Sidang Lanjutan Kasus Dana Kesra Setda BS 2015 Semakin Jelas, Jaksa Diminta Telusuri Aliran Uang Korupsi

Peroses jalannya sidang dugaan korupsi Dana Kesra Setda BS dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di PN Tipikor Bengkulu,Rabu (12/08)
Proses sidang dugaan korupsi Dana Kesra Setda BS dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di PN Tipikor Bengkulu,Rabu 12/8/2020 (dok. KM)

BENGKULU (KM) – Sidang lanjutan dugaan korupsi dana kesra Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan 2015 dengan terdakwa mantan Kabag Kesra Heriadi dan mantan bendahara bagian kesra Nexke Yusita terus bergulir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bengkulu dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Rabu 12/8.

Dari pantauan wartawan, pada saat jalannya sidang tersebut, JPU menghadirkan 6 saksi, yaitu 4 pengurus masjid, pembina UKS SD 16 dan pembina UKS SMA 8 Bengkulu Selatan. Dalam persidangan terungkap adanya pemotongan insentif sekitar 400 masjid dari insentif pengurus masjid.

Di depan Majelis Hakim, fakta dugaan terjadinya pemotongan intensif masjid terkuak, disebutkan oleh saksi pengurus masjid yang dihadirkan oleh JPU. Mereka mengatakan bahwa honor mereka dipotong antara Rp40.000 s/d Rp60.000 setiap kalinya. Saksi Subandi menyebut bahwa pihaknya hanya datang dan menandatangani dokumen yang diberikan petugas bagian Kesra.

Keterangan saksi tersebut diperkuat oleh bukti kwitansi penerimaan uang dari bendahara pembantu, dalam hal ini terdakwa Nexke Yusita kepada Roswanda sebesar Rp 474.580.000.

Dikatakan oleh Nexke, setelah ia menyerahkan uang kepada Roswanda, ia tidak mengetahui mekanisme penyaluran insentif tersebut sehingga insentif yang diterima oleh masing-masing pengurus masjid tidak sesuai dengan SPJ.

Dugaan korupsi juga terungkap pada perjalanan studi banding Tim Pembina UKS SD 16 BS ke SMAN 17 Palembang yang dilaksanakan oleh bagian kesra Setda BS. Dari keterangan saksi Winarti selaku Pembina UKS SD 16 BS yang ikut dalam studi banding tersebut, ia menerima uang saku sebesar Rp1.500.000 dari Julia Noveta dan terdakwa Nexke Yusita pada saat itu tidak ikut.

Sedangkan uang makan, uang saku dan transportasi peserta perjalanan dinas studi banding ke Palembang tersebut sudah diserahkan oleh bendahara pembantu, dalam hal ini terdakwa, kepada Julia Noveta Sari sebsar Rp7.050.000. Kwitansi penyerahan uang dari terdakwa Nexke Yusita ke Julia Noveta pun diungkap dalam sidang itu.

Advertisement

Diakui oleh saksi Winarti di depan Majelis Hakim bahwa dalam perjalanan dinas ke Palembang, Nexke Yusita tidak ikut, dan yang ikut pada waktu itu adalah terdakwa Heriyadi yang pada saat itu sebagai KPA.

Sementara itu, JPU Kejari BS Marjek Ravelo mengatakan dugaan pengelembungan anggaran Bagian Kesra Setda BS ini sudah terlihat jelas. “Insentif pengurus masjid saja setiap penyaluran dilakukan pemotongan,” kata Marjek.

Terpisah, Koordinator Investigasi di Center for Budget Analysis (CBA) Jajang Nurjaman ketika dimintai tanggapanya oleh KM mengatakan bahwa pihaknya tetap mendorong Kejaksaan Negeri Bengkulu Selatan mengusut tuntas kasus korupsi dana kesra Setda BS tahun 2015 itu.

Adapun dalam penanganan kasus ini Jajang berharap jangan sampai tebang pilih. “Dalam artian siapapun yang terlibat seperti yang melakukan pemotongan insentif dan pemotongan uang saku studi banding itu harus mempertanggungjawabkannya di hadapan hukum,” kata Jajang.

CBA menduga praktik kotor ini sudah berjalan sejak lama, mengingat kegiatan yang dijadikan bancakan berupa kegiatan studi banding dan insentif pengurus masjid yang setiap bulan dan tahunnya pasti ada. Belum lagi anggaran yang jadi bancakan tidak sedikit sebesar Rp2,2 miliar dan ditaksir merugikan keuangan negara Rp315 juta.

“Dalam kasus seperti ini biasanya dilakukan berjamaah, melibatkan nama-nama penting, bukan hanya Pejabat Pembuat Komitmen saja atau PPK. Jadi pihak Kejaksaan harus bisa menelusuri aliran uang korupsi juga, dengan memeriksa semua nama-nama yang sudah disebutkan dalam persidangan,” tutup Jajang.

Reporter: TIM KM Bengkulu
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*