KKN Unwahas Semarang Angkat Potensi Desa Wisata Kandri

Penutupan KKN Mahasiswa Universitas Wachid Hasyim Semarang (A), Penebaran benih ikan oleh Wakil Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) H. Mudzakir Ali (B), Pelatihan Pembuatan Mie Majas (C) di Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati.
Penutupan KKN Mahasiswa Universitas Wachid Hasyim Semarang (A), Penebaran benih ikan oleh Wakil Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) H. Mudzakir Ali (B), Pelatihan Pembuatan Mie Majas (C) di Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati.

SEMARANG (KM) – Kuliah Kerja Nyata (KKN) XXII Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang secara resmi ditutup dengan karnaval mengangkat tema flora dan fauna serta pameran produk hasil program kerja seluruh kelompok KKN mahasiswa Unwahas Kampus I Sampangan pada Sabtu, 31/8/2019.

Ketua panitia, Azmi, mengatakan bahwa pihaknya ingin mengangkat kembali pamor Desa Wisata Kandri dari sisi kebudayaan, wisata alam, kuliner dan UMKM kreatif.

“Acara ini dimaksudkan untuk dapat mengangkat kembali pamor Desa Wisata Kandri dengan memperkenalkan kebudayaan, wisata alam, kuliner dan UMKM kreatif Desa Kandri yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas,” katanya.

Ia memaparkan, stand yang menarik antara lain kelompok yang ditempatkan di Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati dengan program unggulan mengusung tema Kandri Go Public yang mereka gelar pada Sabtu 24/8/2019 di Waduk Jatibarang. “Acara ini didasari bahwa Desa Wisata Kandri merupakan destinasi wisata yang menyuguhkan wisata alam namun belakangan ini mengalami kemunduran yang disebabkan antara lain berkurangnya minat wisatawan lokal dan warga Semarang sebagian berwisata ke luar daerah,” terangnya.

Lurah Kandri, Agus Mulyanto, mengatakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi KKN Unwahas yang telah berinisiatif untuk menyelenggarakan acara yang sangat unik ini.

“Kita sangat mengapresiasi para mahasiswa KKN Unwahas yang telah berinisiatif untuk menyelenggarakan acara yang sangat unik untuk masyarakat. Terima kasih juga kita sampaikan kepada Universitas Wahid Hasyim dan kehadiran Bapak Wakil Rektor Universitas yang mendukung mahasiswanya dalam program seperti ini semoga KKN nanti juga di Kelurahan Kandri,” katanya.

Dosen Pembimbing Lapangan, Dewi Hastuti, juga menceritakan tentang inovasi mahasiswa KKN yang memanfaatkan tepung mokaf yang diproduksi oleh UMKM Kandri, yang disajikan dalam produk mie “majas” yakni mie mokaf, jamur dan sayur.

“Mie majas yakni mie mokaf, jamur dan sayur, salah satu inovasi mahasiswa KKN ini dengan memanfaatkan tepung mokaf yang diproduksi oleh UMKM Kandri. Bahan dasar mie adalah tepung terigu, yang kita ketahui merupakan produk impor. Melihat adanya potensi tepung mokaf, mengapa tidak mencoba membuat mie menggunakan tepung mokaf ini,” katanya.

“Tepung mokaf bisa menggantikan tepung terigu sampai dengan 50%. Mie majas ini menggunakan pewarna alami dari buah naga untuk merah, sayur sawi untuk hijau dan wortel untuk kuning. Tidak hanya buah dan sayuran tersebut, tapi bisa menggunakan buah dan sayur lainnya. Hasil olahan mie majas mendapat perhatian dari masyarakat karena warnanya bagus dan rasanya enak, tidak kalah dengan mie dari tepung terigu,” jelasnya.

Pada kegiatan ini, 30 porsi mie ayam majas habis terjual dengan harga 10 ribu rupiah per porsi. Diharapkan mie Majas bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan yang sehat dan bergizi untuk keluarga terutama anak- anak yang sulit untuk makan sayuran. Pelatihan pembuatan mie Majas juga telah disampaikan oleh mahasiswa KKN kepada warga Kelurahan Kandri sehingga masyarakat bisa mengolah dan memproduksi sendiri, minimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Reporter: Marsono Rh
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*