Banyak yang Derita TBC dan ISPA akibat Polusi, Warga Cimande Hilir Akan Adukan PT. Tirta Fresindo Jaya Ke Komisi VII DPR

Kuasa hukum dan warga Kp. Tenggek, Cimande Hilir, Kabupaten Bogor,  saat audiensi dengan DLH Kabupaten Bogor (dok. KM)
Kuasa hukum dan warga Kp. Tenggek, Cimande Hilir, Kabupaten Bogor,  saat audiensi dengan DLH Kabupaten Bogor (dok. KM)

BOGOR (KM) – Dugaan pencemaran lingkungan oleh PT. Tirta Fresindo Jaya yang digugat oleh warga Kampung Tenggek, Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, terus bergulir. Kini kuasa hukum warga dari Kantor Hukum Sembilan Bintang dan Partners, setelah mendatangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor dan gagal dalam proses uji petik, akan mendatangi Komisi VII DPR-RI.

Kuasa hukum warga, Anggi Triana Ismail mengatakan bahwa langkah ini diambil lantaran gagalnya proses uji petik yang dilakukan DLH Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu. “Proses uji petik air, asap, kebisingan dan getaran gagal karena pengujiannya tidak sesuai kesepakatan yaitu dilakukan di lokasi terdampak, sementara DLH dan tim laboratarium menginginkan uji petiknya di dalam PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora dan Vitazon grup),” ungkap Anggi dalam rilis pers yang diterima KM Senin 8/7.

“Sesuai perjanjian awal, operasional mesin di PT. Tirta Fresindo Jaya juga harus berjalan optimal sementara Senin pagi mesin-mesin pabrik tidak dijalankan sesuai perjanjian tersebut,” tambah Anggi.

Kata Anggi, karena mesin-mesin pabrik tidak berjalan optimal maka pihaknya pun semakin mantap menolak undangan uji petik limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3), kebisingan dan getaran tersebut. “Selain akan mengadukan hal ini ke Komisi VII DPR RI kami juga menginginkan uji petik yang mendadak karena kalau ada pemberitahuan seperti hari ini, pihak perusahaan pasti sudah meminimalisir kegiatan produksinya,” terangnya.

Seorang warga RT 04, Sholah, mengatakan bahwa akibat pembuangan limbah B3 yang diduga tidak sesuai prosedur, banyak warga menderita penyakit tuberkulosis (TBC) dan infeksi saluran pernapasan (ISPA).

“Dulu sebelum berdirinya pabrik PT. Tirta Fresindo Jaya penderita penyakit TBC atau ISPA paling satu atau dua orang, saat ini setiap rumah pasti ada yang menderita penyakit paru-paru atau pernapasan tersebut,” ungkap Sholah.

Sholah menuturkan, untuk dampak kebisingan dan getaran mesin pabrik selain menimbulkan ketidaknyamanan juga membuat retak tembok rumah warga.

“Mesin-mesin pabrik itu beroperasi 24 jam hingga selain berisik getarannya juga seperti gempa hingga membuat kami tidak nyaman. Selain itu ada warga yang baru membangun rumahnya, kondisi susunan batanya tidak presisi karena getaran yang ditimbulkan mesin pabrik PT Tirta Fresindo Jaya,” tuturnya.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Penataan Hukum DLH Kabupaten Bogor Budi Mulyawan menjelaskan jajarannya sebelumnya mendapatkan limpahan aduan warga Kampung Tenggek ini dari DLH Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

“Berdasarkan aduan warga tersebut kami sudah menindaklanjuti berupa rapat pada hari Kamis dan melakukan uji petik limbah B3, kebisingan dan getaran di lokasi pabrik dan rumah warga terdampak. Tetapi pada kesempatan ini warga dan pengacara tidak hadir di lokasi PT. Tirta Fresindo Jaya, uji petik ini akhirnya kita tunda sampai waktu yang akan kami sepakati,” pungkas Budi.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*