KUPAS KOLOM: Imlek 2572 Kongzili: Momen Memperkuat Solidaritas Sosial

Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat
Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat "Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia" (MATAKIN)

Oleh Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)

Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili (anno Khonghucu) jatuh bertepatan dengan tanggal 12 Februari 2021 Masehi. Bagi masyarakat Indonesia, inilah Imlek pertama sejak kasus Covid -19 diumumkan pertama kalinya oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 02 Maret 2020. Saat Imlek 2571 Kongzili yang bertepatan dengan 25 Januari 2020 tahun lalu, Indonesia belum terdampak Covid-19, meski wilayah Tiongkok dalam hal ini Wuhan, sudah diserang pandemi secara masif. Saat itu perayaan Imlek praktis dalam kondisi prihatin di Tiongkok. Sementara di banyak negara lain termasuk Indonesia, masih dirayakan meriah seperti biasanya.

Namun suasananya kini berbeda. Perayaan Imlek di Indonesia tahun ini dalam suasana prihatin. Saat ini pergerakan pandemi di negara kita masih terus menaik, tanpa bisa diperkirakan secara akurat kapan akan mulai menurun. Bahkan angkanya dari hari ke hari naik secara signifikan, dengan pertambahan yang semakin membesar. Ketika tulisan ini dibuat, angkanya berkecenderungan menuju satu juta kasus terpapar.

Melihat kenyataan ini kita semua harus bersikap bijak. Kita harus mengurangi aktivitas perayaan dan atau ritual Imlek sampai ke batas minimum. Pengalaman mengajarkan, setiap ada hari raya atau hari libur selalu diikuti dengan lonjakan kasus Covid -19. Mengulangi perilaku yang sama, bukan saja merupakan tindakan ceroboh, tetapi juga nekad, bodoh, dan berbahaya, karena bisa saja akan mengantar kita pada maut dan kehancuran. Untuk itu kita semua dituntut bersikap arif, bijaksana, dan pandai mengendalikan diri sendiri dan keluarga. Imlek sendiri hakikatnya bukan merupakan pesta hura-hura tanpa batas. Imlek sejatinya adalah refleksi diri, tanda syukur atas karunia Tian -Tuhan Yang Maha Esa, berupa datangnya musim semi. Musim yang pada waktu lalu merupakan berkah luarbiasa dalam masyarakat yang sebagian besar hidupnya ditopang dari kegiatan bercocok-tanam. Ada aroma kegembiraan memang, tapi tak lebih dari kegembiraan mendapat harapan baru, yaitu kesempatan baru untuk mulai bercocok-tanam, bekerja keras mewujudkan harapan. Ketika sebagian besar manusia beralih dari pertanian ke sektor lainnya, kegembiraannya tetap ada – bahkan meningkat, namun semangatnya justru malah memudar. Akibatnya yang muncul acapkali adalah kegembiraan berlebihan. Sementara etos dan semangat kerjanya malah semakin memudar. Imlek menjadi lebih bergeser pada aktivitas pesta-pora. Dan pesta-pora di masa pandemi bisa berarti pesta menuju malapetaka. Sebuah kebodohan yang harus dicegah.

Advertisement

Ada hal penting yang harus selalu diingat dalam setiap momen Imlek. Di samping melakukan sujud syukur ke hadirat Tian, Tuhan Yang Maha Esa, sungkem memberi hormat kepada orangtua dan para senior, menjaga kerukunan dan silaturahmi, juga ada kewajiban menyantuni para kerabat dekat, sanak saudara dan lingkungan yang berkekurangan, yang tidak bisa merayakan Imlek karena keterbatasannya. Ini selaras dengan inti ajaran Khonghucu yang menekankan Satya kepada Tuhan dan Tepasalira dengan sesama (Zhongsu). Bertepasalira bukan sekedar saling menenggang menjaga perasaan, tapi terpanggil ikut merasakan dan saling membantu atau peduli sesama.

Seminggu sebelum awal tahun baru Imlek, dikenal sebagai, “Hari Persaudaraan” atau Jie Sie Siang Ang (dialek Hokian) atau Er Si Sheng An (Mandarin). Di hari itu mereka yang lebih berkemampuan secara ekonomi wajib menyantuni sesamanya yang perlu dibantu. Bisa dalam wujud pakaian, bahan makanan, uang atau apa saja yang diperlukan. Intinya agar kegembiraan Imlek bisa dirasakan bersama, terjalin sikap peduli dan ketat menjaga persahabatan persaudaraan. Ini selaras dengan ajaran Khonghucu yang menekankan “Bila diri sendiri ingin tegak (maju), bantulah orang lain tegak (maju)”, “Di empat penjuru lautan, semuanya bersaudara”, dan “Harta benda menghias rumah, Laku Bajik menghias diri”.

Adalah sebuah kemustahilan kita bisa hidup bahagia damai harmonis dalam kesejatian bila tidak ada kebersamaan. Tak mungkin kita nyaman mendirikan bangunan megah di tengah kekumuhan. Dan tak mungkin merasa bahagia di tengah isak tangis penderitaan. Maka adalah sebuah sikap yang arif bijaksana dan simpatik bila dalam merayakan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2572 kali ini kita lebih menitikberatkan pada kepedulian terhadap sesama warga. Pandemi Covid -19 boleh mengikis kesehatan kita menjadi lebih rentan, tetapi yang tidak boleh terjadi adalah mengikis hati nurani kita sebagai manusia. Manusia Junzi, insan kamil, manusia yang beriman dan berbudi luhur, Tepasalira pada sesamanya!.

Semoga perayaan hari raya tahun baru Imlek 2572 Kongzili ini bisa menjadi momen untuk memperkuat solidaritas sosial kita sebagai bangsa, warga masyarakat dan keluarga. Keluarga Besar Bangsa Indonesia. Shanzai.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*