Wakil Walikota Bogor: Pembangunan Masjid Agung Baru Bisa Dilaksanakan Tahun Depan

Wakil Walikota Bogor Dedie Rachim meninjau bangunan Masjid Agung Bogor, Senin 8/7/2019 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengakui bahwa proses renovasi Masjid Agung Bogor menunggu “rekomendasi”, dan kemungkinan besar proyek tersebut baru bisa dilaksanakan tahun depan.

“Setelah ada rekomendasi, baru kita tentukan sikap dalam proses renovasi Masjid Agung Bogor, dari sisi waktu kelihatannya kita tidak bisa melakukan tender atau melanjutkan konstruksi tahun 2019 ini. Kalau memang ada rekomendasi bisa saja nanti kita lakukan tender sebelum Januari, kemudian per Februari 2020 bisa meredesain,” terang Wakil Walikota Bogor Dedie A. Rachim saat meninjau untuk dilakukan audit dan pengkajian soal pembangunan Masjid Agung Bogor di Jalan Dewi Sartika Kota Bogor, Senin 8/7.

“Mungkin ada redesain, setelah redesain kemudian kita rebudgeting, kemudian menenderkan. Sementara anggaran sebelumnya bukan tidak di serap tapi dialihkan untuk kepentingan yang lain,” ungkap mantan direktur di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.

Sebelumnya, pada 2016, proses renovasi pertama terhadap masjid itu berjalan dengan anggaran Rp 8,5 miliar. Kendati demikian, renovasi sempat vakum pada 2017 dan baru bisa berlanjut lagi pada 2018 dengan anggaran sebesar Rp 8,7 miliar.

Rancangan desain bangunan serta anggaran yang akan diterapkan di dalam renovasi Masjid Agung sudah masuk ke dalam tahapan dokumentasi yang siap dimasukkan ke proses lelang. Sebelumnya, proses lelang sempat dimasukkan pada awal Januari ini, namun tidak bisa ditindaklanjuti karena adanya rencana peralihan kewenangan.

Lebih lanjut Dedie menjelaskan, yang utama dipikirkan adalah “keselamatan umat”, seperti yang disampaikan ketua Tim Keselamatan Konstruksi (K2), bahwa bangunan masjid itu memiliki standar keamanan yang lebih tinggi umumnya, dibanding bangunan lain.

“Ya tentunya kita berharap pemborong atau pihak ketiga bekerjasama memberikan data-data yang dibutuhkan untuk bahan evaluasi tim K2 ini. Intinya kita ingin melanjutkan tapi kita juga harus memikirkan keselamatan,” pungkas Dedie.

Di tempat yang sama, ketua Tim K2 Iswandi menjelaskan, bangunan masjid tentunya terkait ketentuan yang ada, harus punya faktor keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.

“Bangunan masjid berdasarkan ketentuan juga, kalau ada bencana ini bisa jadi salah satu tempat evakuasi warga, jadi diharapkan bisa jadi tempat penampungan sementara,” terangnya.

“Untuk mewujudkan itu tingkat keamanannya harus tinggi dibandingkan bangunan biasa. Itu akan keluar rekomendasi dari kami, agar mencapai apa yang diharapkan,” tutupnya.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*