Proyek Pemeliharaan Jalan Chairil Anwar Kota Bekasi Disorot, Diduga Tak Sesuai Spesifikasi
BEKASI (KM) — Proyek Pemeliharaan Berkala Jalan Chairil Anwar di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, yang didanai dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun Anggaran 2025, menuai sorotan publik. Sejumlah pihak mempertanyakan kualitas pekerjaan pengaspalan yang diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.
Berdasarkan pantauan awak media di lokasi proyek selama beberapa hari pelaksanaan, pengaspalan jalan sepanjang kurang lebih 850 meter tersebut diduga mengalami pengurangan volume pekerjaan. Pada sejumlah titik, lapisan aspal terlihat hanya digelar satu lapis, padahal dalam perencanaan teknis seharusnya dilakukan dua lapis.
Proyek ini dikerjakan oleh PT Sinar Bintang Surya dengan nilai kontrak sekitar Rp 4,4 miliar.
Selain dugaan pengurangan ketebalan, kondisi permukaan aspal di beberapa titik tampak bergelombang dan tidak rata. Hal tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa lapisan aspal berpotensi mudah terkelupas dalam waktu relatif singkat.
Tak hanya itu, pada pekerjaan Pelapisan Aspal Resap Perekat (prime coat), diduga terjadi penambahan air yang berlebihan sehingga daya ikat antara lapisan aspal tidak optimal.
Sesuai spesifikasi teknis, total ketebalan lapisan aspal seharusnya mencapai 10 sentimeter, terdiri atas lapisan Asphalt Concrete – Binder Course (AC-BC) setebal 6 sentimeter dan lapisan Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) setebal 4 sentimeter.
Sementara itu, Pelaksana Teknis (Peltek) dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, Ridwan Muarif, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi terkait dugaan tersebut.
Menanggapi hal ini, pemerhati pembangunan infrastruktur Kota Bekasi, Samuel T., menyayangkan sikap pejabat teknis yang tidak merespons pertanyaan media.
“Seharusnya pejabat teknis bisa menjalankan tugasnya secara profesional dan memberikan penjelasan kepada publik, bukan justru memilih diam,” ujar Samuel, Senin (29/12/2025).
Samuel menilai, jika benar terdapat pengaspalan yang hanya dilakukan satu lapis di sebagian ruas jalan, maka hal tersebut berpotensi melanggar spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
“Kalau ketebalan tidak sesuai perencanaan, kualitas jalan tentu terancam. Ini menyangkut uang negara dan keselamatan pengguna jalan,” katanya.
Menurut dia, pekerjaan infrastruktur harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab karena berdampak langsung pada masyarakat. Ketidaksesuaian spesifikasi dikhawatirkan membuat jalan cepat rusak dan membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Samuel berharap DBMSDA Kota Bekasi dapat melakukan evaluasi menyeluruh dan memberikan sanksi tegas apabila ditemukan pelanggaran dalam pelaksanaan proyek tersebut.
“Jika ada indikasi pengurangan volume pekerjaan, aparat penegak hukum juga perlu bersikap aktif. Pengelolaan keuangan negara harus diawasi secara ketat,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek maupun DBMSDA Kota Bekasi belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut.
Reporter: Den
Leave a comment