Bantah Tudingan Pencemaran Lingkungan oleh Kuasa Hukum Warga Kampung Tenggek, PT. TFJ: “Sebagian Fakta Diputarbalikkan”

Pabrik PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) di Caringin, Kabupaten Bogor (stock)
Pabrik PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) di Caringin, Kabupaten Bogor (stock)

BOGOR (KM) – Menanggapi tudingan pencemaran lingkungan dari warga Kampung Tenggek, Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Manajer Industrial Relations and General Affairs (IRGA) PT. Tirta Fresindo Jaya, W. Wahtoto, menyatakan bahwa ada sebagain fakta yang “diputarbalikkan”.

“Berita itu tidak seluruhnya benar, ada sebagian fakta yang diputarbalikkan oleh kuasa hukum warga yaitu Tim Sembilan Bintang. Adapun kronologisnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor memanggil kami pihak perusahaan (Mayora dan Vitazon grup) pada hari Kamis 4 Juli 2019. Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri pengacara Sembilan Bintang dan perwakilan warga serta perwakilan perusahaan,” ungkap Wahtoto dalam rilis pers yang diterima KM Selasa 9/7.

“Turut hadir juga pihak SYS Lab atas undangan DLH Kabupaten Bogor. Sehingga di akhir pertemuan dibuatlah notulen yang disetujui semua pihak, dan semua yang hadir menandatandatangani notulen tersebut,” tambah Wahtoto.

Menurut Wahtoto, dalam isi notulen, garis besarnya adalah bahwa akan dilakukan uji petik terhadap udara ambien, uji kebisingan, uji getaran di rumah warga RT 04 bernama Solahudin, serta uji air sumur dan uji air limbah sungai. “Itu inti notulen yang disepakati bersama,” terangnya.

“Sehingga pada hari Senin 8 Juli 2019 sesuai notulen, akan dilakukan uji petik tetapi, sebelumnya warga dan kuasa hukumnya Sembilan Bintang meminta syarat mesin produksi harus jalan maksimal/mesin jalan semua. Mereka beralasan tidak percaya pada pihak perusahaan, atau warga dan pengacara takut pihak pabrik tidak menghidupkan mesin secara maksimal saat uji petik,” jelas Wahtoto.

“Maka sebelum uji petik dilakukan pihak warga dan pengacara serta DLH Kabupaten Bogor, bersama-sama akan menyaksikan operasional mesin di dalam pabrik dulu. Ternyata pihak warga dan pengacara tidak mau datang ke pabrik,” ungkapnya.

“Ya padahal kami sudah mengutus perwakilan pabrik yaitu Budi Suhardiman (koordinator satpam pabrik) untuk menjemput mereka, di rumah H. Acep Jandan, tetapi mereka menolak datang ke pabrik untuk menyaksikan mesin-mesin yang beroperasi, dengan alasan yang tidak jelas, tidak mau datang. Ditunggu hingga pukul 10.30 WIB tetap tidak datang padahal semula disepakati pukul 08.30 WIB,” tuturnya.

Lebih lanjut Wahtoto menjelaskan, jika warga dan kuasa hukum mau melakukan uji lab dilakukan sidak/mendadak, boleh kapan saja mereka melakukan uji petik secara mendadak, jika mereka sanggup mendatangkan lab nya.

“Jadi sebaiknya jika menuduh, perlu disertai bukti-bukti agar orang lain percaya, jangan hanya katanya dan katanya saja. Karena semua ada regulasinya, ada aturannya, dan jelas ada undang-undangnya. Parameter dan standarnya limbah, bising, udara, getar juga jelas diatur,” beber Wahtoto.

“Dan juga perlu diketahui juga PT Tirta Fresindo Jaya 5 kali berturut-turut mendapat peringkat BIRU yaitu periode tahun 2013-2014, tahun 2014- 2015, tahun 2015-2016, tahun 2016-2017, dan tahun 2018 -2019,” pungkasnya.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

1 Trackback / Pingback

  1. Kuasa Hukum Warga Cimande Hilir Tegaskan Uji Petik Pencemaran Lingkungan PT. TFJ Tidak Sesuai Kesepakatan – KUPAS MERDEKA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*