Film “Yohanna” Tayang di Bioskop 9 April 2026, Angkat Luka Kemanusiaan dari Sumba yang Menggetarka
Jakarta (KM) – Film Yohanna bukan sekadar tontonan. Ia hadir sebagai cermin keras realitas sosial yang selama ini luput dari perhatian, sekaligus menggugah nurani tentang arti kemanusiaan yang sesungguhnya.
Tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 April 2026, film garapan sutradara Razka Robby Ertanto ini membawa penonton menyelami kehidupan masyarakat di Sumba—wilayah yang indah, namun menyimpan banyak luka sosial yang jarang tersorot.
Mengisahkan seorang biarawati muda yang menjalankan misi kemanusiaan pasca bencana, Yohanna berkembang menjadi refleksi tajam tentang realitas: terbatasnya akses pendidikan, layanan kesehatan yang timpang, kemiskinan struktural, hingga anak-anak yang kehilangan masa kecil mereka.
“Sejak awal, saya ingin film ini berpijak pada realisme. Apa yang terjadi di Sumba adalah kenyataan. Yohanna bukan sekadar cerita, tapi pengalaman hidup,” ungkap Razka.
Dengan pendekatan alur linear, film ini dirancang agar pesan kemanusiaan tersampaikan secara utuh dan lebih mudah diterima oleh publik luas tanpa kehilangan kedalaman emosinya.
Produser Eksekutif Wendra Lingga menegaskan bahwa film ini lahir dari panggilan hati, bukan semata ambisi komersial.
“Kami membuat film ini dengan hati. Tidak ada ekspektasi lain selain bagaimana pesan kemanusiaan itu benar-benar sampai,” ujarnya.
Ia bahkan menekankan bahwa nilai kemanusiaan melampaui sekat apa pun.
“Saya beragama Buddha, tapi saat melihat cerita ini, saya merasa terpanggil. Kemanusiaan tidak mengenal agama, suku, atau latar belakang.
Ini tentang kita semua.”
Diproduksi oleh Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film, serta dibintangi oleh Laura Basuki, Yohanna telah lebih dulu menuai pengakuan internasional.
Film ini melakukan debut dunia di International Film Festival Rotterdam 2024 dan meraih penghargaan Best Direction di Jakarta Film Week 2024.
Tak hanya itu, di Jogja-NETPAC Asian Film Festival, film ini memborong lima penghargaan sekaligus: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Storytelling Terbaik, Akting Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.
Lewat perjalanan Yohanna, penonton diajak menyadari satu hal sederhana namun dalam: harapan selalu lahir di tengah keterbatasan. Di balik luka, selalu ada ruang untuk kasih, solidaritas, dan perubahan.
“Yohanna adalah pengingat kuat bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal melampaui sekat apa pun, dan tetap hidup di tengah dunia yang rapuh,” tutup Wendra.
Reporter: Syaipul/Ucok
Leave a comment