Buku Puisi Yogen Sogen Dapat Apresiasi dari Politisi dan Budayawan

Bedah buku
Bedah buku "Di Jakarta Tuhan Diburu Dan Dibunuh" karya Yogen Sogen di Taman Ismail Marzuki, Senin 15/7/2019 (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Taruna Merah Putih (TMP) Restu Hapsari mengajak masyarakat mencintai dunia sastra, sehingga dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara mampu mewarnai kehidupan dengan prinsip “saling merayakan keberagaman, kemanusiaan, hidup yang solider”, dan “mampu menyelami realitas hidup kita akan kebenaran”.

“Pada saat ini, masyarakat kita hendaknya kembali mencintai dunia sastra. Karena di dalamnya, kita menyelami dan merefleksikan berbagai macam kompleksitas kehidupan yang manis dan puitik, sekaligus merayakan sosio kultur dan iman yang plural,” ungkap Restu dalam acara bedah buku berjudul “Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh” yang ditulis oleh penyair Indonesia Yogen Sogen, di Taman Ismail Marzuki, Senin 15/7.

Selain itu, politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini pun mengapresiasi keberanian penulis dengan daya kritis yang imajinatif, karena mampu “meramu kepelikan panggung perpolitikan kita yang begitu pekat” hingga hawa multikultural yang sejatinya menjadi kekayaan berubah menjadi anyir dan terlihat menakutkan.

Namun, lanjut Sekjen DPP TMP tersebut, melalui karya ini Yogen mampu memberikan interupsi kebangsaan. “Dengan daya imajinasi puitik yang bernas, kita semua diajak kembali ke dalam keheningan, mengasah kepekaan dan intuisi kita untuk melihat hal-hal yang pelik dan menghidupkan kembali makna hidup solider,” katanya.

“Sebagai bangsa yang berbhinneka, kita semua memiliki tugas untuk kembali merawat tanah persatuan yang gersang, kembali menyemaikan persatuan di hati kita dan memaknai kekayaan bangsa kita dengan sejuk seperti puisi yang memberi keteduhan di hati kita,” ajaknya.

Sementara itu, Sastrawati NTT Fanny J. Poyk yang hadir sebagai pembedah buku mengatakan, sebagai penyair muda, beberapa puisi yang ditulis sarat dengan perenungan jiwa akan keadaan alam, politik, manusia juga agama.

“Yogen menuangkannya dengan pemilihan metafora dan diksi yang memikat, permainan kata yang berasal dari metafora yang dikuasainya, menggiring diksi yang ada di tiap kalimat demi kalimat yang pada akhirnya bermuara di satu titik yang menyatakan bahwa kehidupan ini demikian absurd,” ungkap putri dari Gerson Poyk tersebut.

Selanjutnya, Budayawan Flores Timur sekaligus pengamat seni pertunjukan Indonesia, Silvester Petara Hurit yang juga sebagai pembedah buku dalam pandangannya mengungkapkan, dalam konteks Tuhan yang disajika Yogen dalam buku ini adalah Tuhan yang satu namun berwajah plural, Tuhan yang solider, yang penuh welas asih. “Seperti puisi menyentuh setiap pribadi menggugah setiap manusia untuk mencintai segala kehidupan,” pungkasnya.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*