Long Live People Power: Ketika Suara Rakyat Menjadi Kekuatan Perubahan
Oleh: Hero Akbar / Moses *)
(KM) – “People Power” bukan sekadar slogan politik. Ia adalah simbol bahwa kekuasaan sejatinya berasal dari rakyat. Sejarah dunia telah berkali-kali membuktikan bahwa ketika masyarakat bersatu memperjuangkan keadilan, perubahan yang sebelumnya dianggap mustahil dapat menjadi kenyataan.
Kita mengenal bagaimana gerakan rakyat di Filipina pada tahun 1986 berhasil mengakhiri rezim yang dianggap otoriter melalui aksi massa yang relatif damai.
Begitu pula di Indonesia, gelombang demonstrasi mahasiswa dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang mendorong berakhirnya era pemerintahan yang telah berkuasa selama puluhan tahun.
Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa rakyat bukan sekadar objek kebijakan, melainkan subjek utama dalam kehidupan demokrasi.
Namun, People Power bukan hanya tentang turun ke jalan. Makna yang lebih mendalam adalah kesadaran kolektif warga negara untuk mengawasi kekuasaan, mengkritisi kebijakan yang dianggap keliru, serta berpartisipasi aktif dalam menentukan arah bangsa.
Demokrasi tidak hidup hanya saat pemilu berlangsung, tetapi juga ketika masyarakat berani menyuarakan pendapat dan menuntut akuntabilitas dari para pemegang jabatan publik.
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini—mulai dari kesenjangan ekonomi, dugaan penyalahgunaan anggaran, hingga kebijakan yang dinilai kurang berpihak kepada rakyat—semangat People Power tetap relevan.
Bukan sebagai ajakan untuk menciptakan kekacauan, melainkan sebagai pengingat bahwa pemerintah harus selalu mendengar suara masyarakat yang menjadi sumber legitimasi kekuasaannya.
Kritik yang disampaikan secara damai dan konstitusional bukan ancaman bagi negara. Justru kritik adalah vitamin demokrasi. Negara yang sehat adalah negara yang tidak takut mendengar keluhan rakyatnya.
Sebaliknya, ketika suara publik diabaikan, ketidakpercayaan akan tumbuh dan jarak antara penguasa dengan masyarakat semakin melebar.
Karena itu, “Long Live People Power” seharusnya dimaknai sebagai seruan untuk menjaga partisipasi publik, memperkuat budaya kritis, dan memastikan bahwa kekuasaan selalu berjalan di jalur kepentingan rakyat.
Sebab dalam demokrasi, gedung pemerintahan boleh berdiri megah, jabatan boleh berganti, tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan: rakyat adalah pemilik sah kedaulatan.
Ketika rakyat bersatu dalam kesadaran, keberanian, dan tujuan yang sama, tidak ada kekuasaan yang terlalu besar untuk diawasi, dan tidak ada perubahan yang terlalu mustahil untuk diperjuangkan.
*) Penulis adalah Aktivis Bogor dan Pemerhati Sosial
Leave a comment