KUPAS KOLOM: Radikalisme Gerogoti Amerika Latin, Eropa Hingga Indonesia, dan bukan Islam Masalahnya

Hasan J. A., Pemimpin umum KupasMerdeka.com
Hasan J. A., Pemimpin umum KupasMerdeka.com

Oleh Hasan J. Almunawar, Pemimpin Umum Redaksi KupasMerdeka.com

Saudara, ketika kita bicara tentang “radikalisme”, maka yang muncul di benak kita adalah gambaran orang-orang yang fanatik dalam beragama, intoleran dan mendukung cara-cara kekerasan dan ilegal untuk melakukan perubahan besar, khususnya di bidang politik. Dalam konteks Indonesia, yang terbayang adalah kelompok-kelompok Islamis fanatik yang dipengaruhi oleh paham Wahabi dan memiliki sikap takfiri dan intoleran serta kerap menggunakan bahasa yang kasar. Kelompok-kelompok yang dicap sebagai radikal ini adalah mereka yang hendak mengubah dasar negara atau mendirikan semacam negara Islam atau penerapan hukum syariah melalui cara-cara yang tidak konstitusional dan kerapkali menindas kelompok-kelompok minoritas dengan menghalang-halangi kebebasan beribadah dan bahkan merusak rumah ibadah atau menganiaya hingga membunuh penganut kepercayaan minoritas seperti Kristen, Syiah atau Ahmadiyah.

Ya, ini memang wajah radikalisme di Indonesia, tapi sebenarnya, bukan seperti itu saja yang namanya “radikalisme” secara umum.

Mari kita menyeberang samudera ke Amerika Latin, dimana kelompok radikal Kristen Evangelical atau Injili menjadi mesin di balik kudeta militer terhadap Presiden Bolivia, Evo Morales. Istilah yang digunakan oleh para jurnalis luar negeri terhadap kelompok ini adalah “fasis kristen” dan “ekstrem kanan”. Sejatinya, mereka adalah kelompok radikal, yang memenuhi semua unsur dan ciri-ciri radikalisme yang disebutkan tadi.

Hitungan jam setelah Morales dipaksa mengundurkan diri oleh perwira militer di tengah kerusuhan yang meluas, tokoh oposisi Luis Fernando Camacho bersama beberapa pendukungnya merangsek masuk ke dalam Istana Presiden sambil memegang Alkitab dan bendera Bolivia dan mendeklarasikan bahwa dia telah berhasil membersihkan pemerintahan negerinya dari para penista agama, dan mengembalikan Tuhan ke dalam Istana Negara. Seorang pastur yang mendampinginya pun menyatakan bahwa Bolivia adalah milik Kristus, bukan Dewi Bumi bangsa asli Andes, Pachamama.

Di Amerika Serikat, para Kristen radikal juga menjadi basis pendukung bagi Donald Trump, yang menarik simpati mereka dengan janji-janji untuk melarang imigran Muslim, melarang aborsi dan membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko.

Di Eropa, radikalisme juga meningkat seiring membanjirnya imigran dari Timur Tengah, sehingga muncul gerakan seperti “Patriot Eropa Melawan Islamisasi Barat” atau PEGIDA, di Jerman.

Di India, Perdana Menteri Narendra Modi dengan Partai Hindu Nasionalisnya menjadi penghalang bagi otoritas untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap orang Islam, Kristen dan Sikh. Politisi partainya juga mengancam akan meratakan Taj Mahal dan membangun sebuah kuil di atasnya.

Sementara itu, Israel adalah sebuah negara yang dikuasai oleh radikal Zionis dari hulu ke hilir, yang telah mendeklarasikan bahwa Israel adalah negaranya bangsa Yahudi. Sejarah penindasan mereka terhadap bangsa palestina, baik itu Muslim, Kristen atau bahkan sesama Yahudi, sangat terkenal.

Jadi, saudara, sebagian dari umat Islam di Indonesia memiliki sifat radikal, sama seperti sebagian umat Kristen di Bolivia, Amerika atau Eropa. Sama juga seperti sebagian umat Budha di Myanmar atau sebagian Hindu di India. Radikalisme bukanlah sebuah potensi yang berada pada Muslim yang taat, bukan pula pada penganut Kristen, Hindu, Budha, dan Yahudi yang taat dan meneladani akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW atau Isa Almasih, Krishna, Gautama Budha atau Nabi Musa AS.

Dengan ini kita memahami bahwa radikalisme bukanlah sebuah masalah yang dikarang-karang untuk menyudutkan umat Islam, karena keberadaannya kita saksikan di seluruh dunia, oleh oknum penganut semua agama dan aliran politik. Yang mengancam persatuan bangsa dan hak asasi manusia bukanlah prinsip-prinsip Islam, tapi sifat merasa diri paling mulia, paling benar dan paling berhak. Justru Islamlah solusinya.

Di bulan Maulid ini, pantaslah bagi kita untuk berpikir kembali sebelum bertindak dan bertutur kata, terlebih lagi ketika dianggap mewakili Islam, dan menanyakan diri sendiri, “apakah saya telah mencerminkan akhlak seorang pengikut Rasulullah, atau tidak”?

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*