Disdik Tanjungbalai Bekali Siswa SMP dengan Sosialisasi Anti Radikalisme dan Terorisme
TANJUNGBALAI (KM) – Upaya untuk mencegah paham radikalisme dan dan terorisme terus dilakukan Dinas Pendidikan Kota Tanjungbalai dengan mensosialisasikan kepada kalangan pelajar SMP negeri dan swasta dengan acara bertema “Penanaman Nilai Budaya untuk Mencegah Radikalisme” yang bertempat di aula Dinas Pendidikan Kota Tanjungbalai, Jln. Gaharu, Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjungbalai, pada hari Selasa 19/11.
Pada kesempatan tersebut Kasat Binmas Polres Tanjungbalai AKP Sahnur Siregar mengatakan bahwa radikalisme merupakan tindakan yang melekat pada seseorang atau kelompok yang menginginkan perubahan, baik sosial maupun politik, dengan menggunakan cara-cara kekerasan dan ekstrim.
“Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia sebagai kejahatan dengan kekerasan dengan jumlah korban yang tidak sedikit, kerugian materi serta nama baik bangsa dan negara,” jelas Sahnur.
Ia memaparkan, pemberantasan terorisme merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh Polri sebagai penegak hukum dan segenap instansi pemerintahan, TNI, LSM, dan seluruh warga masyarakat Indonesia dengan komitmen yang kuat sepenuhnya untuk melindungi masyarakat dan memberikan rasa aman, nyaman dan kondusif.
“Permasalahan yang ada, bahwa pelaku tertangkap, ketika diproses secara hukum, setelah lepas mereka cenderung mengulangi perbuatannya,” ujarnya.
Sementara itu, DR. Mulyadi dari Kemenag Kota Tanjungbalai menyampaikan bahwa Kemenag Kota Tanjungbalai bersama guru pendidikan Agama Islam berkontribusi dalam menanamkan nilai budaya kepada para siswa yang cenderung pola pikirnya mudah dipengaruhi radikalisme.
“Teroris pada saat ini kebanyakan menjual agama, bahwa mereka kebanyakan mengaku Islam, setelah itu menjalankan aksi bom bunuh diri.”
“Pelaku bom bunuh diri tersebut kebanyakan tidak mengenal budaya, budaya masyarakat Kota Tanjungbalai yang menyukai kedamaian, ramah tamah, dan sopan santun,” ungkap Mulyadi.
“Budaya orang Tanjungbalai adalah suka bersilaturahmi dan tidak menyukai kekerasan, budaya orang Tanjungbalai yang saling menghormati dan menghargai orang lain,” katanya.
“Radikalisme berasal dari bahasa latin radix yang berarti akar… Saya murid dari pesantren tidak pernah diajari menembak, tidak pernah diajari untuk membelot dari NKRI,” tuturnya.
Dari Kesbangpol, Agustoni menekankan bahwa label “radikal” tidak boleh dianggap enteng.
“Bicara tentang teroris ini sudah terdengar dari tahun 2001 di Indonesia. Sebelum itu, [ada yang] disebut dengan komunis, sementara saat ini lagi populer kata radikal,” ujarnya.
“Penyebutan ini selalu berubah tergantung situasi dan perkembangan zaman. Para pejuang kemerdekaan RI dahulu dikatakan ekstrimis dan inlander oleh penjajah Belanda, sekarang kalimat itulah yang dipakai dan menstigma orang dengan sebutan radikal,” ungkapnya.
“Kelompok radikal memang ada, tapi jangan terlalu mudah mengatakan seseorang itu radikal,” lanjutnya.
Penyuluhan bahaya radikalisme tersebut diikuti oleh sebanyak 25 orang terdiri dari 21 siswi perempuan dan 4 orang siswa laki-laki dari SMP negeri dan swasta.
Reporter: Eko Setiawan
Editor: HJA
Leave a comment