KUPAS KOLOM: Orang Jahat Berawal dari Orang Baik yang Dikutuk

Arief Lukman El Hakiem
Arief Lukman El Hakiem

Oleh Arief LH, Budayawan Kebumen

Dalam kehidupan kadang kita jumpai orang-orang jahat, julid dan rese yang over dosis. Gemar menebar kebencian, kerusuhan, permusuhan dan dimanapun dia berada pasti timbul konflik.

Namun tahukah kita bahwa kebanyakan orang jahat, licik dan keji dulunya adalah orang baik. Sebagaimana fitrah manusia, terlahir dalam keadaan bersih, suci tanpa dosa. Perjalanan dan pengalaman hidupnya lah yang membuat mereka berubah jadi jahat.

Dalam dunia politik apalagi. Orang baik bisa berubah jadi sangat jahat karena kalah bertarung secara menyakitkan. Bisa juga karena perjuangan dan pengorbanannya tidak mendapat balasan. Atau karena terlalu berambisi untuk menjadi penguasa dan terlena dengan gemerlap dunia.

Dunia film dan pewayangan sangat fasih menggambarkan betapa sebagian besar tokoh antagonis sejatinya dulu adalah orang baik. Sebut saja tokoh Arthur Fleck alias badut Joker dalam film Joker 2019. Arthur awalnya adalah orang baik, namun perjalanan hidupnya yang kelam membuat dia berubah menjadi psikopat yang sadis.

Sudah nonton filmnya belum Sedulur…?

Kemudian dalam cerita pewayangan ada tokoh Sengkuni yang terkenal licik, culas dan kejam. Trouble maker yang selalu mendesain kerusuhan dalam epos Mahabharata. Namun dibalik kelicikannya, ternyata dulunya Sengkuni adalah seorang kesatria dari Kerajaan Gandhara yang terhormat.

Namun dendam kesumat dan penderitaan yang teramat berat telah mengubah Subala, nama lain Sengkuni menjadi pribadi yang brutal, super licik dan kejam.

Kemudian ada juga nama Bathari Durga, tokoh wanita yang dalam pewayangan digambarkan berwujud raksasa mengerikan, bersifat bengis dan pembuat onar. Durga menguasai istana dunia kegelapan bernama Gondomayu atau Gandamayit. Rakyatnya terdiri dari para raksasa, jin, siluman, lelembut, gendruwo dan semua makhluk halus jahat.

Namun tahukah kita, sejatinya Durga adalah jelmaan seorang bidadari dari kayangan bernama Dewi Uma yang dikutuk oleh Mahadewa/Bathara Guru karena berbuat kesalahan. Selama dua belas tahun, Dewi Uma harus menjalani hukuman menjelma menjadi sosok Durga yang jahat dan bengis.

Adalah bungsu Pandhawa, pangeran Sadewa yang pada akhirnya mampu mengakhiri masa hukuman Durga, mengembalikan pada sosok Dewi Uma yang cantik jelita. Batari Durga diruwat oleh Sadewa yang kemudian diberi nama kehormatan, Sudamala.

Nah, ada kejahatan yang bisa ditebus/diruwat seperti Durga, namun ada kejahatan yang dibawa sampai mati seperti terjadi pada Sengkuni dan Arthur Fleck alias Joker. Ada jahat sementara, ada juga jahat permanen.

Nah, kita termasuk yang mana, Lurrr…?

Kalo sampean penjahat sementara, bisa diruwat seperti Batari Durga. Namun jika sifat jahat sampean sudah mengerak sampai tulang susmsum, alamat akan dibawa sampai kubur, seperti Sengkuni dan Joker.

Sementara, secara harfiah, Sudamala berasal dari dua kata, suda yang berarti mengurangi atau menghilangkan, dan mala yang artinya penyakit. Makna filosofis Sudamala ialah sang peruwat atau pembersih segala dosa dan kesalahan.

Kembali ke Jati Diri Bangsa

Hikmah lakon Sudamala atau Durga Ruwat ini sesungguhnya ialah penyelamatan bangsa Amarta dari pengaruh atau belenggu Bathari Durga. Dengan kata lain, membersihkan Amarta dari segala bentuk kezaliman.

Konteks dengan situasi kebangsaan saat ini, faktanya ada sebagian di antara kita yang sedang ‘menyembah’ Durga. Ada yang sedang berada dalam kekuasaan Durga. Yang paling nyata, misalnya, perilaku menghalalkan segala cara, seperti menghujat, memfitnah, menyebarkan kabar bohong (hoaks), dan mengadu domba.

Kondisi seperti itu bila dibiarkan akan membahayakan eksistensi bangsa dan negara. Oleh karena itu, ‘durga-durga’ (segala sumber penyakit) itu harus sesegera diruwat ‘sudamala-sudamala’. Maknanya, mereka mesti dicuci atau dibersihkan. Dengan demikian, bangsa ini kembali menemukan jati dirinya, bangsa yang beradab.

Komentar Facebook