besar adalah daerah yang mampu membangun masa depan tanpa melupakan sejarahnya.

Di sinilah kisah Kanjeng Dalem Sholawat menghadirkan sebuah renungan yang patut dipikirkan bersama.

Beliau dimakamkan di Kota Bogor, tetapi jejak sejarah dan pengabdiannya justru terus bergema di Purwakarta. Purwakarta merawat ingatan itu melalui narasi sejarah, penghormatan kepada para pendiri, dan ruang-ruang kebudayaan yang terus menghidupkan identitas daerah.

Sementara itu, Bogor sebagai tempat peristirahatan terakhir beliau sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama untuk semakin memperkenalkan tokoh-tokoh bersejarahnya kepada masyarakat luas.

Sebab kekayaan terbesar sebuah kota bukan hanya taman kotanya, bangunan-bangunan bersejarahnya, atau perkembangan infrastrukturnya, melainkan juga kemampuannya merawat ingatan terhadap orang-orang yang telah berjasa membangun peradaban.

Warisan sejarah tidak cukup hanya dijaga di dalam arsip. Ia perlu dihadirkan dalam ruang publik, pendidikan, kegiatan kebudayaan, hingga menjadi bagian dari identitas kota. Ketika generasi muda mengenal para pendirinya, mereka tidak hanya mewarisi nama-nama besar, tetapi juga mewarisi nilai perjuangan, keteladanan, dan rasa memiliki terhadap daerahnya.

Barangkali inilah saat yang tepat bagi semua pihak di Bogor untuk kembali membuka lembar-lembar sejarahnya sendiri. Bukan karena sejarah itu telah hilang, melainkan karena sejarah yang terus dikenang akan menjadi sumber kebanggaan dan arah bagi pembangunan di masa depan.

Dalam konteks itulah, Kanjeng Dalem Sholawat tetap memiliki relevansi hingga hari ini. Beliau tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi tentang arti kepemimpinan, pengabdian, dan kecintaan terhadap tanah yang dibangunnya.

Pertemuan keluarga Kanjeng Dalem Sholawat dengan Gubernur Dedi Mulyadi menjadi simbol yang sarat makna. Seorang tokoh yang terus hidup melalui warisan sejarah bertemu dengan seorang pemimpin yang dikenal melalui karya pembangunan dan pelestarian budaya.

Dua generasi dipertemukan oleh satu nilai yang sama: penghormatan terhadap sejarah.

Pada akhirnya, setiap pemimpin akan meninggalkan zamannya. Namun hanya sedikit yang akan terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Kanjeng Dalem Sholawat telah wafat di Bogor. Tetapi selama Purwakarta masih menghormati sejarahnya, selama masyarakatnya masih menjaga ingatan terhadap para pendiri, dan selama nilai-nilai pengabdiannya tetap diwariskan, beliau akan terus hidup di Purwakarta.

Barangkali, itulah makna terdalam dari sebuah haul: bukan sekadar mengenang mereka yang telah tiada, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan agar tetap menjadi cahaya bagi generasi hari ini dan masa depan.

Reporter: Ki Medi
Editor: Drajat

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.