Mengaku Diperlakukan Semena-mena di RSUD Tengku Mansyur, Warga Simpang Empat ini Mengadu ke BKPRMI dan KM Tanjungbalai

Warga yang tinggal di daerah Desa Simpang Tiga Kec. Simpang 4, Kabupaten Asahan saat memberikan bukti kwitansi pembelian kantong darah yang diserahkan kepada Hafiz Eki Prayoga, Ketua DPD BKPRMI Kota Tanjungbalai (dok. KM)
Warga yang tinggal di daerah Desa Simpang Tiga Kec. Simpang 4, Kabupaten Asahan saat memberikan bukti kwitansi pembelian kantong darah yang diserahkan kepada Hafiz Eki Prayoga, Ketua DPD BKPRMI Kota Tanjungbalai (dok. KM)

TANJUNGBALAI (KM) – Rasa kecewa yang mendalam menyelimuti seorang warga Tanjungbalai yang mengaku telah diperlakukan semena-mena oleh oknum di RSUD Tengku Mansyur. Ia mengatakan bahwa salah satu oknum RSUD mengharuskannya untuk membeli tujuh kantong darah dengan biaya sendiri dengan alasan bahwa kartu KIS yang dimiliki istrinya tidak berlaku untuk pembiayaan darah. Hal itu langsung diadukan kepada pihak Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) dan Biro Kupas Merdeka (KM) di Kantor Sekretariat Biro Kupas Merdeka Tanjungbalai, Gang Rambutan LK IV, Kel. Sirantau, Kec. Datuk Bandar pada Minggu 1/11.

Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) Tanjungbalai Hafiz Eki Prayoga menjelaskan bahwa warga yang diduga diperlakukan tidak menyenangkan oleh oknum RSUD Tengku Mansyur itu mengadukan permasalahannya dengan langsung datang ke Kantor Sekretariat KM saat Posko Pengaduan belum dibuka. “Kami menilai ia datang dengan rasa kecewa mendalam atas bobroknya pelayanan RSUD Tengku Mansyur terhadapnya,” ujar Hafiz.

“Pihak kami sudah mendengar penjelasan dari warga yang datang tadi siang dan menerima bukti-bukti kwitansi pembelian tujuh kantong darah yang diduga disuruh oleh oknum nakal pihak RSUD Tengku Mansyur Tanjungbalai. Selanjutnya bukti ini, akan kami satukan dengan bukti-bukti sebelumnya dari dugaan korban pembodohan yang nantinya itu semua akan kami laporkan kepada aparat penegak hukum Kota Tanjungbalai,” tutur Hafiz.

Kepada awak media KM, warga yang tidak ingin disebutkan namanya itu menerangkan bahwa oknum pihak RSUD Tengku Mansyur menyampaikan prediksi bahwa istrinya akan mengalami “pendarahan yang cukup hebat” dan membutuhkan tujuh kantong darah untuk pertolongan.

Advertisement

“Karena informasi itu saya kemudian memohon agar biaya darah dapat ditanggung oleh kartu BPJS atau KIS yang dimiliki Istri. Akan tetapi pernyataan oknum pihak RSUD Tengku Mansyur bahwa, khusus biaya kantong darah tidak ditanggung oleh pihak BPJS/KIS karena peraturan Undang-undangnya sudah berubah. Maka saya tidak panjang berpikir lagi untuk kesembuhan istri. Saya harus meminjam uang teman untuk membeli tujuh kantong darah tersebut,” terangnya.

“Bukan hanya soal tujuh kantong darah yang membuat saya kecewa bang. Akan tetapi parahnya lagi perut istri saya sudah sempat dijahit, dikarenakan terjadinya pendaharan maka jahitannya terpaksa harus dibuka kembali. Jika memang mereka menganalisa bakalan pendarahan, seharusnya bisa memperhitungkan rentang waktu. Kasihan istri saya menjadi korban atas perlakuan semena-mena yang diduga dilakukan oleh oknum RSUD Tengku Mansyur,” ungkapnya.

“Perlakuan sangat memilukan yang dialami oleh istri saya sudah saya laporkan kepada koalisi DPD BKPRMI dan KM Tanjungbalai dan berharap oknum pihak RSUD Tengku Mansyur dapat dijerat sesuai ketentuan hukum. Sampai saat ini uang saya tidak ada dikembalikan, padahal istri saya peserta aktif BPJS/KIS dan saya siap dihadirkan untuk memberikan keterangan saksi agar dugaan kecurangan yang dilakukan oleh oknum RSUD Tengku Mansyur dapat dibongkar sampai tuntas.

Reporter: Gus/Risky
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: