Ketika Pemburu Berubah Menjadi Buruan: Jika Oknum Bermain, Siapa Lagi yang Dipercaya Rakyat

(Dok:KM)

Oleh: Hero Akbar/Moses *)

(KM) – Perang terhadap narkoba selama ini selalu dikumandangkan sebagai perang tanpa kompromi. Negara menggelontorkan anggaran besar, aparat dikerahkan hingga ke pelosok negeri, sementara rakyat diminta menjadi mata dan telinga untuk melawan peredaran barang haram yang telah merusak masa depan generasi bangsa.

Namun, seluruh narasi itu bisa runtuh dalam sekejap ketika muncul dugaan bahwa oknum aparat yang diberi mandat memberantas narkoba justru terlibat dalam pusaran kejahatan yang seharusnya mereka perangi.

Jika dugaan itu benar, maka yang hancur bukan hanya citra satu orang, melainkan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Sebaliknya, jika dugaan tersebut tidak terbukti, proses hukum yang transparan tetap penting agar nama baik pihak yang bersangkutan dipulihkan. Negara hukum menuntut setiap tuduhan dibuktikan melalui proses yang adil.

Pertanyaan rakyat sederhana, tetapi sangat menyakitkan: bagaimana mungkin jaringan narkoba bisa diberantas jika ada oknum penegak hukum yang justru diduga menjadi bagian dari persoalan?

Narkoba bukan lagi sekadar bisnis haram. Ia telah menjadi mesin pembunuh perlahan yang menghancurkan keluarga, merusak moral anak bangsa, dan menggerogoti masa depan Indonesia. Karena itu, setiap dugaan keterlibatan aparat harus dipandang sebagai ancaman serius terhadap upaya pemberantasan narkotika.

Yang dibutuhkan bukan sekadar konferensi pers atau slogan “perang terhadap narkoba”. Yang dibutuhkan adalah keberanian membersihkan institusi dari dalam. Tidak boleh ada jabatan yang menjadi tameng. Tidak boleh ada pangkat yang menjadi perisai. Dan tidak boleh ada kekuasaan yang menghalangi penegakan hukum.

Rakyat tidak menuntut aparat menjadi manusia sempurna. Rakyat hanya meminta satu hal: kejujuran dan keberanian menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Indonesia tidak akan pernah benar-benar menang melawan narkoba jika perang itu hanya diarahkan kepada pengedar di jalanan, sementara dugaan keterlibatan oknum di balik layar dibiarkan tanpa penanganan yang transparan.

Jika ada dugaan terhadap siapa pun, termasuk pejabat kepolisian, maka penyelidikan harus dilakukan secara independen, profesional, dan terbuka. Apabila terbukti bersalah berdasarkan putusan hukum yang berkekuatan tetap, hukum harus ditegakkan tanpa kompromi. Jika tidak terbukti, negara juga wajib memulihkan kehormatan yang bersangkutan.

Musuh terbesar pemberantasan narkoba bukan hanya bandar dan sindikat. Musuh yang paling berbahaya adalah hilangnya integritas. Ketika integritas runtuh, kepercayaan rakyat ikut roboh. Dan ketika kepercayaan rakyat hilang, perang melawan narkoba hanya akan menjadi slogan yang bergema di podium, tetapi kalah di lapangan.

Editorial ini bukan untuk menghakimi seseorang, melainkan mengingatkan bahwa integritas aparat adalah benteng terakhir dalam menyelamatkan Indonesia dari ancaman narkotika. Benteng itu tidak boleh retak. Apalagi runtuh.

*) Penulis adalah Aktivis Bogor, Pendiri Media Kupas Merdeka.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.