Penerima Beasiswa LPDP Gandeng LIPI dan KLHK, Gali Dampak dan Solusi bagi Polusi Plastik

Workshop LPDP, LIPI dan KLHK tentang dampak polusi plastik di Bogor, Sabtu 30/11/2019 (dok. KM)
Workshop LPDP, LIPI dan KLHK tentang dampak polusi plastik di Bogor, Sabtu 30/11/2019 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tergabung dalam
Persiapan Keberangkatan-148 “Arka Bhumi” berkolaborasi dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan workshop nasional keterancaman keanekaragaman hayati bertema “Pengelolaan Lingkungan dan Habitat untuk Keberlangsungan Hidup Flora dan Fauna di Indonesia” di Gedung Widyasatwaloka Bogor, Sabtu 30/11.

Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang dampak polusi plastik dan faktor lainnya yang mempengaruhi keberlangsungan hidup flora fauna serta lingkungan sekitar.

Workshop ini juga menghadirkan pembicara dari elemen peneliti
(Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pemerintah (Kementerian Kehutanan dan
Lingkungan Hidup) dan Non-Government Organization yang dimoderatori oleh salah satu penerima beasiswa LPDP.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Rahmadi mengatakan, LIPI sangat mengapresiasi kegiatan Arka Bhumi yang menginisiasi kegiatan peduli pengelolaan sampah. “Dimana sampah plastik di Indonesia terletak dari hulu sungai sampai
hilir sungai,” ungkap Cahyo.

“Indonesia menghasilkan 67 juta ton sampah. Jumlah ini dapat mengancam keanekaragaman hayati. Peran LIPI adalah memberi data scientific terbaru tentang data pengelolaan sampah di Indonesia. Selain itu, data yang ditampilkan akan dibuat menjadi
lebih mudah diakses dengan mengkolaborasikan antara bidang sains dan pemahaman
masyarakat,” papar Cahyo.

Kasubdit Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah
(PSLB3) KLHK Ujang Solihin Sidik mengatakan, untuk dapat membentuk keberhasilan pola perilaku masyarakat
Indonesia menjadi lebih peduli pada pengelolaan sampah, dibutuhkan peran edukasi dan
intervensi aturan. “Salah satu yang paling penting adalah menekankan pada setiap individu bahwa setiap orang bertanggung jawab atas sampahnya sendiri,” terang Ujang.

“Ya dari data KLHK, sebanyak
72 persen masyarakat Indonesia tidak peduli pada pengelolaan sampah. Oleh karena itu, KLHK mendukung terjalinnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk elemen masyarakat, salah satunya dengan PK-148 Arka Bhumi agar dapat menjadi agent of change bagi lingkungan sekitarnya,” jelas Ujang

Sementara Founder Tanah Tinggi Highland Conservation Mohammad Ridwan mengatakan bahwa pengelolaan sampah di lingkungan gunung belum menemukan cara yang tepat dan berpotensi mencemari sumber mata air.

“Terlebih lagi, sampah yang ada di gunung, tidak hanya berasal dari penduduk lokal namun juga para pendaki. Sehingga akhirnya timbul
masalah baru yaitu ada potensi sampah yang besar di taman-taman wisata,” ujar Ridwan.

“Memang belum ada data yang pasti mengenai potensi sampah tersebut, tapi memang menurut pantauan kami, jumlah sampahnya tidak sedikit. Belum lagi masih banyak pendaki dan pengunjung,
yang belum mengerti bahwa sampah yang mereka produksi harus mereka bawa turun,” lanjutnya.

“Untuk itu, penting memberikan edukasi baik untuk penduduk lokal maupun pendaki dalam mengelola sampahnya. Di samping itu, masalah sampah juga turut mempengaruhi pola perilaku hewan yang juga mempengaruhi keterancaman hayati,” pungkas Ridwan.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*