AS–Israel Disebut Berpotensi Kuasai Selat Hormuz, Pengamat Soroti Ketimpangan Kekuatan Militer
JAKARTA (KM) — Pengamat politik dan keamanan internasional, Dr Jerry Massie, PhD, menilai potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat, terutama terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Menurut Jerry, dari sisi kekuatan militer, posisi Amerika Serikat jauh lebih unggul dibandingkan Iran.
“Perang antara Amerika dan Iran secara kekuatan militer sebetulnya tidak berimbang. Amerika unggul di darat, laut, dan udara,” ujar Jerry dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, Amerika memiliki pasukan elit seperti Delta Force di darat dan Navy SEALs di laut, serta didukung teknologi militer mutakhir, termasuk pesawat tempur F-22 Raptor, F-35, hingga pembom siluman B-2 Spirit.
Selain itu, Amerika juga memiliki sistem persenjataan canggih, mulai dari rudal pertahanan udara Patriot dan THAAD, hingga rudal jelajah Tomahawk dan rudal balistik antarbenua Minuteman III.
“Teknologi militer Amerika dikenal presisi tinggi, termasuk sistem rudal dengan metode hit-to-kill,” katanya.
Di sisi lain, Iran tetap menjadi salah satu kekuatan militer utama di Timur Tengah. Berdasarkan Global Firepower Index, Iran berada di peringkat belasan dunia dengan ratusan ribu personel aktif.
Namun, Jerry menilai kekuatan militer Iran mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, terutama di sektor laut.
“Kekuatan militer Iran disebut berkurang cukup besar, sehingga memengaruhi daya tahannya dalam menghadapi tekanan militer,” ujarnya.
Iran diketahui memiliki ratusan pesawat tempur, ribuan tank, serta puluhan kapal selam. Meski demikian, negara tersebut tidak memiliki kapal induk seperti yang dimiliki Amerika Serikat.
Terkait Selat Hormuz, Jerry memperkirakan Amerika Serikat berpotensi mengambil langkah cepat untuk mengamankan kawasan tersebut.
“Saya kira Amerika akan menguasai dan merebut Selat Hormuz dalam waktu dekat,” kata dia.
Ia menyebutkan, sekitar 50.000 pasukan Amerika telah disiagakan di sejumlah pangkalan militer di Timur Tengah, termasuk di Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Oman.
Operasi tersebut, lanjut dia, kemungkinan juga akan melibatkan kapal induk utama Amerika Serikat seperti USS Gerald Ford, USS George Bush, dan USS Abraham Lincoln, serta dukungan militer Israel.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Iran terkait rencana operasi militer di Selat Hormuz.
Sejumlah analis menilai, setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas global, terutama harga energi dan keamanan jalur perdagangan internasional.
Reporter: rso
Leave a comment