Pengamat: Anggaran Fantastis untuk Peningkatan Kawasan Suryakancana Harus Diawasi Ketat

Wahyudin Jali, KAKI Publik
Wahyudin Jali, KAKI Publik

BOGOR (KM) – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk melaksanakan pekerjaan peningkatan jalan di kawasan Suryakancana dengan anggaran dana yang berasal dari bantuan pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Pemerintah Pusat sebesar Rp31 miliar menuai kontroversi.

Sebelumnya, dalam pemberitaan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Syarifah Sofiah menyatakan, dana PEN Rp31 miliar dari bantuan pemerintah pusat diperuntukkan kepada peningkatan jalan kawasan Suryakencana.

“Kita kan sudah memproses pinjaman PEN Rp31 miliar. Saya ingin melihat desain dari Dinas PUPR untuk sepuluh koridor yang terdiri dari tujuh koridor sebelah kiri dan tiga koridor di sebelah kanan. Sehingga begitu administrasi selesai, April mendatang sudah mulai pengerjaan,” ujar Syarifah 15/1 lalu.

Senada juga dikatakan Kepala Bidang Pembangunan Kebinamargaan, Dinas PUPR Kota Bogor, Dadan Hamdani, bahwa dengan anggaran PEN, Pemkot Bogor akan menata kembali kawasan Suryakencana. Dalam hal ini yakni tujuh koridor dari mulai Jalan Roda 1 sampai 7, Jalan Pedati, Jalan Lawang Saketeng, dan Jalan Rangga Gading.

“Ya total pinjaman PEN Rp31 miliar, Rp 30 miliar untuk fisik dan Rp 1 miliar untuk pengawasan atau konsultan,” ujar Dadan.

Hal tersebut menjadi perhatian Lembaga Kajian dan Analisa Keterbukaan Informasi Publik (KAKI PUBLIK), yang memberikan beberapa catatan terkait program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang disalurkan ke Pemkot Bogor.

“Pertama, sebagai catatan penggunaan anggaran ini perlu diawasi secara ketat, mengingat jumlah alokasi yang fantastis Rp31 miliar untuk pembangunan infrastruktur di Kawasan Jalan Suryakancana Kota Bogor,” ungkap Koordinator Investigasi KAKI PUBLIK Wahyudin Jali kepada kupasmerdeka.com

Advertisement
Jumat 22/1.

“Kebijakan anggaran oleh Pemkot Bogor ini, sedikit bias kelompok pengusaha. Dengan kebijakan ini seolah-olah, Pemkot Bogor hanya memikirkan para pengusaha dan kawasan elite saja, hingga mengabaikan warga yang benar-benar membutuhkan,” ujar Wahyudin.

Wahyudin juga menegaskan, sisi lain Wali Kota Bogor dan jajarannya, bahkan sepertinya DPRD juga kompak menyepakati anggaran miliaran rupiah untuk proyek infrastruktur, yang salah satunya digunakan untuk pedestrian Kawasan Suryakancana.

“Hal ini patut disayangkan, padahal jika alasan anggaran karena kondisi pandemi, Wali Kota Bogor juga seharusnya ingat kondisi warganya di masa pandemi sekarang ini,” tegas Wahyudin.

Selain itu, lanjut Wahyudin, tema penggunaan nama-nama untuk koridor di kawasan Suryakancana “sangat jauh” dari kearifan lokal yang ada.

“Satu temanya The Beginning Chinese Gate, koridor dua temanya The Chinese Village, koridor tiga temanya The Five Elements, koridor empat temanya The Paintings and The Wall, koridor lima temanya The Proverbs, kolidor enam temanya The Oriental Garden, dan koridor tujuh temanya The Suryakencana’s History.”

“Harusnya sedikit membumi, seperti penggunaan nama Sunda,” tutup Wahyudin.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: