KUPAS KOLOM : Dilema Puan Menjadi Presiden

Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi
Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi

Oleh Uchok Sky Khadafi, Direktur Center For Budget Analysis (CBA)

Puan Maharani adalah Ketua DPR. Ia terkenal bukan karena anak kandung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, atau cucu dari Presiden Soekarno. Puan Maharani, dikenal dan dikenang, lantaran sengaja mematikan mic saat Sidang Paripurna Omnibus Law.

Dan satu lagi yang tidak bisa dilupakan terkait lelaku Puan, adalah air matanya. Ternyata Puan bisa terisak isak menangis, mengeluarkan air mata, air mata politik di depan publik. Air mata Puan menetes pada masa Presiden SBY, bukan masa Presidennya Jokowi meskipun sama-sama tukang menaikkan BBM.

Setelah air mata politik dan mematikan mic, kini Puan sedang digadang-gadang untuk menjadi calon presiden. Calon presiden dari kaum abangan, yang partainya PDI Perjuangan itu. Yang sampai saat ini pencalonan Puan, tidak ada saingan sama sekali dari internal partai tersebut.

Meskipun ada nama GP (Ganjar Pranowo) yang muncul sebagai saingan kuat Puan untuk calon presiden. Tetapi nasib GP tidak seberuntung seperti Jokowi. Nasib GP bakalan dicuekin PDIP walaupun elektabilitas GP sangat tinggi dibandingkan Puan. Sebentar lagi GP akan “ditampar” partai sendiri, disuruh pergi jauh meninggalkan PDIP jika GP ingin tetap bersaing dengan Puan.

Dengan demikian Puan tinggal sendiri. Yang saat ini, sedang menimbang-nimbang mencari atau memilih pasangan yang cocok untuk “dinikahkan” denganya. Bisa saja dengan Prabowo Subianto atau bisa juga dengan Anies Baswedan.

Kedua calon pasangan ini salah satunya layak disandingkan dengan Puan. Apalagi kedua calon pasangan Puan ini mempunyai elektabilitas yang tinggi untuk memenangkan Puan sebagai Presiden atau wakil Presiden.

Dari selera Puan sepertinya lebih nyaman dan menguntungkan berpasangan atau dinikahkan dengan Anies Baswedan dibandingkan Prabowo Subianto. Ketika Puan berpasangan dengan Anies Baswedan, Puan bisa memilih sebagai nomor satu atau menjadi calon Presiden. Tapi, ketika berpasangan dengan Prabowo Subianto, Puan harus puas hanya sebagai wakil presiden.

Selain itu, ketika Puan sudah berpasangan dengan Anies Bawesdan, maka Anies diharapkan bisa sebagai magnet yang menarik kaum oposisi dan massa Islam politik atau Islam radikal untuk masuk ke dalam barisan koalisi Puan-Anies tersebut. Dengan modal massa Islam ini, dan akan ditambah dengan massa PDIP, diprediksi mereka bisa menang dalam Pilpres 2024 nanti.

Advertisement

Memilih Anies Bawesdan sebagai pasangan Puan karena dianggap sebagai ikon oposisi terhadap pemerintahan Jokowi. Kaum oposisi dan Islam politik menganggap Anies satu-satunya gubernur yang berani melawan pemerintahan Jokowi. Dengan alasan inilah mereka sangat mengidolakan Anies dibandingkan Prabowo sebagai presiden selanjutnya untuk menggantikan Presiden Jokowi.

Prabowo dianggap oleh kaum oposisi dan Islam Politik sudah bunuh diri politik setelah menjadi menterinya Jokowi. Prabowo lebih mengejar jabatan menteri daripada menjadi pemimpin umat untuk mengontrol jalannya kekuasaan pemerintahan Jokowi. Makanya banyak dari mereka lari atau meninggalkan Prabowo, dan lalu mendekati dan mengangkat Anies sebagai pemimpin mereka.

Dengan pertimbangan Anies lebih dekat dengan kaum oposisi dan Islam politik, Puan sepertinya lebih memilih Anies dibandingkan Prabowo. Prabowo dianggap sudah ditinggalin massa Islam politik sebagai pendukung utama. Dan massa Islam politik tersebut sudah menjadi pendukung fanatik Anies Bawesdan.

Dan ketika persekutuan Puan-Anies sudah terbentuk, maka hal ini menjadi fenomena luar biasa dalam politik. Sekali lagi, betul-betul luar biasa bisa menyatukan massa pendukung Puan dan Anies dalam bingkai kepentingan bersama. Padahal sebelumnya kedua massa pendukung ini adalah musuh bebuyutan dalam politik praktis yang tidak bisa didamaikan.

Oleh karena, yang namanya musuh Islam politik ialah orang-orang PDIP itu sendiri, bukan pribadi Presiden Jokowi. Ketika Presiden Jokowi salah dalam kebijakannya, yang diolok-olok atau disalahkan oleh kaum Islam politik bukan Jokowi, atau Luhut Binsar Pandjaitan. Tetapi kalau tidak Ibu Megawati Soekarnoputri, ya bisa partai PDI Perjuangan sendiri.

Jadi, menyatukan massa Puan dengan Anies seperti mempertemukan air dan minyak yang tidak akan bersatu selamanya dalam dunia politik persilatan. Tetapi, kalau ingin ngotot mempersatukan Puan-Anies di KPU, maka prediksi yang terjadi adalah massa Islam politik akan kabur meninggalkan Anies Bawesdan dan Puan Maharani, dan akan kembali lagi mendukung Prabowo lagi.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: