Pengamat Lingkungan UI: Pasar Sementara Parungpanjang Harus Dibuatkan Incinerator Sampah

Pengamat Lingkungan Universitas Indonesia Tarsoen Warsono

BOGOR (KM) – Pengamat Lingkungan Universitas Indonesia Tarsoen Warsono angkat bicara mengenai limbah berbahaya yang dibuang ke kali Cimanceuri dari pasar sementara Parungpanjang, Kabupaten Bogor. Ia mengatakan membuang sampah ke kali sudah dibilang keliru, seperti disampaikan pada wartawan kupasmerdeka.com, Selasa (23/11).

“Ya jelas yang membuang limbah atau sampah dipinggir jalan ataupun dipinggir sungai itu sudah keliru.  Kenapa tidak dibuatkan tempat pembuangan sampah yang memadai. Tapi pemerintah tidak membuatkan itu, jadi pedagang pasar itu buang di tempat sembarangan aja yang dia mau,” tuturnya.

Tarsoen Warsono menjelaskan bahwa pembuangan sampah yang menjadi limbah menimbulkan dampak paling berbahaya yaitu pencemaran air, karena ada air lindi.

“Akibat hal ini menimbulkan dampak, dampak sungai air yang kotor dan yang paling bahaya menyebabkan pencemaran air, karena ada air lindi (air busukan sampah) sehingga secara langsung mikrobiota air tergangg. Kalau dimanfaatkan untuk pertanian rada (agak- red) bagus, kalau dimanfaatkan untuk cuci mandi tidak aik,” jelasnya.

Ia memberikan solusi agar limbah di pasar sementara ini menjadi bersih yaitu dengan menggunakan incinerator sampah atau pembakaran sampah, yang abu hasil pembakarannya bisa dimanfaatkan untuk pupuk.

“Solusinya mestinya di TPS ini dibuatkan pembuangan sampah yang memadai dan diproses, diprosesnya memakai apa memakai incinerator sampah yang dibakar.  Pembakaran itu meninggalkan abu yang  bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Kalau sekarang sampah dibuang begitu saja, walaupun diangkut dengan truk tetap tidak akan jalan, tapi kalau diproses dibakar yakin itu akan bersih,” ungkapTarsoen.

Bahkan, pedagang dan masyarakat bebas membuang sampah karena sudah ditarik uang iuran dan sampah yang diangkut oleh angkutan sampah tidak cukup.

“Jadi memang masyarakat yang membuang sampah dipasar menjadi bebas memang sudah ditarikim iuran, sudah merasa bayar, nah bayarnya itu berapa? Menurut saya itu bayarnya tidak berimbang, karena paling sebulan hanya ditarik Rp. 15.000 padahal angkutan untuk sampah dengan dana tiga milyar per tahun atau per Kota atau Kabupaten itu tidak cukup,” tuturnya.

Pengamat Lingkungan Univeritas Indonesia Tarsoen Warosno menjabarkan terkait iuran sampah di Pasar sementara Parungpanjang Kabupaten Bogor, bahwa bukan lagi praktek korupsi melainkan uangnya sudah dibagi- bagi banyak orang.

Advertisement

“Harusnya yang memintai iuran harus bertangguh jawab, tapi mereka untuk bayar gajinya aja ga cukup, karena sudah dipotong diatasnya, dipotong lagi, untuk bayar yang kerja sampah ya alakadarnya. Itu yang kerja sampah bau dan kotor, satu bulan hanya mendapat satu juta paling tinggi.  Ya bukan korupsi lagi memang uang segitu sudah dibagi-bagi banyak, yang jelas uang Rp. 10.000 dibagi orang 25, jadi dapatnya kecil gitu loh,” beber Tarsoen Warsono.

Sementara Itu, Direktur Umum PD Tohaga Kabupaten Bogor Dadun Solahudin Abdurozak baru merespon setelah dua kali berita tayang di kupasmerdeka.com mengenai masalah ‘Limbah di Pasar Sementara Parungpanjang yang tidak selesai’, hari Minggu (21 November 2021).  Menurutnya, untuk menarik sampah dari TPS ke TPA itu ranahnya DLH Kabupaten Bogor.

“Unt menarik sampah dr TPS ke TPA itu menjadi ranahnya DLH berdasarkan perjanjian kerjasama antara TOHAGA dan DLH,” cetus Dadun.  Dadun berjanji untuk masalah limbah akan dibuatkan filter untuk membersihkan sampah, dan minggu ini akan selesai.

“Untuk limbah kami akn membuat filter d saluran pembuangan dan akan membersihkan sampahnya, dan sekarang sedang peroses, dalam minggu ini akan selesai, rencana kami filter dibuat diujung pipa ke kali, yang nantinya terus akan di evaluasi,” janji Dadun.

Dadun menambahkan, PD Tohaga Kabupaten Bogor sudah mendatangi pemilik sawah yang tercemari limbah, dan dirinya mengakui hal ini tarjadi karena kesalahan tim PD Tohaga Kabupaten Bogor.

“Pemilik sawah sudah didatangi oleh perwakilan tohaga dan pengembang sebagai bentuk tanggung jawab kami.  Itu bagian dari proses dan bagian dari kelemahan tim dalam proses perencanaan awal, yang jelas kita akan bertanggungjawab dengan kondisi yang terjadi,” tambahnya.

Sampai berita ini tayang Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor Asnan, enggan merespon pertanyaan wartawan kupasmerdeka.com melalui sambungan telepon Selasa (23 November 2021).

Reporter : HSMY

Edio : MSO

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: