KUPAS KOLOM: Rilis Pers Bukan Karya Jurnalistik

(dok. KM)
(dok. KM)

Oleh Hasan J. A. dan Hero Akbar N., Pendiri Kupas Merdeka

Sepertinya mudah sekali pekerjaan sebagian wartawan media online zaman sekarang. Tinggal ikut grup-grup, terima press release dari polisi, TNI, pemerintah dan swasta, dan di-forward ke redaksi, dan pihak redaksi tinggal muat apa adanya.

Benarkah demikian?

Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan beralihnya cara mendapatkan informasi yang sebelumnya dari media cetak, televisi dan radio ke media online dan media sosial, salah satu akibat dari ini adalah menurunnya standar jurnalistik dalam pemberitaan. Dahulu, kita bisa mendapatkan artikel-artikel berita yang dimuat di koran dan majalah dengan tata Bahasa Indonesia yang begitu rapi dan profesional. Karya jurnalistik menjadi salah satu referensi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekarang, hanya segelintir media yang tetap berusaha mempertahankan standar tata bahasa dan jurnalistik itu, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Kehausan masyarakat akan informasi kadang membuat media-media saling berlomba untuk menyajikan informasi dengan cepat, sedangkan keakuratan, apalagi tata bahasa, menjadi prioritas kesekian. Ini terjadi di saat media-media online pun menjamur di seluruh penjuru negeri, semuanya menjadi peserta dalam balap informasi ini.

Dan apa yang lebih mudah dalam menyajikan informasi cepat daripada duduk manis menerima press release dari instansi dan langsung memuatnya di website?

Hanya masalahnya, press release bukanlah karya jurnalistik. Ianya merupakan karya kehumasan. Ini mungkin informasi yang sangat mendasar bagi wartawan yang sudah mempelajari asas-asas jurnalistik, tapi mayoritas wartawan aktif tidak punya latar belakang pendidikan formal di bidang jurnalistik. Maka pentinglah bagi mereka untuk setidaknya memahami perbedaan antara karya jurnalistik dan karya humas.

Yang paling mendasar adalah bahwa karya jurnalistik bertujuan untuk melayani kepentingan publik, sedangkan karya humas bertujuan untuk melayani kepentingan pihak yang mengedarkannya, baik itu instansi pemerintah, aparat keamanan, ormas, maupun swasta.

Advertisement

Artinya, sebuah karya jurnalistik akan memenuhi kebutuhan pembaca terhadap hal yang diberitakan itu secara utuh. Karya jurnalistik semestinya lengkap informasinya dan berimbang, tidak bias atau berat sebelah. Dengan itu, sang pembaca akan tercerahkan dan menjadi paham terhadap apa yang diberitakan itu, dan mampu membentuk opininya sendiri.

Sedangkan karya humas melayani kepentingan pengedarnya untuk membentuk opini masyarakat. Sebuah rilis pers dari pemerintah, misalnya, hanya akan memuat informasi versi pemerintah, dengan tujuan membentuk opini masyarakat yang positif terhadap pemerintah. Tidak mungkin pihak yang mengeluarkan rilis pers itu menjatuhkan dirinya sendiri atau mengungkap sisi buruknya sendiri.

Maka dari sudut pandang jurnalistik, sebuah press release atau pernyataan pers tentu tidak layak untuk dimuat apa adanya seolah ia merupakan karya jurnalistik. Namun, rilis pers bisa menjadi bahan baku bagi karya jurnalistik. Rilis pers memuat pandangan satu pihak, yang kemudian jurnalis harus mengimbanginya dengan pandangan atau kenyataan lain.

Ketika dikeluarkan oleh perusahaan swasta, misalnya, rilis pers juga bisa melayani kebutuhan perusahaan pers untuk menghasilkan uang iklan dengan memuatnya sebagai advertorial, yang tentunya harus dicantumkan sebagai advertorial atau artikel berbayar.

Maka jangan malas, baik wartawan maupun redaksi-redaksi media, untuk tetap menjunjung tinggi prinsip jurnalistik dan memfokuskan tujuan konten untuk kebutuhan pembaca dan bukan untuk melayani kepentingan pihak lain, apalagi secara tidak sadar karena tidak paham perbedaan antara karya jurnalistik dan karya kehumasan.

Manfaatkan rilis-rilis itu untuk menggubah sebuah karya jurnalistik yang layak dan sesuai etika jurnalis, serta menarik bagi pembaca. Selain itu, kami di redaksi Kupas Merdeka telah memberikan beberapa tips untuk menyusun artikel pemberitaan yang baik dan menarik di halaman Pedoman Standar Perilisan Berita. Semoga bermanfaat.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*