Ricuh di Gedung DPRD, Aktivis GMNI Kritik Pemerintah di Hari Peringatan HUT ke-393 Kabupaten Tangerang
TANGERANG (KM) – Rapat Paripurna Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-393 Kabupaten Tangerang di Gedung DPRD pada Senin (13/10/2025) mendadak ricuh. Empat aktivis mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Tangerang melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah dan DPRD di tengah jalannya acara resmi tersebut.
Acara yang turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh nasional, termasuk Wakil Presiden RI periode 2019–2024 Ma’ruf Amin, sempat terhenti beberapa menit. Keheningan ruang sidang pecah ketika para aktivis membentangkan kertas bertuliskan “DPRD Miskin Ide” dan menyerukan agar pemerintah segera bertindak menyelamatkan warga Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, yang diduga terdampak pencemaran udara dan lingkungan akibat aktivitas industri di wilayah tersebut.
Petugas keamanan dari Satuan Intelkam Polresta Tangerang segera bergerak mengamankan situasi. Ketiga aktivis digelandang keluar dari ruang rapat, bahkan salah satu di antaranya sempat terjatuh saat didorong menuruni tangga gedung DPRD.
Usai kejadian, Ketua DPC GMNI Kabupaten Tangeran, Endang Kurnia, menegaskan bahwa aksi mereka bukan bentuk anarkisme, melainkan panggilan moral terhadap situasi yang dinilai semakin jauh dari semangat keadilan sosial.

“Peringatan HUT ke-393 ini seharusnya menjadi momentum refleksi. Bukan ajang seremonial untuk saling memuji keberhasilan semu. Masih banyak rakyat yang terabaikan, terutama mereka yang ruang hidupnya dirampas oleh industri,” ujar Endang.
Ia juga menyoroti lemahnya peran DPRD dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap perusahaan yang merusak lingkungan, serta menilai pemerintah daerah lebih sibuk menjaga citra ketimbang menegakkan keadilan bagi rakyat.
“Pembangunan yang mengorbankan rakyat bukanlah kemajuan. Jika DPRD dan pemerintah diam, maka mahasiswa akan terus bersuara di mana pun dan kapan pun,” tegasnya.
Menanggapi insiden tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang menyampaikan agar seluruh pihak dapat menahan diri dan menjadikan kejadian itu sebagai pelajaran bersama.
“Ke depan kita harus lebih saling menghargai. Paripurna ini milik masyarakat juga,” ujar Sekda.
Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri di tengah peringatan hari jadi Kabupaten Tangerang yang semestinya menjadi ajang evaluasi bersama. Alih-alih berjalan khidmat, momentum tersebut justru menyingkap jarak antara suara rakyat dan kursi kekuasaan di daerah.
Reporter: Luky, HSMY
Editor: Drajat
Leave a comment