KNPI Kabupaten Bogor: Antara Ego Kepemimpinan dan Masa Depan Pemuda
Kolom oleh Hero Akbar N/Moses *)
Kisruh kepemimpinan di tubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bogor kembali menjadi sorotan.
Dualisme kepengurusan yang mencuat bukan sekadar konflik internal biasa, melainkan cerminan krisis kedewasaan berorganisasi di tengah harapan besar masyarakat terhadap peran strategis pemuda.
KNPI selama ini diposisikan sebagai rumah besar organisasi kepemudaan (OKP).
Ia bukan milik satu kelompok, bukan pula panggung untuk ambisi personal. Ia adalah wadah kolektif yang seharusnya menjadi ruang konsolidasi gagasan, energi, dan kontribusi pemuda bagi pembangunan daerah, khususnya di Kabupaten Bogor.
Namun realitas yang terjadi justru sebaliknya. Dualisme kepemimpinan menghadirkan kebingungan legitimasi, memecah konsentrasi, dan berpotensi menghambat program kerja.
Lebih jauh lagi, konflik ini berdampak langsung pada kepercayaan publik dan pemerintah daerah dalam menjalin kemitraan, termasuk menyangkut dukungan anggaran. Ketika organisasi tidak solid, wajar jika pemerintah berhati-hati.
Yang lebih memprihatinkan, konflik semacam ini mengirim pesan yang kurang baik kepada generasi muda. Bagaimana mungkin KNPI berbicara tentang persatuan pemuda jika di internalnya sendiri belum mampu menyatukan perbedaan? Bagaimana mungkin ia menjadi motor perubahan jika energinya habis untuk pertarungan legitimasi?
Persoalan ini sejatinya bukan tentang siapa yang paling sah, melainkan tentang siapa yang paling mampu mengedepankan kepentingan bersama. Dalam dinamika organisasi, perbedaan pilihan adalah hal wajar. Namun setelah kompetisi selesai, yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk menerima, berdialog, dan mencari titik temu.
KNPI Kabupaten Bogor kini berada di persimpangan jalan.
Jika konflik terus dipelihara, maka yang dikorbankan bukan hanya nama baik organisasi, tetapi juga masa depan gerakan kepemudaan di daerah ini. Sebaliknya, jika momentum ini dijadikan ruang evaluasi—untuk memperkuat mekanisme musyawarah, memperjelas tata kelola, dan menegaskan komitmen pada AD/ART—maka kisruh ini bisa menjadi titik balik menuju organisasi yang lebih matang.
Pemuda Bogor membutuhkan teladan, bukan tontonan konflik.
Mereka membutuhkan ruang aktualisasi yang sehat, bukan tarik-menarik kepentingan. KNPI seharusnya menjadi simbol integritas dan solidaritas, bukan simbol perpecahan.
Sudah saatnya seluruh pihak yang terlibat menurunkan ego, mengedepankan dialog, dan menempatkan kepentingan pemuda di atas segalanya. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling bertanggung jawab menjaga marwah organisasi.
Jika pemuda ingin dihormati sebagai agen perubahan, maka kedewasaan dalam menyelesaikan konflik adalah langkah pertama yang harus dibuktikan.
*)- Pendiri kupasmerdeka.com
Leave a comment