Jaga Kelestarian Budaya, Rumah Cinwa Gelar Diskusi Tentang Wayang Potehi

DEPOK (KM) – Masih minimnya edukasi dan sosialisasi tentang nilai-nilai budaya Indonesia dikhawatirkan semakin menggerus keberadaan budaya nusantara seiring dengan perubahan zaman serta perkembangan informasi dan teknologi.

Berangkat dari hal tersebut, sanggar budaya Rumah Cinta Wayang (Cinwa) terus berupaya menanamkan nilai-nilai seni budaya bagi generasi penerus bangsa. Hal yang dilakukan Rumah Cinwa diantaranya dengan menggelar diskusi santai tentang sejarah wayang potehi bertepatan dengan Hari Wayang Nasional yang diperingati setiap tanggal 7 November.

Kegiatan diskusi dilangsungkan di markas Rumah Cinwa di Taman Kaldera, Jatijajar, Kota Depok. Dalam acara tersebut, pendiri Rumah Cinwa, Dwi Woro Retno Mastuti menjelaskan asal mula hadirnya wayang Potehi yang berawal dari narapidana yang sedang menghibur dirinya sendiri karena akan dihukum mati dengan cara menggelar pertunjukan wayang kantong yang dimainkan dengan peralatan seadanya.

“Dari referensi yang saya baca, sebenarnya tidak menjelaskan secara tepat. Tapi di Cina itu dikisahkan wayang potehi berasal dari 4 narapidana yang akan dihukum mati. Ketika menanti hukuman tersebut, narapidana ini membuat pertunjukan dengan menggunakan sapu tangan dengan telunjuk sebagai kepalanya dan alat musiknya menggunakan tutup panci atau peralatan dapur lainnya,” ujar Dwi Woro.

“Kabar pertunjukan wayang kantong ini terdengar oleh raja, kemudian raja menonton pertunjukan tersebut dan terhibur, lalu dibebaskanlah narapidana tersebut,” kisahnya.

”Secara kesejarahan, berasal dari Dinasti Tang dan akhirnya sampai sekarang kita bisa menikmati khususnya di daerah aslinya di daerah Cina selatan,” lanjutnya.

Advertisement

Menurut Dwi Woro yang juga Dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Depok, terdapat persamaan antara wayang potehi dengan opera Beijing. Persamaan tersebut terletak pada atribut yang dikenakan pada lakon sesuai karakter dan mempunyai filosofi masing-masing.

“Wayang potehi adalah opera Beijing dalam bentuk mini. Dalam atribut dan pewarnaan ternyata sama persis dengan opera Beijing. Jadi ternyata ada pemaknaan lain dan itu tidak sesederhana yang kita kira,” jelasnya.

“Kalau ada tokoh yang jenggotan di wayang potehi, ada juga di opera Beijing. Bendera yang digunakan di opera Beijing juga sama digunakan di wayang potehi. Jadi bendera dan rias wajah ini ada maknanya,” terangnya.

Dwi Woro juga mengungkapkan jika wayang potehi hanya tersebar di pulau Jawa dan tidak ada kejelasan mengenai kapan wayang potehi sampai di Indonesia. Dalam perkembangannya tidak ada perubahan aksesoris dalam suatu tokoh, namun hanya dikonsep lebih kekinian.

Budi, salah satu peserta diskusi dalam kesempatannya turut memberikan pandangan terhadap keberadaan wayang potehi di Indonesia. Dirinya berharap, kehadiran wayang potehi ini dapat meningkatkan kebhinnekaan kita sebagai Indonesia.

“Saya berharap wayang potehi ini sebagai media toleransi pemersatu bangsa,” pungkasnya.

Reporter: Sudrajat
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*