KUPAS KOLOM : Cuaca yang tidak Bersahabat, Mengganasnya Covid-19, dan Serunya Laga EURO 2021

KH. Abdul Muiz Syaerozie, Ketua ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Cirebon (dok. KM)
KH. Abdul Muiz Syaerozie, Ketua ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Cirebon (dok. KM)

Oleh KH. Abdul Muiz Syaerozie, Ketua ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Cirebon

Cuaca sedang tidak bersahabat. Banyak orang mudah jatuh sakit. Diperparah lagi dengan situasi mengganasnya Covid 19. Kita memang dituntut ekstra untuk menjaga diri agar tidak jatuh sakit.

Sementara tiap malam, via televisi saya menonton perhelatan sepak bola terbesar di benua Eropa. Penontonnya berkerumun, tidak jaga jarak, bahkan banyak yang tak pakai masker.

Ada beberapa kemungkinan menanggapi fenomena ini. Pertama, mungkin supporter sepak bola di piala Eropa tidak bisa dikendalikan oleh aparat setempat, sehingga mereka abai terhadap protokoler kesehatan. Padahal masyarakat Eropa sering dipromosikan sebagai masyarakat yang memiliki kesadaran yang tinggi tentang pola hidup sehat.

Kedua, mungkin juga para penonton di laga Euro 2021 itu telah melalui proses yang sangat ketat. Mereka diizinkan masuk ke stadion jika sudah di swab, di vaksin, sampai cek medis oleh tim kedokteran.

Ketiga, boleh jadi di negara yang sedang menggeler perhelatan akbar sepak bola itu, covid-19 tidak begitu menggemparkan. Covid-19 dianggap penyakit biasa (endemik) yang tidak mengancam keselamatan jiwa manusia. Dan tafsir kemungkinan ini kelihatannya tampak jauh dari kebenaran.

Keempat, ada kemungkinan cuaca di tempat pelaksanaan piala Eropa sedang baik, sehingga tidak mengancam banyak orang mudah jatuh sakit. dengan demikian, fasilitas kesehatan tidak akan dibuat kalang kabut.

Namun fakta di Indonesia justru berbeda. Kita tidak bisa memungkiri bahwa tiap hari selalu saja ada berita lelayu. Di media sosial, di speaker-speaker masjid dikabarkan bahwa saudara-saudara kita, kawan-kawan kita, sahabat-sahabat kita, bahkan orang yang kita kenal tanpa disangka-sangka telah mendahului ke hadirat Allah SWT.

Kita juga sering disodori informasi, baik melalui WAG, Facebook, Instagram dll, tentang rumah sakit yang tak lagi mampu menampung jumlah pasien. Orang-orang yang sakit dievakuasi ke rumah sakit, namum tak tertangani dengan cepat dan baik hingga akhirnya pasien meninggal dunia.

Advertisement

Kita menyadari betul bahwa fasilitas kesehatan – rumah sakit, klinik, balai pengobatan – di negara kita masih sangat minim. Jumlah tenaga medis juga tidak seimbang dengan banyaknya jumlah penduduk. Akibatnya, ketika musim pancaroba seperti sekarang ini, pelayanan kesehatan ketental-tental. Orang numpuk di rumah sakit, bercampur dengan penderita covid. Walhasil, yang mula-mula sakit biasa, dalam kondisi imunitas tubuh yang lemah, tertular pula virus covid-19. Akhirnya, penyakit lama kembali kambuh.

Oleh karena itu, setidaknya ke depan kita butuh empat langkah. (1) Perbanyak faslilitas kesehatan seperti rumah sakit klinik dll. Strategi ini akan lebih efektf jika pesantren-pesantren yang menjadi ujung tombak masyarakat didorong untuk ikut mendirikan rumah sakit, klinik dan lain sebagainya. (2) Kuota Besasiswa di bidang ilmu kedokteran, farmasi, bidan dll diperbanyak jumlahnya. Ini penting untuk menyiapkan SDM di bidang kesehatan. Harapannya jumlah tenaga medis bisa seimbang dengan jumlah penduduk. (3) Gencar kampanye pola hidup sehat di tengah masyarakat kita. Dan terakhir (4) Perbanyak perguruan tinggi di bidang ilmu kesehatan. Nah, yang nomer 4 ini, sebenarnya banyak pesantren yang ingin mendirikan sekolah tinggi ilmu kesehatan tetapi persyaratan biayanya sangat besar. Mana ada pesantren sugih duit. Kata orang sih, “Angel wis angeeel.”

Jadi inget dulu, yang ikut perang banyak dari para santri dan kyai. Giliran yang boleh jadi tentara nasional hanya orang-orang yang punya ijazah sekolah militer Jepang dan Belanda saja. Cuma sedikit -untuk tidak dikatakan tidak ada – santri dan kyai ikut sekolah ala Jepang dan Belanda.

Salam Semangat dan Tetap Sehat.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: