Tuntutan 3 Tahun dan Denda 500 Juta Bagi Terdakwa Penipuan Perumahan Syariah Fiktif Dinilai Terlalu Renda

Tuntutan JPU Terlalu Ringan, Korban Kasus Pencucian Uang dan Penipuan Perumahan Syariah Fiktif Pertanyakan Keadilan, Rabu 20 Mei 2020 (dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)
Tuntutan JPU Terlalu Ringan, Korban Kasus Pencucian Uang dan Penipuan Perumahan Syariah Fiktif Pertanyakan Keadilan, Rabu 20 Mei 2020 (dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)

JAKARTA (KM) – Tuntutan yang dikeluarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada para terdakwa kasus pencucian uang dan penipuan kasus perumahan syariah fiktif dinilai terlalu rendah.

Para terdakwa, yakni Suswanto, Moch. Arianto, Supikatun dan Cepi Burhanuddin hanya dituntut maksimal tiga tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta.

Kekecewaan tersebut diluapkan oleh Ahmad Rohimin selaku Kuasa Hukum ASY, korban kasus penipuan berkedok perumahan syariah yang diungkap Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, dirinya menilai tuntutan yang dilayangkan JPU sangat ringan.

Sebab, dipaparkannya, berdasarkan bukti dalam persidangan, yakni kesaksian dari pihak Bank, mantan audit, mantan admin serta mantan marketing diketahui para terdakwa melakukan penipuan.

Selain itu, keempat terdakwa katanya terbukti dengan jelas telah melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU), salah satunya adanya transaksi ke salah satu pihak keluarga terdakwa.

“Ironisnya pasal TPPU tidak dicantumkan kepada keempat terdakwa, hanya dicantumkan pasal penipuan saja,” ungkap Ahmad Rohimin dalam siaran tertulis pada salah satu wartawan kupasmerdeka.com, Rabu 20/5.

Dirinya pun meminta kepada para penegak hukum untuk menegakkan keadilan. Sebab, bukan hanya jumlah korban yang mencapai ribuan orang dengan nilai kerugian sebesar Rp 41 miliar, para terdakwa katanya juga telah mencemarkan nama baik Muhammadiyah.

“Keadilan harus ditegakkan, saya mempertanyakan pasal TPPU yang dilaporkan pelapor di Polda Metro Jaya kenapa hanya dicantumkan pasal penipuan?” tanya Ahmad Rohimin.

“Perlu diingat. Keempat terdakwa juga sudah menipu sebanyak 3.680 korban dengan kerugian lebih dari Rp 41 milyar, terakhir terdakwa ini juga sudah mencemarkan nama baik Muhammadiyah,” tambahnya.

Sementara itu, ASY mengungkapkan hal serupa. Dirinya dan sejumlah korban lainnya menganggap tuntutan yang diajukan oleh JPU sangat rendah. Padahal laporan yang dilayangkan dalam laporan polisi yang dibuat para korban di Polda Metro Jaya, keempat terdakwa disangkakan telah melakukan TPPU.

“Kami tidak terima dengan tuntutan JPU yang sangat ringan kepada para terdakwa, saya mempertanyakan kemana pasal TPPU yang dilaporkan pada saat di Polda Metro Jaya, kenapa tidak dicantumkan untuk keempat para terdakwa? Padahal bukti sudah sangat jelas,” ungkap ASY.

Advertisement

Begitu juga dengan NA, korban penipuan berkedok perumahan syariah lainnya. Dirinya menilai aksi kejahatan yang dilakukan para terdakwa sangat meresahkan. Dirinya meminta agar para JPU dapat meninjau ulang tuntutan kepada para terdakwa.

“Pelaku ini sangat meresahkan dan merugikan masyarakat di kemudian hari,” ungkap NA.

“Saya mewakili para korban yang lain mempertanyakan sikap JPU yang idealnya dengan teliti membaca dan mempelajari dengan baik terkait kasus ini, JPU itu seharusnya ada bersama korban bukan bersama lawan,” tambahnya.

Terkait hal tersebut, para korban diungkapkan NA masih berharap adanya keadilan. Dirinya berharap Pengadilan Negeri Tangerang “bersih, adil dan jujur.”

“Semoga ada perhatian khusus dari pemerintah terkait, agar ada efek jera untuk keempat para terdakwa,” ungkapnya.

Dikutip dari Tribunnews.com, korban penipuan bermodus perumahan syariah meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus yang sudah merugikan mereka. Harapannya, uang yang telah disetor para korban kepada sindikat penipu tersebut bisa kembali. Saat ini, Polda Metro Jaya telah membekuk empat tersangka sindikat mafia perumahan syariah tersebut.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran dana para tersangka.

