Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Canangkan Gerakan Berkebaya di Hari Selasa

(dok. KM)

JEMBER (KM) – Jika Anda berkunjung ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember di hari Selasa, anda akan menemukan suasana berbeda. Pasalnya banyak dosen perempuan FIB yang memakai kebaya saat beraktivitas. Hal itu karena semenjak 2 bulan terakhir, FIB Universitas Jember mencanangkan “Gerakan Berkebaya di Hari Selasa”.

Menurut Retno Winarni, Wakil Dekan I FIB, tujuan Gerakan Berkebaya di Hari Selasa dalam rangka melestarikan dan mencintai budaya Indonesia yang diwujudkan dengan memakai kebaya sebagai salah satu pakaian nasional Indonesia.

“Awalnya dari bincang-bincang ringan sesama dosen perempuan di sini yang kadang bingung mau memilih pakaian apa ke kampus sebab memang tidak ada seragam. Akhirnya tercetus ide bagaimana jika memakai kebaya saja, apalagi gerakan memakai kebaya banyak dilakukan di berbagai daerah bahkan di berbagai lembaga dan instansi, akhirnya kami sepakat memakai kebaya saat ngantor,” kata Retno.

“Awalnya kami sepakat memakai kebaya di hari Kamis, tapi kami ganti di hari Selasa sebab sudah ada aturan di hari Kamis memakai batik,” lanjut Retno Winarni saat ditemui KM di ruang kerjanya kemarin 11/9.

Retno juga menjelaskan jika awalnya hanya beberapa orang saja yang memakai kebaya, namun seiring berputarnya waktu, kini Gerakan Berkebaya di Hari Selasa di FIB makin meluas, yang semula hanya dosen perempuan saja yang memakai, kini para karyawan perempuan di FIB pun turut memakainya.

“Awalnya sempat gak pede memakai kebaya, sebab sering ada yang mengira kami baru pulang dari kondangan, tapi kini semuanya sudah tahu bahkan mengapresiasi Gerakan Berkebaya di Hari Selasa di FIB,” terang Retno.

“Tapi perlu diingat, gerakan ini bukan keharusan lho, sebab hanya bersifat himbauan saja,” ujar Retno Winarni sambil mengingat-ingat kali pertama gerakan ini diinisiasi.

“Kami berharap dengan menggunakan kebaya, akan mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme yang tetap teguh dalam mempertahankan nilai nilai kebudayaan Indonesia, terutama di kalangan mahasiswanya,” ungkap dosen yang sehari-harinya juga mengajar di Program Studi Ilmu Sejarah ini.

“Sebenarnya pemakaian kebaya bukanlah hal yang asing di kampus, hal ini terlihat saat yudisium dan wisuda banyak mahasiswi yang menggunakan kebaya. Semoga nanti mahasiswi FIB juga tertarik menjadikan kebaya sebagai pakaian saat kuliah, bahkan siapa tahu ada desain khas kebaya Jember misalnya,” imbuh Retno Winarni lagi.

Gerakan Berkebaya tersebut ternyata mendapatkan respon positif di kalangan mahasiswa. Seperti yang dituturkan oleh M. Rigoe Prawiro, mahasiswa Program Televisi dan Film (PSTF). Menurutnya, dosen dan karyawan yang berkebaya akan memberikan contoh yang positif dikalangan mahasiswa.

Dina Yulinda, kolega Rigoe di PSTF juga mengatakan jika Gerakan Berkebaya di Hari Selasa sudah cocok sekali dengan dengan nama fakultasnya yaitu Fakultas Ilmu Budaya.

Reporter: sr/iim/fen
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*