Ridwan Manatik Sajikan Karya “Monumen Televiksi” Untuk Ajak Masyarakat Lebih Bijak Menonton Televisi

Seniman Rumah Anak Bumi Kecamatan Parungpanjang Kabupaten Bogor (Dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)
Seniman Rumah Anak Bumi Kecamatan Parungpanjang Kabupaten Bogor (Dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)

BOGOR (KM) – Sebanyak 51 perupa mengikuti Parade Pameran Tunggal yang digelar secara serentak hingga 2 Februari 2022 mendatang. Parade pameran tunggal yang baru diadakan pertama kalinya tersebut diadakan di puluhan studio dan art space yang tersebar di wilayah Jabodetabek.

Acara pembukaan Parade Pameran Tunggal 51 Perupa ini digelar di WEICHERT Studio, Jl. Margasatwa Barat, No.42, RT 014 / RW 8, Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan diresmikan langsung oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid.

Penggagas kegiatan ini, Bosen2020, juga menggelar kegiatan lain untuk menyertai parade pameran ini, antara lain lokakarya, bincang dengan para seniman, webinar, art performance, dan lain sebagainya.

“Pameran bermula dari kebiasaan melakukan kulturahmi ke berbagai ruang kerja para seniman di Jabodetabek,” kata William Robert, yang menggagas berdirinya jejaring budaya Bosen2020 dalam siaran pers yang diterima wartawan pada Selasa, 30 November 2021.

William mengaku kegigihan para seniman yang terus berkarya meski dalam kondisi yang terbatas. Dari situlah, ia menggagas Parade Pameran Tunggal 51 Perupa itu.

Kegiatan ini, kata William, dirancang untuk menampilkan semangat dan ketangguhan para seniman kepada publik. 

Secara keseluruhan, ada ratusan karya yang hendak dipamerkan. Ratusan karya itu meliputi lukisan, skesta, drawing, kramik, instalasi, patung, digital video art, dan lain-lain.

“Pameran ini bisa diakses secara langsung di venue tiap pameran di berbagai tempat, di 51 ruang pamer,” jelasnya.

“Selain para apresiator bisa melihat pameran ini secara langsung, gelaran seni rupa ini juga bisa diapresiasi secara online,” ucapnya.

Ia menegaskan, kegiatan ini berbeda dengan program open studio, meskipun sebagian besar perupa menghadirkan karya-karyanya dalam sebuah pameran tunggal di studio masing-masing. 

“Setiap seniman menyelenggarakan pameran tunggal, selayaknya sebuah pameran di ruang pamer lainnya,” katanya.

William menuturkan, kegiatan ini juga diadakan sebagai upaya menghidupkan ekosistem berkesenian di Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok dan sekitarnya. 

Lewat langkah tersebut, William berharap, para seniman tetap aktif dan saling berbagi energi kreatif seperti halnya seniman Yogyakarta, Bandung, atau Bali yang dikenal sebagai denyut nadinya seni rupa Tanah Air.

Advertisement

Namun, ada salah satu seniman yang sangat mencolok yaitu dari Rumah Anak Bumi Kecamatan Parungpanjang Kabupaten Bogor sebut saja Ridwan Manatik, yang memberikan sajian karya Momumen Televiksi yang berasal dari televisi-televisi bekas yang tidak terpakai, 

Dirinya memberikan pesan moral dengan 50 layar monitor bekas ini untuk masyarakat di seluruh Indonesia, bahwa fenomena media elektonik (Televisi) tidak menjadi ruang edukasi dan motivasi, saat dihubungi wartawan, Senin siang 6/12.

“Sebenarnya bagaimana melihat karya, lihat sebuah fenomena yang hari ini tv tidak lagi menjadi ruang edukasi, ruang motivasi tapi akhirnya menjadi menakutkan bagi banyak orang, mendoktrin banyak orang penontonnya terutama, dengan 50 layar monitor tv, itu saya pikir cukup usaha saya untuk membuat karya ini, dengan tinggi 6 meter lebar X 3,5 meter”, ungkapnya Ridwan Manatik.

Ridwan menuturkan tujuan dirinya memberikan karya ini karena masyarakat dibidik (dipaksa) oleh senapan media visual untuk di depan layar, bahkan tidak kreatif dan inovatif.

“Seakan-akan kita dibidik dengan senapan media visual, nah ini kita harus nonton terus menerus berada di depan layar, seperti pati jompo gitu, tidak lagi kreatif, tidak lagi inovatif, nah itu maksud dari tujuan ini, yang jelas saya menggunakan sampah-sampah itu adalah bagian juga bagaimana mengedukasi masyarakat tentang kemanfaatam sampah-sampah yang ada,” tutur Ridwan Manatik.

Ridwan juga menjelaskan, masyarakat untuk tidak menjadi makmum oleh televiksi apalagi menjadi hamba-hamba baru sebuah media televisi.

“Sebetulnya sih bagamana kita melihat tontonan itu, agar kita menjadi tuntunan juga tidak sekedar menonton menjadi hamba-hamba baru sebuah media TV, akhirnya menjadi makmum dari TV gitu lho, dipertontonkan dengan hal-hal yang tidak mendidik,” jelas Ridwan Manatik.

Ia mengharapkan kepada masyarakat di seluruh Indonesia untuk lebih arif (bijaksana) dalam menonton televisi.

“Harapannya adalah masyarakat bisa lebih bijaksana lebih arif lebih arif lagi menonton TV, tidak menjadi idiom baru atau ajaran baru,” harap Ridwan Manatik.

Reporter : HSMY

Editor : Sudrajat

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: