Perdebatan Definisi Kata “Samida” dari Prasasti Batutulis Berujung Ancaman Tuntutan Hukum

Ilustrasi
Ilustrasi

BOGOR (KM) – “Samida”, sebuah catatan terakhir Kerajaan Pajajaran yang terpahat dalam Prasasti Batutulis di Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, hingga kini masih menjadi perdebatan dalam kajian kalangan budayawan Sunda, bahkan hingga kalangan akademisi dan birokrasi. Beberapa waktu ke belakang, muncul beberapa pemberitaan yang mengklaim bahwasanya “Samida” adalah nama pohon, atau nama hutan, atau justru nama sebuah hutan larangan.

Seperti dilansir PikiranRakyat.com, konon, kalimat dalam pahatan Prasasti Batutulis dibuat oleh Prabu Surawisesa, putra dari Sri Baduga Maharaja pada era 1533, tepat 12 tahun setelah sang ayahanda berpulang. Hingga saat ini, belum banyak yang menelusuri dan mencari tahu secara detail, apakah Samida yang dimaksud pada baris ketujuh prasasti tersebut adalah nama pohon, atau nama hutan, atau justru nama sebuah hutan larangan.

Peneliti tumbuhan senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Usep Soetisna menuturkan, Samida adalah kata sansekerta yang berarti suguhan dalam ritual api, sebuah pemujaan Dewa Agni (dewa api). Dahulu, kayu Samida digunakan oleh penganut Hindu sebagai bagian dari ritual pembakaran mayat.

Mengacu pada kalimat yang tertera pada Prasasti Batutulis, yakni “membuat samida”, Samida dalam hal ini diartikan sebagai hutan larangan atau saat ini bisa diartikan sebagai hutan konservasi.

“Merujuk pada konsep Samida dalam Prasasti Batutulis, bisa jadi di Bogor diharapkan ada hutan buatan. Apalagi Prasasti Batutulis dibuat untuk mengenang kebesaran Sri Baduga. Prasasti itu menjadi warisan berharga untuk dikembangkan dan ditumbuhkan di kemudian hari,” kata Usep dalam Bincang Museum dengan tema Mengenal Pohon Samida melalui Prasasti Batutulis di Museum Tanah, Kota Bogor, Senin 20 Januari 2020.

Menyikapi hal tersebut Direktur LSM Jaringan Advokasi Masyarakat Pakuan Padjajaran (JPP) Saleh Nurangga akan melaporkan kepada pihak berwajib mengenai berita yang beredar tersebut, perihal “Samida” yang menjadi pro dan kontra di kalangan Kasundaan khususnya, dan masyarakat Bogor pada umumnya.

Advertisement

“Ya klaim pemberitaan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim bahwa Samida adalah jenis pohon. Hal ini dijadikan komoditi pembelokan sejarah oleh orang-orang yang mengaku ahlinya, padahal mereka bukan lembaga resmi atau yang melakukan penelitian tentang hal tersebut,” ungkap Saleh kepada kupasmerdeka.com, Sabtu 8/5.

“Bahkan LIPI sendiri belum mengeluarkan secara resmi apa itu Samida. Nah yang menjadi persoalan saat ini beberapa orang menyebarkan kabar berita baik melalui WhatsApp ataupun secara langsung, yang seakan membenarkan bahwa Samida merupakan nama pohon, serta memframing Samida agar dilegitimasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, hal ini sangat disayangkan,” tambah Saleh.

Lebih lanjut Saleh mengatakan, dirinya menganggap ini merupakan pembohongan publik, dan membuat kabar bohong yang simpang siur.b”Atas nama lembaga yang saya pimpin (LSM JPP), akan melaporkan secara hukum siapapun yang membuat keresahan di muka umum terutama mengenai Samida,” katanya.

“Ya hal ini menyangkut kabar bohong, maka langkah ini kami ambil sebagai antisipasi agar tidak terjadi keresahan berkelanjutan, dengan beredar kabar di khalayak masyarakat Bogor khususnya,” tegas Saleh.

Saleh juga menyayangkan kehadiran Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto yang turut hadir dalam “melegitimasi” klaim definisi samida tersebut.

“Ya disayangkan Wali Kota Bogor turut melegitimasi samida dengan pihak ataupun segelitir orang yang mengaku budayawan, dan menganggap itu sudah mewakili suara yang lainnya,” lanjutnya.

“Yang jelas kita akan ambil langkah hukum, supaya tidak ada lagi kabar berita yang menjadi polemik di masyarakat. Dan meminta Wali Kota Bogor agar mengkaji ulang apa yang sudah disebarkan tentang Samida tersebut,” pungkas Saleh.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: