Legislator Sayangkan Gagalnya Digitalisasi Aksara Jawa

BOGOR (KM) – Komisi I DPR RI menyoroti kandasnya ikhtiar ‘digitalisasi’ Aksara Jawa yang diajukan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) ke lembaga internet dunia, lantaran pemerintah kurang hadir untuk mendorong hal tersebut.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Nasdem Muhammad Farhan menilai, PANDI seperti sedang berjuang sendirian. Diketahui memang, pihak yang notabene mengajukan permohonan Internationalize Domain Name (IDN) kepada lembaga internet dunia, Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) adalah PANDI. Dan menurut Farhan, perjuangan PANDI dalam menggolkan digitalisasi aksara jawa perlu mendapat dukungan.

“Jadi ditolaknya permohonan digitalisasi Aksara Jawa tersebut merupakan bagaian karut marutnya terkait perhatian dan tata kelola kebudayaan yang ada di Indonesia ini. Dimana tidak ada leadership yang clear soal kebudayaan di Indonesia, padahal kita sudah memiliki undang – undang Pemajuan Kebudayaan,” ungkap Farhan kepada awak media, Sabtu 9/1.

Lebih lanjut Farhan mengatakan, ada satu hal yang salah terkait tata kelola kebudayaan di Indonesia ini. Terlebih ketika mengaitkan kebudayaan dengan digitalisasi.”

“Sekarang ini masanya, semua mesti di ekonomi-kan, seakan hanya ada satu pengertian digitalisasi, yaitu industrialisasi,” tambah Farhan.

Belum lama ini Direktur Eksekutif Culture and Folks for Indonesia (CFI) Muhammad Yusuf menyuarakan hal yang sama. Harusnya ikhtiar yang dilakukan PANDI mendapat support

Advertisement
masif dari masyarakat, terlebih pemerintah.

“Harusnya pemerintah bisa melakukan intervensi kebijakan. Mengawal secara intensif atas apa yang dilakukan PANDI,” tegas Yusuf.

Perlu diketahui saat ini pemerintah baru mengakui sekitar 20-an aksara yang tersebar di nusantara. Dari jumlah tersebut, delapan aksara di antaranya masih eksis di kehidupan sehari-hari. Setidaknya, beberapa aksara tersebut dipelajari para siswa sekolah dasar. Delapan aksara itu di antaranya, aksara Jawa, aksara Sunda, aksara Batak, aksara Rejang, aksara Bali, aksara Pegon (abjad Arab yang dimodifikasi), aksara Lontara (aksara Bugis) dan aksara Kawi (aksara Jawa kuno).

Terbaru, kabarnya terdapat tujuh aksara sudah terdigitisasi yaitu Jawa, Bali, Sunda, Batak, Bugis, Makassar, dan Rejang. Tujuh aksara ini baru dalam kategori Limited Use pada Unicode. Unicode adalah suatu standar teknis yang dirancang untuk mengizinkan teks dan simbol dari semua sistem tulisan di dunia untuk ditampilkan dan dimanipulasi secara konsisten oleh komputer. Kategori Limited Use naik menjadi Recommended bila ada bukti aksara tersebut masih dipakai.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*