Untuk Dapat Ijazah Harus Bayar Denda Rp500 Ribu, MAS Al-Muhajirin Cigudeg Dituding “Matre”

MA Swasta Al Muhajirin, Cigudeg, Kabupaten Bogor (dok. KM)
MA Swasta Al Muhajirin, Cigudeg, Kabupaten Bogor (dok. KM)

BOGOR (KM) – Sekolah “matre”, itulah kata-kata yang keluar dari Yopri, aktivis pemerhati pendidikan dari kalangan Nahdliyin, menyikapi adanya praktek penahanan ijazah siswa oleh MA Al-Muhajirin yang harus ditebus dengan bayar denda senilai ratusan ribu rupiah akibat melakukan aksi corat-coret pakaian.

Mengomentari pemberitaan sebelumnya, pihak sekolah membuat peraturan yang memaksa siswa harus membayar denda dengan nominal uang satu juta rupiah untuk siswi dan lima ratus ribu rupiah untuk siswa dengan dalih untuk menegakkan disiplin. Adanya penahanan ijazah tersebut, dalam pernyataannya via Whatsapp kepada awak media Kamis 5/12, Yopri mengingatkan agar sekolah tidak bertindak semena-mena.

“Sekolahnya matre, berarti tinggal kita kampanyekan sekolah agama itu matre, emang bikin sekolah buat nyari duit? Berarti niat awalnya bukan untuk mendidik,” tegasnya.

Ia pun kemudian menyinggung perbedaan standar yang diterapkan oleh Madrasah dengan sekolah-sekolah Kristen.

“Makanya sekolah swasta gini gak akan berkah pake label agama, kualitas Madrasah Aliyah kalah sama sekolah Kristen, lihat Kristen yang bikin metode pendidikannya lebih bermoral dan tidak mata duitan, emang menjamin diterapkannya peraturan seperti itu lulus sekolah menjadi orang benar? Kan tidak,” tegasnya.

“Peraturan seperti itu mendidik jadi kapitalisme itu namanya. Setiap melanggar, denda, salah, denda. Udah kaya liberal,” katanya.

Advertisement

Penahanan ijazah siswa yang dilakukan MA Al-Muhajirin juga menjadi perhatian serius Robinton Sitorus, anggota DPRD Kabupaten Bogor Komisi 4 dari PDI Perjuangan. Menurutnya, tindakan tersebut “tidak terpuji dan tidak mendidik”.

“Hukuman denda terhadap siswa kurang tepat, karena seperti yang kita ketahui pelajar atau siswa belum mempunyai penghasilan. Jika ini dipaksakan, akhirnya siswa tersebut akan meminta kepada orang tua,” katanya.

“Sehingga orang tua kembali dipusingkan dengan biaya, sanksi yang paling tepat diberlakukan kepada siswa karena ketidak disiplinnya semestinya sanksi sosial,” lanjutnya.

“Semisal kerja bakti di lingkungan sekolah atau membersihkan WC di sekolah sehingga mempunyai dampak yang langsung dirasakan siswa tersebut dan juga memberikan efek jera bagi siswa lain atau adik kelasnya pada lulusan tahun berikutnya tidak melakukan perlakuan serupa,” tegasnya.

Secara terpisah, dikonfirmasi via Whatsapp, Camat Cigudeg Acep Sajidin mengaku akan mendatangi MA Al-Muhajirin.

“Besok saya akang datang ke MA Al Muhajirin ingin menggali apa yang sebenarnya terjadi, kalau memang perlu akan saya fasilitasi pertemuan orang tua dan pihak sekolah,” katanya.

Reporter: Dian Pribadi
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*