Menjalankan Hidup antara Syariat dan Hakikat
Kolom oleh Hero Akbar / Moses *)
Dalam perjalanan kehidupan seorang Muslim, terdapat dua aspek penting yang tidak dapat dipisahkan, yaitu syariat dan hakikat. Keduanya ibarat tubuh dan ruh yang saling melengkapi. Syariat menjadi pedoman lahiriah dalam menjalankan perintah Allah SWT, sedangkan hakikat menjadi ruh yang menghidupkan setiap amal agar bernilai di sisi-Nya.
Syariat mengajarkan manusia tentang tata cara ibadah, muamalah, serta batasan antara yang halal dan haram. Melalui syariat, seorang Muslim belajar disiplin menjalankan salat, berpuasa, menunaikan zakat, menjaga amanah, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Syariat menjadi pagar yang menjaga manusia agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.
Namun, menjalankan syariat semata tanpa memahami hakikatnya berpotensi menjadikan ibadah hanya sebatas rutinitas. Di sinilah pentingnya hakikat, yaitu kesadaran batin bahwa setiap amal dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Hakikat mengajarkan keikhlasan, ketundukan, rasa syukur, serta kecintaan kepada Sang Pencipta.
Ketika seseorang melaksanakan salat, misalnya, syariat mengatur gerakan, bacaan, dan waktunya. Sedangkan hakikat menghadirkan kekhusyukan, rasa takut, harap, dan kedekatan kepada Allah SWT. Syariat mengajarkan bagaimana beribadah, sementara hakikat mengajarkan untuk siapa ibadah itu dilakukan.
Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahwa syariat tanpa hakikat dapat melahirkan kekeringan spiritual, sedangkan hakikat tanpa syariat dapat menyesatkan karena tidak memiliki landasan yang benar. Oleh sebab itu, keduanya harus berjalan seiring. Syariat menjadi jalan, sedangkan hakikat menjadi tujuan.
Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, manusia sering kali terjebak pada aspek formalitas dan simbol semata. Tidak sedikit yang rajin beribadah, namun masih mudah menyakiti sesama, berlaku zalim, atau mengabaikan nilai-nilai kejujuran dan kasih sayang. Padahal, buah dari syariat yang dijalankan dengan pemahaman hakikat adalah lahirnya akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT tidak hanya melihat banyaknya amal, tetapi juga keikhlasan dan ketakwaan yang melandasinya. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya terus berupaya memperbaiki kualitas ibadah lahiriah sekaligus membersihkan hati dari riya, kesombongan, dan penyakit batin lainnya.
Menjalankan hidup dengan syariat dan hakikat berarti berusaha taat kepada aturan Allah SWT sekaligus menghadirkan kesadaran bahwa seluruh kehidupan ini adalah bentuk pengabdian kepada-Nya. Ketika keduanya bersatu, maka lahirlah pribadi yang tidak hanya saleh dalam ibadah, tetapi juga mulia dalam akhlak, bermanfaat bagi sesama, serta senantiasa mencari ridha Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya.
“Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi, a’thini mahabbataka wa ma’rifataka.”
Ya Allah, Engkaulah tujuanku dan ridha-Mulah yang kucari. Anugerahkanlah kepadaku cinta-Mu dan ma’rifat kepada-Mu.
Semoga setiap langkah kehidupan yang kita jalani senantiasa berada dalam bimbingan syariat dan diterangi cahaya hakikat, sehingga mengantarkan kita menuju derajat takwa dan memperoleh ridha Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
*) Penulis adalah Aktivis Bogor , Pendiri Media Kupas Merdeka
Leave a comment