“Kami akan koordinasi dengan PPTAK untuk melacak aliran dananya,” kata Gatot Eddy di Polda Metro Jaya Sudirman, Jakarta Selatan, Senin 16/12/2019.

Dari hasil menipu 3.680 korbannya, para tersangka meraup untung hingga Rp 40 miliar.

Gatot Eddy menjelaskan para tersangka menjanjikan korbannya perumahan berbasis syariah yang dibanderol dengan harga murah dan tanpa riba.

“Kemudian mereka (tersangka) juga membuat brosur, mengadakan gathering, dan membuat rumah contoh sehingga masyarakat tertarik,” ujar Gatot.

“Korban dijanjikan sudah terima kunci pada Desember 2018. Faktanya tidak kunjung diberikan,” kata dia.

Reporter: HSMY
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

14 Comments

  1. Semoga Allah memberi petujuk kebenaran dan keadilan bagi kasus penipuan perumahan berkedok syariah dan terdakwa selaku pelaku modus ini dapat dihukum seberat beratnya.

  2. Semoga pak hakim maaih punya keadilan buat para korban yang nyata2 di tipu para terdakwa.

  3. Para tersangka penipuan perumahan hukum dong se adil adilnya
    dan uang buyer konsumen amanah city maja di kembalikannya secara utuh
    terimakasih

  4. Semoga hakim memberikan keputusan yg tepat untuk para terdakwa dan korban mendapatkan hak nya kembali

  5. Vivi arfianche 21/05/2020 at 4:37 pm

    Harapan saya agar hak haknya ke 63 korban ini bisa dikembalikan. Untuk pelaku agar dihukum seberat beratnya. Jangan tumpul ke bawah

  6. Vivi arfianche 21/05/2020 at 4:38 pm

    Harapan saya agar hak haknya ke 63 korban ini bisa dikembalikan. Untuk pelaku agar dihukum seberat beratnya. Jangan tumpul ke bawah. Kasian mereka rakyat kecil

  7. Semoga para penegak hukum kita masih punya hati nurani untuk menegakkan keadilan. Kasihan para korban yang berusaha mencari keadilan, tapi kenyataannya keadilan tidak berpihak padanya.

  8. Erpah hariyati 21/05/2020 at 5:04 pm

    Semoga masih ada keadilan buat para korban. Pelaku di hukum Yang seberat beratnya. Semoga juga uang para korban bisa kembali seutuhnya

  9. Khailaputrii98@gmail.com 21/05/2020 at 5:15 pm

    smga kasus ini segera selesai.dan para penegak hukum memberikan keadilan seadil2nya.karena penipu tersebut bner2 telah merugikan para korbanya.terutama 63 grub pk.

  10. Semoga masih ada keajaiban saat putusan hakim. Amat miris sekali jika pasal TPPU tdk dimasukkan oleh JPU. Pdhl jelas2 semua sudah terbukti. 4 pasal yg dilaporkan semuanya terbukti. Semoga yg mulia hakim Allah mampukan untuk memberikan kami keajaiban. Semoga keadilan dlm kasus ini bnr bnr ada. Allah tidak tidur. Jika pelaku tdk jera karna hukuman yg diterima ringan, maka dosa mereka jg akan mengalir kepada para pihak yg membuat terdakwa tidak jera. Semoga menanggung dosa2 nya juga. Sementara untuk 63 korban, semoga Allah tabahkan, insyaAllah Allah akan beri hikmah yg indah. Masih ada pengadilan Allah nanti. Allah tidak tidur, Allah Maha melihat semua perjuangan pihak2 yg berusaha menegakkan keadilan ini. Semoga dicatat sebagai amal sholih. Aamiin.

  11. kepada yang mulia Hakim tolong kembalikan hak2 kami seutuhnya kepada korban yang melapor ke Polda Metro Jaya.

  12. Mohon kepada hakim agar terdakwa bisa dihukum dengan hukuman yang berat, dan tolong kembalikan hak kami 63 orang pelapor dengan utuh .

    Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur, mohon tegakkan keadilan ..

  13. Syinfaqih Saddiraq 21/05/2020 at 7:39 pm

    Semoga pada saat putusan final nanti terdakwa bisa dihukum dengan hukuman yg berat, tegakkanlah keadilan yang mulia hakim …

    mohon kembalikan hak 63 orang pelapor dengan utuh

    terimakasih

  14. Syinfaqih Saddiraq 21/05/2020 at 7:42 pm

    Semua bukti di setiap persidangan sudah jelas bahwa para terdakwa bersalah dan telah mrugikan banyak orang, mohon yang mulia hakim untuk memberi putusan hukuman yg berat kepaada terdakwa dan mohon agar hak 63 orang pelapor bisa dikembalikan,

Leave a comment

Your email address will not be published.


*