Dialog Kebangsaan APPN Banten: “Generasi Milenial Jangan Terjerumus Ke Dalam Fanatisme Eksklusif”

Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Aliansi Pemuda Peduli Negeri (APPN) di Saung Edi Bayangkara Kota Serang, pada Jumat, 13/12/2019 (dok. KM)
Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Aliansi Pemuda Peduli Negeri (APPN) di Saung Edi Bayangkara Kota Serang, pada Jumat, 13/12/2019 (dok. KM)

BANTEN (KM) – Kemajuan teknologi telah memberikan dampak positif dan negatif terhadap kehidupan masyarakat. Derasnya arus informasi yg tersebar melalui teknologi internet dan media sosial telah memudahkan pengguna Internet untuk mengakses beragam informasi yg berguna bagi kehidupan masyarakat. Namun teknologi ini juga mendatangkan dampak negatif antara lain yaitu menyebarnya paham radikalisme yang menjurus pada aksi terorisme.

Beberapa penelitian menyebutkan, sejak era reformasi yang diikuti dengan masifnya perkembangan revolusi industri 4.0, generasi muda terutama mahasiswa merupakan pihak yang rawan terpapar oleh paham radikalisme, sebagai dampak dari aktivitas penggunaan internet dan media sosial atau medsos.

Hal itu dipaparkan dalam acara dialog kebangsaan yang digelar oleh Aliansi Pemuda-Peduli Negeri (APPN) di Saung Edi Bayangkara Kota Serang, Jumat 13/12, yang mengusung tema “Peran Mahasiswa Jaman Now Dalam Mencegah Radikalisme dan Terorisme Di Era Informasi”.

Sekretaris Prodi MPI S3, UIN Sultan Maulana Yusuf Banten, Dr. Ali Muhtarom memaparkan bahwa sejak masa reformasi di Indonesia telah berkembang upaya pemaksaan suatu paham keagamaan yang disebarkan oleh kelompok- kelompok tertentu untuk mengkoreksi pola kehidupan beragama di masyarakat.

“Kelompok ini muncul utk menyebarkan pemahaman keagamaan dan membangun kebenaran versi mereka sendiri,” kata Ali.

Hal ini kemudian menjadi persoalan, dan telah menyebabkan persaingan otoritas keagamaan yang memuat paham-paham transnasional dari luar negeri, katanya. “Dampak lain yang muncul adalah adanya pemahaman yang bersifat ensiklopedis, dimana pemahaman tersebut muncul dari pemahaman yang sifatnya instan, tidak mendalam berdasarkan kajian utuh dalam materi keagamaan. Pemahaman ensiklopedis ini tumbuh dan berkembang secara cepat di lingkungan masyarakat, ditandai dengan munculnya para tokoh yang masih memahami keagamaan secara instan namun sudah populer di tengah masyarakat,” papar akademisi itu.

“Baru membaca satu buku agama, sudah disebut ustad. Padahal pemahaman beliau tentang agama, masih dangkal dan mentah. Ini menjadi tantangan bagi generasi muda untuk menangkal paham semacam ini. Pemahaman instan tersebut kemudian disebarkan secara masif melalui media internet dan medsos, yang kemudian dikonsumsi oleh masyarakat terutama generasi milenial. Tidak jarang pemahaman tersebut dibarengi dengan penyebaran hate speech, dan berita hoaks, yang kemudian menjadi bibit paham radikalisme yang menyebar ke masyarakat,” lanjutnya.

Ulama karismatik Banten Gus Soleh mengatakan, pasca reformasi yang ditandai dengan munculnya banyak partai politik, turut menyuburkan tumbuhnya paham yang bertopeng agama untuk meraih kekuasaan. Selain itu, munculnya fanatisme keagamaan, yang dipahami secara berbeda dibandingkan dengan kebanyakan paham keagamaan di Indonesia. “Walaupun sifat fanatisme terhadap agama adalah hal yang dibolehkan dalam agama Islam, namun fanatisme tersebut perlu diarahkan pada pemahaman kegamaan yang utuh, sejalan dengan rasa nasionalisme dan kebangsaan yang kuat, demi utuhnya persatuan dan kesatuan di Indonesia, agar tidak kebablasan bahkan menyuburkan benih-benih radikalisme di Indonesia, yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu, untuk kebutuhan yang negatif dan menciptakan konflik,” jelas Gus Soleh.

“Fanatisme terhadap agama, dibolehkan dalam agama Islam, tapi fanatisme tersebut harus digunakan untuk mendorong persatuan dan kesatuan dalam lingkup NKRI,” kata Gus Soleh.

Sayangnya fanatisme yang berlebihan tersebut, menurut Gus Soleh, disebarkan dengan menggunakan berita hoaks dan cenderung mengandung ujaran kebencian, yang kemudian menimbulkan perdebatan paradigma yang merambah luas dan mengakar hingga ke generasi milenial dan tersebar secara masif melalui media internet dan medsos.

Ia menjelaskan, generasi milenial merupakan pihak yang rentan terpapar fanatisme tersebut karena aktif menggunakan medsos, dan berada dalam fase pencarian jati diri.

“Sehingga jika tidak diberikan pemahaman yang terarah menurut Al Quran dan Hadist, dikhawatirkan generasi milenial tersebut dapat terjerumus ke dalam fanatisme eksklusif, yang menciptakan karakter yang tidak mau menerima kebenaran dari luar mazhabnya sendiri, dan menyuburkan paham radikalisme yang berujung pada aksi terorisme.”

“Generasi milenial disarankan untuk mencari pemahaman keagamaan dari ulama yang tepat, bukan dari tokoh agama yang hanya memanfaatkan kepopuleran sementara, agar tidak terjerumus pada paham radikalisme,” tambahnya.

Oleh karena itu, menurutnya, untuk memberantas penyebaran paham radikalisme dikalangan generasi milenial terutama melalui medsos, generasi milenial perlu rajin mencari sumber informasi yang tepat, serta menjauhi sifat latah ketika menerima informasi yang belum jelas validitasnya.

“Kalo dulu ada ungkapan mulutmu harimaumu, sekarang ditambah uangkapan itu, yaitu jarimu harimaumu” kata Rizki Ikhwan dari Kominfo Serang.

Selain itu Rizki mengatakan generasi muda perlu memperkuat literasi, untuk membuat wacana tandingan untuk menangkal provokasi berbasis keagamaan, serta merebut institusi-institusi berbasis keislaman dari kelompok militan radikalisme.

“Generasi milenial perlu untuk mengetahui dan menghapalkan kembali lagu-lagu nasional yang pernah popular, untuk menanamkan rasa nasionalisme terhadap NKRI,” lanjutnya.

“Rasa nasionalisme perlu ditanamkan kepada semua generasi milenial, untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap negara Indonesia, sehingga menutup peluang masuknya paham radikalisme yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” pungkas Rizki.

Reporter: Marsono
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.