Buntut Konflik Masjid Taqwa, Muhammadiyah Geruduk Kantor Kemenag Kota Tanjungbalai

Aksi unjuk rasa aktivis Muhammadiyah di depan kantor Kemenag Kota Tanjungbalai, Kamis 27/8/2020 (dok. KM)
Aksi unjuk rasa aktivis Muhammadiyah di depan kantor Kemenag Kota Tanjungbalai, Kamis 27/8/2020 (dok. KM)

TANJUNGBALAI (KM) – Menyusul kemelut di Masjid Taqwa yang berada di Jalan Taqwa, Kota Tanjungbalai, yang berujung sejumlah tindakan meresahkan seperti pencabutan aliran listrik, pemotongan pipa air PAM ke rumah imam masjid, pemadaman lampu listrik saat pengajian di dalam masjid oleh oknum pengurus Badan Kenaziran Masjid (BKM) yang baru, sampai perlakuan kasar pengurus BKM baru kepada ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah beberapa waktu silam, sejumlah aktivis yang tergabung dalam Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) membawa masalah ini ke kantor Kementerian Agama Kota Tanjungbalai dengan menggelar unjuk rasa pada Kamis 27/8.

Dalam orasinya, koordinator aksi, Yuha (20), meminta Kepala Kanwil Kementerian Agama Kota Tanjungbalai agar bertanggungjawab atas permasalahan yang ada di Masjid Taqwa. “Karena kesalahan Kepala Kemenag Kota Tanjungbalai dalam mengeluarkan Surat Keputusan Pengurus Badan Kenaziran Masjid Taqwa mengakibatkan konflik berkepanjangan terjadi dan telah menzholimi warga Muhammadiyah yang dari awal adalah pengelola Masjid Taqwa sejak tahun 1956 bersama-sama dengan MUA,” ujar Yuha.

“Bapak Kemenag yang kami hormati, anda harus bertanggungjawab atas semua kejadian ini, tolong kembalikan hak dan kewenangan kepada kami kepengurusan Masjid Taqwa,” teriaknya saat orasi.

Yuha juga mengatakan, seharusnya kepala Kemenag Kota Tanjungbalai membatalkan SK BKM yang terpilih, karena dokumen syarat pemilihan BKM Masa khidmat 2019–2024 menurutnya “cacat hukum”.

Senada juga dikatakan oleh Ahmad Junaidi 40 tahung dalam orasinya meminta agar Kepala Kemenag Kota Tanjungbalai “jangan menjadi seorang pengecut, tidak mampu mengambil sikap dan jangan memanciung kemarahan warga Muhammadiyah.”

Advertisement

Selama dua jam aksi demonstrasi berlangsung, namun pihak Kemenag Kota Tanjungbalai tidak ada yang bersedia menerima kedatangan demonstran atau memberikan tanggapan.

Menurut salah seorang pegawai Kemenag yang ditemui KM, pihak Kemenag tidak bersedia menerima dan memberi tanggapan karena tidak adanya surat pemberitahuan kepada mereka.

Menyikapi pernyataan itu, ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tanjungbalai Firdaus Nasution menyatakan bahwa sudah banyak surat yang mereka layangkan, baik kepada Kemenag, kepada pihak kepolisian, tapi tak ada tanggapan dan tidak ada solusi yang baik. “Bahkan saat warga Muhammadiyah mengantar surat pemberitahuan aksi ke kantor polisi, pihak Polres Tanjungbalai menolak dan tidak menerima surat pemberitahuan aksi tanpa alasan yang jelas,” katanya.

“Pak, jangan tanya surat kepada kami, jangan ajari kami tentang admisnistrasi, negara ini merdeka sebagian adalah sumbangsih dari warga Muhammadiyah, kami ormas islam tertua dan terbesar di negeri ini, surat protes sering kami antar dan sampaikan, audiensi sudah kami lakukan, surat pemberitahuan sudah kami antar tapi ditolak dan tidak diterima. Kami jelas mengetahui, Kemenag Kota Tanjungbalai menunjukkan sikap ketidakberanian menemui kami, sikap yang tidak menghormati kami selaku umat Islam yang mempunyai peran penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hari ini kami pulang, tapi yakinlah, kami akan kembali lagi kemari dalam volume yang jauh lebih besar,” tegasnya sambil meminta kepada pengunjuk rasa untuk kembali ke rumah masing-masing dengan tertib.

Reporter: Hanif
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*