Puluhan Warga Kali Jaya Cikarang Barat Keluhkan Keberadaan Bank Sampah di Wilayah Mereka

Bank sampah di Desa Kali Jaya, Kecamatan Cikarang Barat (dok. KM)
Bank sampah di Desa Kali Jaya, Kecamatan Cikarang Barat (dok. KM)

BEKASI (KM) – Aktivitas kegiatan bank sampah di wilayah Kampung Ketapangkedung, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, yang diduga bekerja sama dengan perusahaan kertas di bilangan Cikarang Barat dalam pengolahan limbah, menuai keluhan dari warga setempat.

Sedikitnya 65 orang telah menyatakan keberatan dengan membubuhkan tanda tangan pada surat petisi, yang enggan wilayahnya menjadi tempat pembuangan sampah.

Menanggapi hal itu pihak Satpol PP Kecamatan Cikarang Barat sempat meninjau ke lokasi bank sampah yang dimaksud.

Naja Supriadin Kepala Satlol PP Kecamatan Cikarang Barat menjelaskan kehadirannya beberapa waktu lalu ke sana dalam rangka monitoring.

“Izin belum ada dia, mereka harus menempuh izin ke LH. Izin LH kan pengelolaan limbah. Itu (bank sampah) belum perusahaan. Baru didirikan untuk menampung limbah non-B3,” ucap Naja ketika dikonfirmasi di kantornya, Jumat 13/11.

Terkait penutupan bank sampah itu, Naja mengaku tak punya kuasa. Sebagai pimpinan Satpol PP di kecamatan, dia hanya memonitor. Sementara kuasa penutupan ada pada tingkat Satpol PP Pemerintah Kabupaten Bekasi.

“Belum ada penghentian. Dia (pengelola bank sampah) katanya siap bikin perizinan. Kita kalau berhentiin gak punya wewenang,” ucapnya.

Dia meneruskan bahwa pihaknya sedang membuat surat untuk melaporkan hasil monitoring itu kepada Pemkab Bekasi. Ia mengaku hanya melihat limbah plastik bercampur kertas, dan tak tahu pasti apakah ada limbah B3 di sana.

Saat dihubungi, pengelola bank sampah tersebut, Wilda Yanti, menjelaskan bank sampah yang dikelolanya telah memiliki izin domisili.

Advertisement

“Bank sampah itu simpel pak. Ke mana-mana aja berdiri, apalagi kita punya kelembagaan, gak mungkin gak berizin. Gak ada izin bank sampah, izin lingkungan saja tidak perlu, tapi kami malah punya izin lingkungan,” ucap dia sewaktu dihubungi.

Lanjut dia, perizinan bank sampah sederhana, bahkan hanya sebatas tingkat RT saja sudah bisa beroperasi. Namun, Wilda mengaku sudah mengantongi domisili, izin lingkungan, bahkan bertanda tangan Camat.

Dia menjelaskan baru memulai aktivitas di bank sampah yang bermitra dengan perusahaan itu. Di Bekasi, dia memutuskan membentuk bank sampah, karena memiliki beberapa bank sampah binaan.

“Nanti ada pemilahan, ada pengolahan. Kita sudah buka lapangan kerja lo di situ. Ini sekarang sudah 50 orang. Yang rekrut orang lingkungan, jadi kalau gak berizin gak mungkin. Kita ada kerja sama dengan desa terkait tenaga kerja,” kata dia.

“Bank sampah itu pola pengolahan dengan metode 3R. Mitra kami saat ini adalah Fajar Paper dan kami mengedukasi mereka di mana mereka terus berusaha meningkatkan solusi dan mengurangi sampah mereka,” sambungnya.

Masih kata Wilda, sampah yang sudah ada dikelola “secara baik dan bertanggung jawab di tempat yang jelas.”

“Di tempat pengolahan dilakukan pemilahan. Pemilahannya kita berdayakan masyarakat sekitar,” kata Wilda.

Reporter: mon
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*