KUPAS KOLOM: Tugas Wartawan Tidak Lepas Dari Tugas Kerosulan

Oleh Ust. H. M. Yasin, MD, Penulis buku “Rekonstruksi Sunan Kalijaga Kembali ke Kitabullah”

Pesan dari seseorang yang tidak pernah bohong, yaitu Rasulullah SAW. “Aku tinggalkan kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah tersesat dengan dua perkara tersebut, yaitu Kitabullah dan sunahku (Nabi)”. Kitabullah juga disebut al Qur’an, al kitab, al furqon, annur, arruuh, dan lainnya.

Al Qur’an berarti bacaan, al kitab berarti yang tertulis. Kitabullah yang terakhir untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya agar update atau sesuai dengan jamannya.

Dari jaman awal hingga akhir dan tidak diragukan isinya baik yang tersurat maupun yang tersirat, baik yang bermakna muhkamat maupun yang bermakna mutasyabihat, tinggal sejauh mana kemampuan daya cipta dan daya rasa manusia untuk menyerap informasi berita tersebut, untuk mampu berkomunikasi denganNya dan menyampaikan pesan berita sesamanya.

Karena tersusun dari susunan aksara Hijaiyah, yang bernilai dan penuh hikmah, diperlukan keseriusan untuk memahami dan mendalami agar benar-benar bisa menjadi petunjuk prilaku kehidupannya.

Selanjutnya bahwa tugas wartawan juga merupakan tugas kerosulan karena harus menyampaikan risalah artinya kabar berita. Maka harus mengikuti Sunah Kenabian, yakni mengikuti proses perjalanan dan ajaran Nabi.

Bagaimana perjalanan dan ajaran Nabi? Wartawan hendaknya mengetahui dan memahami sehingga mampu mencontohnya.

Diawali dengan Iqro’ artinya seorang Wartawan harus mampu membaca peluang dan keadaan, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan semesta sesuai dasar Negara Garuda Pancasila, selanjutnya wartawan mampu hijrah setelah iqro’.

Maksudnya hijrah mampu berubah, berpindah pola pikir, pola bicara dan penulisan, pola sikap dan tindakan, pola hidup mengarah kearah yang lebih baik dan benar.

Setelah mampu iqro’ dan hijrah, selanjutnya wartawan hendaknya mampu nenyampaikan berita sesuai tugas dan peran fungsinya agar sesuai tempat dan tepat manfaat sebagai berita sekaligus kontrol masyarakat dalam menyampaikan informasi (tabligh) dengan kecerdasan analisa menggunakan kemampuan daya cipta (pemikiran) dan daya rasa (perasaan) dalam karsa (kehendak) agar sesuai kehendakNya, tidak terbelenggu oleh ego diri (futuh) dengan merdeka atau tanpa terpaksa.

Tentunya perlu dibarengi dengan sifat kenabian yaitu jujur diri (sidiq), berdasarkan fakta dan data (amanah), dan diberitakan atau diinformasikan (tabligh) dengan kecerdasan (fathonah).

Semoga tugas kerosulan yang diemban wartawan senantiasa mendapat limpahan berkah dan RidhoNya.

Komentar Facebook