Buku Ki Kumbang “The Golok” Resmi Jadi Sumber Literasi Senjata Tradisional Indonesia di Museum Jerman

Deputi Direktur Klingen Museum, Jerman, Dr. Sixt Wetzler, memperlihatkan buku
Deputi Direktur Klingen Museum, Jerman, Dr. Sixt Wetzler, memperlihatkan buku "The Golok" yang disusun oleh Ki Kumbang dan Linda Turci (dok. KM),

TANGERANG (KM) – Buku “The Golok” kini telah mendapatkan hak paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Republik Indonesia. Buku ilmiah ini disusun berdasarkan riset yang dilakukan oleh pendiri dan Guru Besar Seni Golok Indonesia Ki Kumbang bersama dengan Linda Turci, seorang pesilat wanita berkebangsaan Italia. Keduanya berkolaborasi merangkum penelitian tentang sejarah golok berdasarkan manuskrip
Sunda kuno tahun 1518.

Dalam pemaparannya kepada Kupas Merdeka kemarin 20/9, Ki Kumbang mengatakan bahwa riset yang dilakukan dalam buku “The Golok” terfokus pada jenis dan nama handle, jenis bilah, filosofinya, hasil uji laboratorium metallurgy yang mencakup tentang material, tingkat kekerasan, dan foto mikro.

“Dalam hal uji lab ini saya bekerjasama dengan laboratorium metallurgy Institut Teknologi Bandung,” ujarnya.

Ki Kumbang juga mengungkapkan bahwa buku “The Golok” yang ditulisnya tersebut membantah literasi yang selama ini tercatat di sejumlah sumber yang menyebutkan bahwa golok adalah alat tani dan berkebun, serta merupakan senjata rumpun Melayu.

“Di buku ‘The Golok’ justru menyebutkan bahwa golok adalah senjata para raja dan merupakan senjata masyarakat sunda. Ini menjadi menarik karena buku ‘The Golok’ dibuat berdasarkan penelitian di daerah-daerah maupun dari literatur manuskrip kuno,” jelasnya.

Ki Kumbang juga mengklaim, semenjak dirilis bulan ini, buku The Golok sudah beredar di dunia internasional seperti Belanda, Jerman, Perancis, Amerika, dan Inggris.

Advertisement

“Di Solingen, Jerman, buku The Golok ini menjadi sumber referensi golok sebagai senjata tradisional Indonesia yang merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia,” ungkapnya.

“Selain buku The Golok, buku terjemahan manuskrip Sunda kuno tahun 1518 yaitu Sanghyang Siksakanda Ng Karesian yang saya susun juga dijadikan referensi di Deutsche Klingen Museum, Jerman, yang kedua buku itu telah diterima oleh Deputi Direktur Klingen Museum Dr. Sixt Wetzler,” paparnya lagi.

“Saat ini kami juga sedang menggelar lomba ketangkasan beladiri menggunakan golok yang digelar secara virtual dengan masing-masing peserta mengirimkan video atraksinya dan di hari Selasa (22/9) akan dilakukan penjurian secara live di beberapa channel medsos kami,” beber Ki Kumbang.

“Pemberian hadiah bagi pemenang akan dilakukan pada hari Jumat (25/9) berbarengan dengan acara pameran 1000 golok pusaka berusia diatas 300 tahun. Tema yang diangkat dalam lomba ini adalah ‘Golok Goes To UNESCO’ dengan harapan golok bisa menjadi salah satu kekayaan budaya leluhur asli Indonesia yang diakui oleh dunia,” pungkasnya.

Reporter: Sudrajat
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*