KUPAS KOLOM: Ketulusan Lebaran dari seorang Muslim untuk sahabat Khonghucu

(dok. KM)
(dok. KM)

Oleh Kristan, Founder Generasi Muda Khonghucu Indonesia (GEMAKU) dan Alumni Pasca Sarjana Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatulah, Jakarta

Hari ini malam Takbiran kami menyebutnya yaitu malam menjelang Lebaran keesokan paginya. Habis ashar tiba-tiba pintu rumah saya di ketuk ada sosok pria datang mengantarkan sejumlah makanan sebagai tanda kasih pada saat Lebaran. Pria itu kami memanggilnya Udin ‘sedih’ karena memang terlalu banyak nama Udin di Ciampea sini. Seperti yang dilukiskan oleh pencipta lagu Udin Sedunia, karena terlalu banyak maka di Indonesia begitu banyak nama varian Udin untuk membedakan satu dengan lainnya. Sebut saja Udin ‘item’, Udin ‘jangkung’, Udin pendek, Udin ‘seuri’, untuk Udin ‘seuri’ diambil dari bahasa Sunda, artinya Udin yang sering tersenyum.

Untuk Udin yang mengantarkan kue Lebaran kepada saya yaitu Udin ‘sedih’ kenapa? Karena wajahnya terlihat sendu dan sedih terus. Maka kami anak-anak kampung sini memanggilnya dengan sebutan Udin ‘sedih’.

Ada sejarah menarik hubungan baik saya dengan Udin ‘sedih’ dahulu ketika kami menjadi relawan Generasi Muda Khonghucu (GEMAKU) untuk Jakarta Banjir 2014, kami perlu menggunakan truk untuk membawa bantuan ke Kampung Pulo Jakarta. Nah anak si Udin ‘sedih’ inilah yang menjadi kondektur truk yang membantu kita dengan baik.

Walaupun beliau muslim tapi setiap kegiatan GEMAKU kami selalu bekerjasama saling membantu. Belakangan anak Udin ‘sedih’ meninggal dunia karena katanya tersetrum kabel listrik ketika mencuci truk. Sungguh berduka kita karena kehilangan team terbaik kita.

Pasca wafatnya anak Udin ‘sedih’ kami tetap berhubungan baik. Setiap ada pembagian baksos di Kelenteng Hok Tek Bio saya tidak pernah lupa menyimpan beberapa kupon beras untuk Udin ‘sedih’ dan keluarga. Hubungan Udin ‘sedih’ yang muslim dengan Kristan yang Khonghucu terasa tidak pernah melihat sekat-sekat asal-usul. Kita cuma faham kalau kita sebagai sesama manusia harus terus saling silahturahmi dan mendukung satu sama lain. Sebab seperti kata Confucius “All men are brothers and sisters”. Saya berharap Udin ‘sedih’ tetap selalu semangat ditengah pandemi Covid 19 ini. Tetaplah jujur dan bersahaja.

Advertisement

Taukah anda apa yang sudah diantarkan oleh Udin ‘sedih’ untuk keluarga saya mensyukuri kenikmatan Idul Fitri tahun ini? 1/8 kue bolu, segengam kacang goreng, seplastik ‘kangsreng alias tumpi, segenggam dodol dan segenggam Tape Uli. Sungguh pemberian Udin ‘sedih’ begitu berharga. Karena Udin ‘sedih’ memberikannya dari kekurangannya bukan dari kelebihannya. Analogi ini digunakan Jesus ketika ada seorang janda yang memberikan donasi dari kekurangaannya, dimana menurut Jesus Janda itu justru memberikan donasi yang justru tak ternilai.

Dimata saya pemberian Udin ‘sedih’ sebuah pemberian berlimpah yang sanggat mulia. Saya sangat mensyukurinya dengan gembira. Istri saya tersenyum bahagia. Hari ini Udin ‘sedih’ memberikan berkah yang luar biasa pada keceriaan keluarga kami. Ketulusan Udin ‘sedih’ bagi saya sangat menggerakan Langit dan Bumi.

Selamat Idul Fitri 1414 H untuk Udin ‘sedih’ dan saudara-saudara muslim diseluruh dunia. Semoga berkah Idul Fitri memberikan damai dihati kita semua. Mohon maaf Lahir dan Bathin.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*