Mengulik Sejarah Potehi, Wayang yang Sempat Dilarang di Indonesia

DEPOK (KM) – Bangsa Indonesia terkenal dengan keragaman seni dan budayanya. Namun, tidak sedikit pula budaya warisan para leluhur yang tenggelam atau mati suri bahkan nyaris dilupakan oleh negeri ini, slah satunya ialah kesenian Wayang Potehi.

Dirangkum dari Intisari online yang menggelar acara dialog Intisari edisi histori yang bertemakan “Menggali Potehi yang Hampir Mati” bersama nara sumber dengan Dwi Woro Retno Mastuti, Dosen sastra dan budaya Jawa Universitas Indonesia dan dipandu oleh YDS Pandu Surono selaku jurnalis majalah Intisari, pada Jumat (04/02), diterangkan bahwa perjalanan wayang potehi ke Indonesia tidak memiliki catatan resmi, namun dapat dilihat dari terjadinya migrasi masyarakat Tiongkok pada abad ke-18 ke daerah selatan.

Dwi Woro juga menjelaskan awal mulanya ia menemukan potehi dan akhirnya bergelut dalam dunia tersebut bermula dari keinginannya untuk menulis desertasi dan diberikan petunjuk wayang potehi.

“Ada alasan yang akademis dan ada juga yang spiritual. Saya ingin menulis desertasi itu saya mohon petunjuk dari Allah dan saya mendapatkan, itu yang spiritual,” terangnya.

“Kemudian saya akhirnya ada petunjuk berupa Cina Jawa yaitu tahun 2000an saya bergiat di dunia itu dan akhirnya saya menemukan banyak sekali data naskah kuno Cina Jawa yang belum terungkap, belum dibahas, belum diolah secara akademis. Saya sampai mendapatkannya di Berlin juga di Prancis kemudian di seluruh pulau Jawa juga dan itu jumlahnya ada sekitar 150 naskah kuno Cina Jawa berbahasa Jawa beraksara Jawa yang mengisahkan cerita-cerita legenda klasik,” lanjutnya.

Advertisement

Dwi Woro menjelaskan, perjalanan wayang potehi awalnya hanya dikenal di lingkungan Tionghoa seperti di klenteng-klenteng, bisa sebagai keperluan ritual bisa pula sebagai hiburan. Namun, di masa orde baru, wayang potehi dilarang di tampilkan lagi.

“Dengan larangan PP Nomor 14 Tahun 67 pelarangan budaya Tionghoa, wayang potehi mulai dilarang kurang lebih hanya untuk di klenteng saja, jadi sejak itulah satu generasi warga Tionghoa tidak mengenal wayang potehi lagi,” jelasnya.

Dwi woro juga mengungkapkan pelestarian wayang potehi ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun harus bersinergi dengan pihak lainnya.

“Lestarikan wayang potehi ini, pekerjaan seperti ini tidak bisa dilakukan sendiri, tapi kita harus bersinergi antara pemerintah antara pengusaha dan juga akademisi dan media. Tanpa 4 unsur itu sepertinya tidak mungkin sebuah gerakan budaya seperti potehi yang udah mati ya, nah itu bisa diperkenalkan kembali, tetapi Saya bersyukur bahwa selama hampir 22 tahun ini, 4 unsur itu terjadi dengan sendirinya. Saya berterima kasih dengan teman-teman media yang selalu mengulik potehi dari saya dan teman-teman,” ungkapnya.

“Kemudian juga yang belum adalah penelitian tentang potehi itu. Saya selama ini tetap melakukan riset mandiri, jadi ya saya kerjakan saja sendiri karena saya cukup paham lingkungannya. Kemudian dari pengusaha itu juga diperlukan kemitraan untuk menjadi pembina dalam pengembangan. Nah itu belum ada juga. Saya berharap ada perusahaan yang menjadi pembina kegiatan budaya seperti yang kami lakukan,” pungkasnya.

Reporter : Elok, Alfa

Editor : Sudrajat

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: