Kuat Dugaan Kongkalikong, CBA Dorong Kejari Kota Bogor Selidiki Proyek-proyek CV. Ananda Azka Perkasa

Proyek kolam retensi di Tanah Baru, Kota Bogor, yang dikerjakan oleh perusahaan yang diduga beralamat fiktif (dok. KM)
Proyek kolam retensi di Tanah Baru, Kota Bogor, yang dikerjakan oleh perusahaan yang diduga beralamat fiktif (dok. KM)

BOGOR (KM) – Perusahaan yang memenangkan sejumlah tender proyek pembangunan di lingkungan Pemerintah kota Bogor, CV. Ananda Azka Perkasa, diduga melanggar Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Temuan itu berdasarkan hasil penelusuran kupasmerdeka.com yang menemukan bahwa pada tahun anggaran 2019, CV. Ananda Azka Perkasa mendapatkan paket pekerjaan barang dan jasa di Dinas PUPR Kota Bogor sebanyak 4 paket pekerjaan, yakni proyek pembangunan dan penataan kolam retensi di Kelurahan Tanah Baru Kota Bogor dengan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Rp9.629.646.396,89, pembangunan lift gedung Sekretariat Daerah Kota Bogor dengan HPS Rp4.794.714.294,65, peningkatan trotoar Jalan Pemuda Kota Bogor dengan HPS Rp1.009.996.433,94, dan peningkatan Jalan Pajajaran Indah V Kecamatan Bogor Timur Kota Bogor, dengan HPS Rp1.899.663.144,19.

Ketentuan Pasal 47 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 1999 menyatakan bahwa KPPU berwenang untuk menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1999.

Menyikapi hal tersebut Koordinator Investigasi di Center For Budget Analysis (CBA) Jajang Nurjaman menduga proyek pembangunan dan penataan kolam retensi “sudah dimainkan sejak proses tender”.

“Ya pelaksanaan lelang pada proyek kolam retensi, hanya formalitas belaka, karena diduga kuat pemenang proyek sudah diarahkan,” ungkap Jajang kepada KM, Minggu 9/2.

Jajang menuturkan, hal ini terlihat dari penentuan pagu anggaran dan Harga Perkiraan Sendiri yang sama di angka Rp 9,6 miliar.

“Selanjutnya perusahaan yang dimenangkan oleh pihak Pokja ULP, CV. Ananda Azka Perkasa, terlihat dipaksakan, padahal dari segi tawaran harga jauh dari angka standar. Menurut CBA nilai proyek ini tidak lebih di angka Rp 8,7 miliar,” tutur Jajang.

Masih kata Jajang, dari segi penilaian harga CV. Ananda Azka Perkasa mengajukan nilai kontrak sebesar Rp 8,8 miliar, dan berada di urutan keempat dalam lelang proyek tersebut.

“Akibatnya, karena proyek ini sejak awal sudah dimainkan, pekerjaannya pun asal-asalan, pengerjaan terlambat, dan tidak sesuai RAB. Fakta lainnya CV. Ananda Azka Perkasa diduga menjadi perusahaan favorit Pemkot Bogor karena memenangkan beberapa proyek lainnya. Hal ini jelas melanggar 1. Surat Perjanjian Kontrak, 2. Perpres No. 54 tahun 2010 dan perubahaannya sebagaimana pasal 6 point f tentang etika yang menghindari dan mencegah pemborosan dan kebocoran uang negara, serta pasal 22 UU No. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat,” tegas Jajang.

Lebih lanjut Jajang mengatakan, CBA mendorong pihak berwenang, khususnya Kejari Kota Bogor, untuk membuka penyelidikan atas proyek pembangunan dan penataan kolam retensi, serta proyek lainnya yang dimenangkan oleh CV. Ananda Azka Perkasa.

Reporter: TIM RED
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*